Puisi-Puisi Covid-19 Akhmad Sekhu

Puisi-Puisi Covid-19 Akhmad Sekhu
Akhamd Sekhu

Pelajaran untuk Selalu Cuci Tangan
Akhmad Sekhu:

Tak biasanya kita selalu cuci tangan, apalagi malam hari
Tapi ini harus kita lakukan demi untuk memerangi corona
Virus yang super lembut itu tak bisa kita hadapi terang-terangan
Tubuh bersihlah yang mampu membuat corona luluh melemah

Corona membuat kita sesama saudara saling curiga, bahkan perang
Urat syaraf yang membuat tensi kita naik tinggi hingga kram otak
Antar kita juga dipaksa harus jaga jarak, meski kita sudah akrab
Bahkan kita harus selalu pakai masker, sampai kita jadi susah nafas

Tak ada lagi udara bersih, yang ada kematian mengancam diam-diam
Masa darurat ditetapkan, seluruh warga dunia tak berdaya apa-apa
Sungguh semua aktifitas dibuat lumpuh tak ada yang bisa dilakukan

Tak biasanya kita selalu cuci tangan, apalagi malam hari
Sudah tak bisa dibiarkan kematian makin mengancam diam-diam
Jalan satu-satunya kita memang harus melawan corona
Dengan kita selalu membersihkan diri dari kotoran hakiki

Tempat ibadah kini sudah tak lagi jadi tempat doa-doa dipanjatkan
Pusat keramaian ditutup, berbagai kegiatan ditiadakan, sekolah diliburkan
Semua orang harus mau mengurung diri dipaksa untuk betah di rumah
Betapa kita semua dibuat begitu sangat ketar-ketir penuh kekhawatiran

Tak ada lagi kenyamanan, kematian benar-benar mengancam diam-diam
Mari kita seluruh warga dunia untuk selalu cuci tangan setiap waktu
Saatnya bersatu membersihkan diri kita untuk bersama melawan corona

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 20 Maret 2020


Memo Kecemasan untuk Ronggowarsito
Akhmad Sekhu:

Berkas-berkas kertas kini hanya bertuliskan cemas
Anak-anak sudah tak lagi bebas pergi ke sekolah
Tak ada lagi belajar, semua tenggelam permainan layar
Curahan hati orangtua didedahkan pada media sosial
Tak ada lagi komunikasi, semua asyik sibuk sendiri
Jurang-jurang kesenjangan semakin lebar menganga
Memperlihatkan kengerian jiwa penuh keterasingan

Rumah-rumah menutup pintu-jendela begitu gelisah
Tak ada lagi kehangatan keluarga, semua sangat resah
Memandang masa depan makin muram penuh tanda tanya
Tak ada lagi tegur sapa, semua hanya bicara di dunia maya
Begitu menutup layar baru terasa kehidupan sangat hambar

Inikah zaman kalabendu yang telah kau ramalkan sejak dulu
Begitu terasa sangat lara betapa kesengsaraannya tiada tara
Zaman yang tampak semakin edan dengan tindak kejahatan
Perilaku di luar nalar sudah menjadi peristiwa kelaziman
Perang urat syaraf sudah semakin membuat kram otak
Tak ada lagi kemanusiaan, semua melebihi ekspetasi kasihan
Kita harus bagaimana lagi untuk menghadapi cuaca buruk
Tak ada lagi ketenangan, semua bencana di luar prediksi
Keadaan sudah sedemikian parah untuk dinamakan lumrah

Pengadegan, Pancoran,Jakartra Selatan, 18 Maret 2020

Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Menulis puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film, telaah tentang televisi di berbagai media massa daerah maupun pusat. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999). Puisinya dapat disimak di berbagai buku antologi komunal. Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Mencari Indonesiaku (manuskrip, siap terbit). Kumpulan cerpennya: Jus Cinta Campur Cemburu (e-book, 2014). Cerbungnya ‘Dibuai Dimanjakan Kenangan’ (2005). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018).

Baca juga: Puisi-Puisi Covid19 D. Kemalawati

Baca juga : Puisi-Puisi Covid-19 Fanny J Poyk

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 Fatin Hamama 

Baca juga : Puisi-Puisi Covid-19 Mezra E. Pellondou

Baca juga: Cerpen Covid-19 Fanny J Poyk

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 (2) Amri M Ali

Komentar

Loading...