Puisi-Puisi Covid19 D. Kemalawati

Puisi-Puisi Covid19 D. Kemalawati
D Kemalawati

Lockdown Covid 19
D. Kemalawati:

Jika badai debu mengepung rumahmu
Apakah kau biarkan pintu dan jendela terbuka
Kau dan keluarga tanpa usaha
Tanpa pelindung muka
Membiarkan ia menyerang mata
Kau hirup tanpa sengaja
Yang bersamanya ia merajalela
Mendekam di paru-paru kita
Lalu maut berpesta pora memainkan
Nyawa kita

Jika badai yang gemuruh dari kejauhan
Telah terdengar begitu mencekam
Lalu kau dan orang-orang sekampung
Tak menghiraukan keadaan, karena merasa disayang Tuhan
Bebas berkeliaran, mendatangi keramaian
Menikmati gelas-gelas kopi di warung kesayangan
Membiarkan waktu bebas berjalan
Kau kebal seolah imun dalam genggaman
Mudah dikendalikan

Bersiaplah saudaraku
Kita tak tahu kapan badai itu benar-benar tiba
Suaranya sudah bergemuruh berbulan-bulan lamanya
Bukan menyusup saja ke telinga kita
Tetapi sudah begitu keras suaranya
Akankah kita tak bergeming menutup mata
Membiarkan pintu rumah kita yang rapuh
Terbuka begitu saja
Rumah dengan dapur seadanya
Kita biarkan terkubur
Dengan debu bencana?

Mari saudaraku, mari gunakan telinga kita
Dengarkan suara badai itu
Liukan anginnya mengandung hama
Belum ada penangkalnya
Tak cukup sekedar menutup tirai jendela
Kita harus mengunci pintu dan jendela
Ini bukan badai biasa
Yang sekedar meluruhkan ranting tua
Tapi ia akan menjadikan beranda rumah kita
Sepi tanpa cahaya, tanpa canda tawa keluarga kita
Setelah ia menjauh selamanya

Maka tutuplah pintu dan jendela rumah kita
Hanya untuk sementara
Sementara badai debu bencana
Virus corona berpesta ria
Sementara maut memperlihatkan
Muka bengisnya di mana-mana
Di seluruh jagat raya
Siapkan pelindung muka kita
Pelindung jiwa kita dengan ridha-Nya

Banda Aceh, 21 Maret 2020.

Covid 19
D. Kemalawati:

Covid 19 adalah badai
Adalah bencana yang terurai
Ia tidak mengintai
Tidak juga menilai negara miskin atau kaya
Pejabat di menara gading atau rakyat jelata yang papa
Ia badai tak bermata, tak bersuara, tak memberi tanda-tanda
Tapi menyerang imun jiwa siapa saja
Yang seperti karang di tengah samudera
Seperti pohonan purba
Mengakar ke dalam sukma

Ia lah corona
Badai yang tak mengenal cuaca
Menyerang semesta raya
Seperti sifat asal mulanya
Hanya sementara
Tetapi daun luruh telah merata di setiap negeri
Ranting patah merintih nyeri
Pohon-pohon tumbang menutup bumi
Ia badai yang maha ngeri
Maut yang menari-nari

Ia lah virus 19
Badai bencana yang tak menetap lama
Matahari akan menghalaunya
Bulan akan datang dengan sinar lembutnya
Bunga-bunga akan bermekaran bersama embun di setiap taman
Yang luruh dan tumbang kembali
Kepada Tuhan
Kepada Pemilik semesta tuan

Banda Aceh, 20 Maret 2020.

D Kemalawati, lahir di Aceh pada 2 April 1965, sarjana pendidikan Matematika Universitas Syiah Kuala Aceh.

Sejumlah penghargaan sastra diterima D Kemalawati seperti, penghargaan Sastra Bagi Guru dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan  RI pada tahun 2011. Sebelumnya pada tahun 2007 mendapat Anugerah Sastra dari Pemerintah Aceh dan penghargaan budaya dari Kota Banda Aceh serta Anugerah Budaya Syah Alam dari Pemerintah Aceh pada pada PKA ke-7 tahun 2018.

Puisi Esainya berjudul Setelah Salju Berguguran di Helsinki dalam proses pembuatan film layar lebar.  Dan di tahun 2019 ini, D Kemalawati meraih dua juara lomba menulis puisi tingkat ASEAN, masing-masing pemenang Lomba Menulis Puisi Esai dan pemenang utama Lomba Menulis Puisi Islam Mahrajan di Kinabalu, Malaysia.

Baca juga: Puisi Covid19 Amri M Ali 

Baca Juga: Puisi-Puisi Covid-19 Fatin Hamama

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 Rita Jassin

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 Fanny J Poyk 

Baca juga: Puisi-Puisi Covid-19 Arif W

Baca juga: Surat-surat Sastra Covid-19: Bill Gates

iklan flayer Gub3

Komentar

Loading...