Puisi-Puisi Covid-19 Ahmad Gaus

Puisi-Puisi Covid-19 Ahmad Gaus
Ahmad Gaus

Elegi Bulan April
(Catatan kelam wabah Corona)

Ahmad Gaus:

Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil
Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek
Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram
Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,
kekasih, dan sahabat mereka
Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit
begitu lengang, begitu tiada
Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui

Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup
menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian
Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja
kita mengingkarinya dengan keramaian
dan bunyi-bunyian

Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara
kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat
Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci
Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan
oleh wabah ini ke pemakaman
Kita gelisah membayangkannya,
karena kita adalah tawanan paling lemah
dari ketidakpastian.

Ciputat, 1 April 2020.


CORONA (Dewi Kahyangan)

Ahmad Gaus:

Begitu banyak cerita tentang dirinya
Tapi dia tetaplah misteri
Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka
Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka
Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia

Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang
datang berselendang bianglala
Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya
dari timur ke barat
seperti menantang manusia

Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan
dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara
dalam pikiran manusia
menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka

Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian
kerlip bintang hilang dari pandangan
sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan
hanya sosok tak kasat mata yang terbayang
seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan
berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’

Ciputat, 1 April 2020.


Ahmad Gaus, seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah sastra dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).

Baca juga: Puisi-Puisi Covid19 D. Kemalawati

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 Fatin Hamama

Baca juga: Puisi Covid-19 Mahwi Air Tawar

Baca juga: Surat-surat Sastra Covid-19: Bill Gates

Iklan Covid-19 Aceh Timur

Komentar

Loading...