Breaking News

Puisi-Puisi Covid-19 Weinata Sairin

Puisi-Puisi Covid-19 Weinata Sairin
Weinata Sairin

AMPUNI DOSA KAMI,TUHAN
Weinata Sairin

Tuhan, dipagi buta seperti ini
kusebut(lagi) namaMu dengan lidah dan bibir kering
dipagi sepi seperti ini
kulafaz(terus) namaMu dalam sukacita melimpah,
dipagi khusuk seperti ini
kupuji( tiada henti) nama akbarMu

dari kejauhan kudengar sakral
lantunan ayat-ayat suci AlQuran
penanda saat sahur akan dimulai,
ah, hidup di negeri multi agama,suku,kultur dan tradisi
amat bahagia
semua umat beragama hidup mengembangkan sikap
'kesalingan':saling respek,saling apresiasi,saling topang menopang,
saling membantu,saling mengasihi,
dalam sebuah rumah besar
bernama Indonesia

umat beragama dan berkepercayaan
terhadap Tuhan yang Maha Esa,
tidak lagi berhasrat hidup dalam ghettonya
dalam keterpenjaraan ego
yang melahirkan fanatisme sempit
mereka hidup dalam ikatan
talisilaturahim kuat
semangat ukhuwah basyariah mantap
di bumi nusantara yang Tuhan anugerahkan

Tuhan
satukan jiwa raga bangsa ini
agar mereka survive dan mampu
memenangkan pertarungan,
sematkan roh persaudaraan sejati
di relung hati setiap warga bangsa
perteguh langkah mereka
dalam merengkuh keakanan berpengharapan
berkati dan kuduskan bangsa ini
dalam menenun karya
membangun dunia yang lebih berkeadaban

(Tuhan, jangan lagi ingat dosadosa kami sehingga Engkau terhalang untuk menghalau Covid 19 dari bumi kami!)

pagi ceria jatuh di depanku
lantunan ayat suci memberi daya spiritual
baru untuk menoreh sejarah di bumi
bersimbah darah dan peluh
Inilah kami Tuhan, hamba-hambaMu
kasihani dan ampuni kami!

Jakarta, Mei 2020

BERPUASA DALAM KUASA ASA
Weinata Sairin

pagi akhir pekan yang sejuk
hadir menguak hari baru
pagi hari Sabtu yang dingin
datang mengoyak sepi
di zaman pandemi begini
awal pekan, akhir pekan, hadir dingin
nyaris nir makna
orang tidak lagi bicara mau kemana
tetapi mau bikin apa?
orang tidak lagi berunding "makan apa";
tetapi dengan pedih berujar "apa makan"?
memang ada baksos,ada jaring pengaman sosial,
ada kartu prakerja, ada upaya diakonia,
ada banyak bentuk penguatan sosial
yang dilakukan pemerintah dan civil society,
namun kondisi psikologis :cemas  takut,panik,kuatir
tak bisa dihadang semuanya menambah beban hidup
yang tak jarang tanpa terlihat
mempercepat seseorang menuju lianglahat;

saudara-saudara yang menunaikan ibadah puasa
tentu menghadapi situasi yang lebih rumit
masa puasa tanpa bukber
tanpa tarawih bersama
pelarangan mudik, penutupan jalan tol
penghentian penerbangan dan
transportasi laut
tidak mudah untuk memahaminya
walau itu semua dilakukan
atas nama "memutus mata rantai penularan Corona".

kita semua warga bangsa harus solid
dan bersatu melawan persebaran tersebarnya( dan bukan penyebaran!) Corona
korban sudah banyak yang jatuh  sebagai umat beragama kita juga berkurban:
memodifikasi pola beragama, bahkan secara radikal kita lakukan

kita doakan agar ibadah puasa
ibadah agama-agama dan semua
aktivitas keagamaan yang bentuknya telah disesuaikan
dengan protokol dapat berjalan baik
sebagai umat beragama kita yakin
kita bisa memenangkan pertarungan ini
Tuhan dengan kuasaNya
sesuai dengan kairosNya
sejalan dengan chronos, time line yang di prediksi para ahli
Corona akan ditaklukkan
Covid 19 akan menyerah kalah

pagi cerah rekah di bumi terindah
mari sambut dengan sukacita
Tuhan, kuatkan saudara-saudara kami
yang tengah berpuasa
Tuhan, selamatkan dan pulihkan NKRI!

Jakarta, Mei 2020

Weinata Sairin, lahir di Jakarta, 23 Agustus 1948 pernah menjadi anggota Dewan Film Nasional, 1991-1993; 1993-1995, anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, 1995-1997, anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1998-2003, anggota Penyantun Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, 1998-2003. Telah mempublikasikan lebih dari 50 judul buku hasil karyanya.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...