Puisi-Puisi Covid-19 Kinanthi Anggraini

Puisi-Puisi Covid-19 Kinanthi Anggraini
Kinanthi Anggraini

RUANG KACA
Kinanthi Anggraini:

pada ujung detak jam dinding
seketika kurasakan sendu dan hening
sesudut pipi telah basah pada senja
dingin namun membara, oleh air mata

sepasang mata itu tinggal di depan doa
dengan tali erat sebuah mukena
desah napas tertinggal tipis-tipis
tertunduk jatuh, sendu diam, lalu menangis

sementara,
hujan dari jendela bertanya rahasia
dengan penutup muka, ia menangkal
petaka
berkali-kali ia bertanya mengapa
akan sebuah derita, yang hinggap tanpa
sengaja

seperti biji di sudut sempit
napas di dada, kurasa semakin sempit
atau serupa seorang anak yang lupa
dijemput
yang sibuk mengulur-ulur rasa takut
namun jawaban langit berangsur tenggelam
dalam mata renung, yang takut temaram
di antara buket bunga, buah, dan doa-doa
aku merayu Tuhan agar kembali bersama

memaafkan kekufuran dan setumpuk dosa
juga mengemis kesempatan,
untuk memperbaikinya

dan benar, langit masih begitu lengang
hanya gerimis yang setia tetap datang
pada ruang isolasi, merebahkan tubuh
dalam ikhtiar dan usaha, untuk kata
sembuh.

Solo, Mei 2020
Puisi ini saya dedikasikan untuk korban yang terjangkit virus korona. Semoga selalu bersemangat dan optimis untuk sembuh.

GERIMIS BUNGA ASAM JAWA
DI TEPI RUMAH KAYU JATI
Kinanthi Anggraini:

aku masih membaui tanah itu
tanah yang beberapa belas tahun masih
mengendap. pada hujan, kenangan
dan ingatan masa kecil seharum kencur
dalam bau bunga kopi dan helai kaca piring

aku juga mengumpulkan derik serangga
dan sayap kupu-kupu. masih kusimpan
dengan baik di sebelah bilik jantungku
ketika itu rumput teki masih menjadi raja
kecil. bersama kerajaan bunga amarilis
yang bangun dari tumpukan dormansi
ia begitu gigih mengumpulkan kelopak
untuk bersaing kelak dengan matahari
layak dikatakan sebuah penantian panjang
serupa mimpiku untuk bergegas pulang

sementara di sudut sana, berdiri pohon
asam jawa. rindang dengan tunas juga
bakal bunga
berwarna hijau pupus, kuning, dan merah
jambu. beratus kelopak menjadi gerimis
turun serupa salju
kala itu aku duduk diatas akar
di antara bulu embun, rambut penuh bunga

bisakah aku kembali,
menggulung rindu di antara tanah basah
dalam senyummu. pada rumah tinggal
kayu jati yang ranum. pada jendela yang
lupa ditutup
dan dipan yang setia mengusap peluh

bisakah aku kembali,
menyeka waktu dan bergegas pergi
melampaui portal pagar dan duri
menemui kabut dan air telaga. berkencan
dengan serbuk daun, dan menyeduh jahe
bersamanya

bisakah aku temui,
tungku batu di sebuah dapur. bersama
perempuan bermata surga, meja makan,
lelaki kecil dan sepiring nasi
dalam sebuah kotak kayu, telanjur rajin
kukemasi sebuah rindu
bersama; kecambah biji, bunga kopi
dalam seikat rumput teki
juga embun, kabut, senja, dan air telaga

terasa mengendap dan semakin menuntut
serupa rindu yang tak pernah usai.

Solo, Mei 2020

PADAMU BINTANG TSURAYYA
Kinanthi Anggraini:

sesaat,
aku mengistirahatkan langkahku
diantara bunga padi yang menghangat
untuk berbagi sepotong ingatan kisah
tentang sesak yang semakin resah

aku menghela napas sejenak,
merasakan rindu yang sedang beranak pinak
diantara udara yang sering kuraba
atas ketakutan, cemas dan rasa curiga
teruntuk wakah-wajah yang telah tertutup
oleh selembar kain sebatas mulut

padamu Tsurayya,
apakah engkau yang kupandang kiranya
bisakah aku menitipkan sepucuk haru
atas hati yang telah berbalut sendu
atas teh hangat yang telah berkerak
oleh doa dan tangis terisak-isak

maka padamu Tsurayya,
kami menitipkan sebuah janji
oleh alam yang tak lagi tersakiti
kiranya ia sedang menyembuhkan diri
oleh kami, penyebab lara hati

sungguh sebuah rasa kini benar diuji
saat pertemuan menjadi terlarang
dan dibatasi
ketika kesungguhan menuntut pembuktian
melepaskan rasa rindu, tanpa pertemuan.

Solo, Mei 2020

PINTU PULANG
Kinanthi Anggraini:

ku sedang memejamkan mata
dan memulai sebuah keajaiban
memesan pintu pada tukang kusen
disebarang jalan perempatan
dan memasangnya, disamping ruang
makan

ibu,
apa kabarmu
menu apa yang kau sajikan untukku
diatas kursi aku menyandarkan badan
sembari menunggu jawaban, juga sajian

aku telah tiba di rumah asalku dengan mudah
dari rumah tinggal, yang sedang berbenah
aku melewati mata-mata tanpa sembunyi
cukup membuka pintu itu, dan mengucap
kemana aku pergi

dan tak perlu aku menumpang punggung
daun-daun
yang dibawa angin naik dan turun
tak perlu jua kutempuh lama perjalanan
telah tercukupkan oleh sebuah ucapan

bu, aku telah berhasil melewati itu
peraturan dan sanggahan untuk kita bertemu
melewati portal dan pemeriksaan
kewajiban karantina dan segala aturan

bu, apakah boleh kupinjam pangkuanmu
untuk meletakkan seluruh rinduku
diantara pohon mangga yang rindang
rasa ini telah sampai untuk pulang

Tapi ibu, apakah ini mimpi
yang sengaja berbaik hati hari ini
menepis gumpalan darah kerinduan
atas rindu, yang tak mungkin tersampaikan.

Solo, Mei 2020

Kinanthi Anggraini, Lahir di Magetan, 17 Januari 1989. Karya puisinya pernah dimuat di 61 media massa, antara lain Horison, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Basis, Sinar Harapan, Riau Pos, Banjarmasin Post, Lampung Pos, Solopos, Suara Karya dan  Bali Post.

Prestasi lain yang diraihnya juara 1 Puisi Terbaik pilihan Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Mata Elang Biru (Pustaka Puitika, 2014) dan Buku  yang berjudul Pelajaran Kincir Angin (Buku Katta, 2017).

Puisinya juga termaktub dalam antologi Negeri Langit, Berbagi Dzikir (antologi puisi muslimah) dan belasan buku antologi bersama. Termasuk dalam antologi puisi pilihan media massa yaitu; Nun (kumpulan puisi pilihan Indopos 2015), Ironi bagi Para Perenang (kumpulan puisi pilihan Suara NTB 2015), Bendera Putih untuk Tuhan dan  Pelabuhan merah ( kumpulan puisi pilhan Riau pos 2014 dan 2015)

Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini pernah  menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011 dan meraih Juara II pada Lomba Tutorial Hijab yang diadakan oleh Koran Bogor 2015.

Komentar

Loading...