Puisi-puisi Budi Arianto

Puisi-puisi Budi Arianto
Budi Arianto. Ist

PROSESI KEPERGIAN
Budi Arianto

Hanya jendela termangu di bibir kamar
menatap bertangkai daun sirih luruh
sebelum sempat matahari menyentuh
selain angin berhembus lusuh
mengantar pada tanah basah

Subuh, senja, bahkan malam tak mampu menawar
aku menghitung angka-angka tertanggal
bergegas lepas lembar-lembar tak sangkal
sebab ini perjanjian kekal
saat putik masih menggumpal

Barangkali kau juga sedang menanti
peristiwa-peristiwa penuh rahasia
atau mungkin rindu bahkan haru
tentang prosesi kepergian
menuju sebuah kenangan

Banda Aceh, April 2020


PUSARAN RINDU
Budi Arianto

Menapaki jalanan lengang
adalah kenangan luka
bunga-bunga mekar dalam sunyi
semacam tangis zaman penuh misteri
kota-kota bahkan pelosok negeri
sepi birahi

Menapaki jalanan lengang
adalah kecemasan para petualang
kehilangan jejak ketika pulang
dari pengembaraan panjang
menggendong pusaran rindu
yang rebah di tengah melalau
mengekalkan galau

Banda Aceh, April 2020


MEMBACA NAMAMU PADA SEBUAH BUKU
Budi Arianto

Seketika gerimis kembali luruh
menggugurkan daun-daun di halaman
buku yang belum selesai kubaca
berburu dengan waktu yang menyelinap
diantara ruas-ruas ranjang
membaringkan hati yang gundah
seperti pedih yang menjerat
kenangan pada suatu saat
berdiri di beranda menatap lekat kabut
sambil memanggil namamu
berulang kali
berulang kali
hingga gerimis kembali luruh
menjelma doa dan ratapan
daun-daun berguguran
selembar halaman buku terkoyak
menghempas kata demi kata
hingga sebuah sajak lenyap
menyeret namamu
dan aku kembali terpaku
sambil menyebut namamu
berulang kali
berulang kali
sampai sunyi

(sebuah buku masih teronggok di pojok
kamar tak tersentuh)

Banda Aceh, Juni 2020


SENJA DI PANTAI ALUE NAGA*
Budi Arianto

Riuh ombak bergulung menghapus jejak
kenangan pada suatu musim
kala senja belum sempurna benar
kau gelisah menatap laut
menatap rahasia pada kedalaman
menatap matahari di celah cemara
menatap camar terbang menepi
menatap bayang sendiri
yang kian berlari

Riuh ombak bergulung menuju sepi
seperti gelombang kehilangan geliat
seperti angin terperangkap dingin
seperti tatap kian pengap
seperti kota tiba-tiba senyap

Riuh ombak bergulung menuju kelam
kau semakin resah
tertatih meninggalkan lorong ingatan
sejarah terpancang
tiang-tiang jembatan tersisa
atau batu-batu beku oleh waktu
pada senja yang kian muram

Riuh ombak bergulung menjelang malam
menyisakan kerlip tongkang nelayan
kau diam membisu
menyulam kenangan pilu
ombak raya yang bertahun lalu
menghempas rindu
menabur kelu
di sini
di pantai Alue Naga

Banda Aceh, 23 Januari 2020

*Alue Naga: nama sebuah Desa di Pesisir Pantai, Banda Aceh

Budi Arianto menetap di Ceurih, Ulee Kareng, Banda Aceh.  Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Antologi Bersama Aceh Dalam Puisi (2004).   Antologi Pasie Karam, D. Kemalawati, Fikar W.Eda, dan Mustafa Ismail, (ed) (2016), Antologi Sastra Hijau (2016).Menyelesaikan studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta.

Selain giat di dunia sastra juga tercatat sebagai staf pengajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah Banda Aceh, mengampu matakuliah bidang sastra dan drama.

Komentar

Loading...