Puisi-Puisi Covid-19 Yoseph Yapi Taum

Puisi-Puisi Covid-19 Yoseph Yapi Taum
Yoseph Yapi Taum

INI HARI PERHITUNGAN
Yoseph Yapi Taum:

Keheningan tengah berakhir
Kekudusan gunung, jurang, dan bukit-bukit terusik
Penghuni hutan dan palung tak lagi teduh
Jiwa mereka meregang di perut penindas

Keheningan membangunkan kelam
memasang raungan dari rimba
dan gemuruh dari dasar palung
menderu-deru dan meraung-raung
di atas muka bumi

Ada yang mengintai dari tepi langit
sedang para penindas bersembunyi di kolong ranjang
Siapa yang menyinggahi kota
yang dijaganya siang dan malam!

Ini hari perhitungan
maka jarak 2020 pun luruh!

Ketika hujan mereda
dan pelangi menggoresi langit duka
Ada burung yang terpana

Yogyakarta, 29 Maret 2020


43. LANGIT TIBA-TIBA MENGUNING
Yoseph Yapi Taum:

Langit tiba-tiba menguning
Geladak kapal, nyala api, dan bau mesiu luruh.
Matahari pun padam waktu pedang masih memerah,
Raungan langit menghentikan bising kota.

Dengan baju compang camping dan mata merah saga
bulan bersisik menyebar racun ke atas bumi.
Ia duduk di ruang tamu di bawah lampu,
sedang tuan rumah bersembunyi di bawah kasur.

Perempuan-perempuan menangis di tanah asing.
Ke mana ditaburkan kembang-kembang kamboja!
Malam sangat panjang. Pasukan jenazah, arwah,
dan lolongan anjing tak henti-hentinya
membangunkan dewa-dewa
yang tertidur nyenyak di kaki langit.

Yogyakarta, 7 April 2020.

Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Menyelesaikan pendidikan SD (1976) dan SMP (1980) di Lewoleba, kemudian melanjutkan ke SMA Seminari San Dominggo, Hokeng, yang diselesaikan tahun 1984. Pernah mengikuti pendidikan pada Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI).

Pada tanggal 20 Januari 1990 menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma dengan skripsi berjudul Menyimak Dunia ‘Godlob’ Danarto: Sebuah Tinjauan Semiotik. Tanggal 20 Januari 1995 mencapai derajat Magister Humaniora di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan tesis berjudul Tradisi dan Transformasi Cerita “Wato Wele-Lia Nurat  dalam Sastra Lisan Flores Timur.  Pada 28 Januari 2013 mencapai derajat Doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. 

Pernah bekerja sebagai dosen bahasa dan sastra Indonesia pada FKIP Universitas Timor Timur, Dili (1990-1999). Saat ini menjadi dosen tetap pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (2000 – sekarang) dengan jabatan akademik Lektor Kepala.

Bukunya yang sudah terbit adalah: Kisah Wato Wele-Lia Nurat dalam Tradisi Puisi Lisan Flores Timur. Jakarta:  Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan (1997), Pengantar Teori Sastra: Strukturalisme, Poststrukturalisme, Sosiologi, dan Teori Resepsi. Ende: Nusa Indah Press (1997), dan Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya. Yogyakarta: Penerbit Lamalera (2011). Buku Sastra dan Politik: Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru (2014) ini merupakan bukunya yang keempat. Sebagian isi buku ini diambil dari disertasi doktornya di FIB UGM.

Kumpulan Puisi Ballada Arakian (2015) merupakan antologi puisinya yang pertama. Antologi ini mendapat anugerah Penghargaan Budaya 2015 dari Universitas Sanata Dharma. Antologi puisinya yang kedua berjudul Ballada Orang-orang Arfak (2019) banyak menyuarakan memoria passionis orang Papua. 

Komentar

Loading...