Puisi-Puisi Budi Arianto

Puisi-Puisi Budi Arianto
Budi Arianto

MERINDUKAN HUJAN
Budi Arianto:

Aku merindukan hujan
sebab ia mengantar kenangan
pada ibu menjelang lebaran
termangu menatap bulir-bulir berjatuhan
menyatu dalam sembab matanya

Aku merindukan hujan
sebab ibu akan mengusap kepalaku
juga kepala adik-adikku
sambil menitikkan air
dari sudut mata
yang aku kira tempias hujan

Aku merindukan hujan
bergegas ibu mengajak bermain hujan
sejenak aku lupa pada baju lebaran
yang belum terbeli walau sebiji
sebab bapak banyak mengurung diri
katanya kerja sudah tak pasti
di musim seperti ini

Aku merindukan hujan
agar bila lebaran tiba
bisa bermain hujan bersama ibu
tanpa perlu baju baru

Banda Aceh, Mei 2020


MENUJU CAHAYA
Budi Arianto:

Sunyi dalam senyap tangismu
adalah rahasia rindu membatu
semacam prasasti pada dinding
mengukir segala cinta kasih
bagai cahaya bulan
di penghujung ramadhan

Sunyi dalam senyap tangismu
adalah lintasan harap
menanti bulan datang kembali
menyinari lorong-lorong gelap
sepanjang perjalanan
menuju cahaya

Banda Aceh, Mei 2020

KISAH PEMATANG SAWAH
Budi Arianto:

Pada angin pagi yang lemah
menelusuri pematang sawah
kering dan tanah membongkah
tak ada lagi padi menguning
atau gemericik air bening
apalagi cericit burung
selain hamparan gersang
dan nasib yang sungsang

Adalah kenyataan waktu
mengantar pada kelu
kelak anak-anak hanya tahu dari buku
pada catatan sejarah
para petani hilang gairah
tersebab sawah
menjelma rumah-rumah
menjelma gedung-gedung

Dari kejauhan di ujung sisa pematang
seorang bersenandung tentang rindu
mengusir burung
yang enggan berbagi
saat panen yang dinanti
tinggal menjadi mimpi

Banda Aceh, Mei 2020


Budi Arianto, menetap di Ceurih, Ulee Kareng, Banda Aceh. Menyelesaikan studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta. Selain giat di dunia sastra juga tercatat sebagai staf pengajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah Banda Aceh, mengampu matakuliah bidang sastra dan drama.

Komentar

Loading...