Puasa dan Puisi

Puasa dan Puisi
Ilustrasi: "Praying" karya Mihaela Ionescu

Oleh: Matdon

Ada 121 puisi penyair Joko Pinurbo (Jokpin) dalam buku kumpulan puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi”. Kalimat itu tentu mengingatkan orang pada “selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, entah apa maksud Jokpin menulis sejumlah puisi sederhana tersebut dalam bukunya, yang ia tulis dalam rentang waku 1989-2012 ini, meski hanya satu judul puisi saja yang judulnya “Puasa”

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan keringat yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
(2007)

Judul buku ini seakan menegaskan pada kita bahwa menulis puisi juga termasuk ibadah ghoer mahdoh. Sebab saya berkeyakinan bahwa agar kehidupan bathinmu bisa bepuisi, maka berpuasalah. Kenapa? Karena orang –orang beriman diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, agar manusia mencapai kehidupan memuisi.

Fahamilah. kehidupan puisi adalah kehidupan puasa. Karena puisi selalu dimaknai sebagai rasa atau suasana bathin yang tercipta dalam bentuk kata-kata. Seorang  Penyair  akan berupaya mengekstrak batinnya menjadi serat halus kata-kata, sehingga pembaca dapat merasakan dan terbawa suasana apa yang ada di batin penyair, yang disebut-sebut oleh Acep Zamzam Noor sebagai “Berdiri Bulu Kuduk”.

Di dalam Quran Surat Albaqoroh ayat 183 disbutkan bahwa manfaat orang berpuasa itu Laallakum Tattaqun, artinya agar-orang yang berpuasa menjadi pribadi yang bertakwa, sementara makna lain dari Laallaku Tattaqun bisa agar hati kita lebih bersih, agar jiwa kita menjadi orang yang bageur, cageur tur sabar, agar kita menjadi orang yang tidak suka bertengkar, agar kita menerima kekalahan, agar kepala kita menjadi berpikir jernih, agar apa yang kita miliki disyukuri, agar hati jiwa dan kepala kita bersih seperti puisi.

Manusia akan bertemu dengan hal-hal yang bersipat transendental. Puasa dijalani sangat gampang, tapi untuk menghindari yang membatalkan pahala puasa banyak yang tidak bisa dihindari. Artinya untuk memenuhi jiwa yang memuisi itu sulit, ia harus menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar. Kita bisa terbebas dan kuat dari makan minum siang hari tapi nulis status di FB selalu mengundang orang untuk berbuat dosa, memposting saat buka tanpa memperhatikan orang yang tak mampu berbuka.

 Bikin status yang membuat orang polemik politik sementara ia sendiri tdak tahu menahu soal status politik. Atau semua tindakan kita yang mengarah pada kelakuan yang tak senonoh; menghina manusia, ngomongkeun batur, tidak baik dengan tetangga,  warung atau tukang sayur menjadi muara gosip, sinetron ditonton lebih lama ketimbang ngaji Quran. Itu puasa yang tidak memuisi.

Sementara puasa merupakan penyembahan khusus hanya untuk Allah. Puasa adalah suasana batin dan rasa yang didalamnya ada karsa yang ditujukan khusus hanya untuk sang pencipta. Sama dengan puisi, adalah suasana bathin yang di dalamnya ada karsa untuk Tuhan. Orang-orang sebelum Nabi Muhammad selalu puasa, dengan berbagai tujuan tentunya. Hewan seperti ayam, Gajah, Harimau, Ikan, Ular tentu  saja melaksanakan puasa.

Membaca puisi harus dengan rasa dan hati yang bersih, jika tidak meskipun puisi tersebut tersusun dengan kata-kata indah, dan rima yang apik, puisi tersebut akan sulit untuk dipahami dan masuk ke dalam rasa. Dunia puisi adalah dunia batin dan suasana rasa, begitu pula dengan puasa.

Nilai moral dan kejujuran diuji di bulan Ramadhan, pendidikan karakter juga. Fahamilah kejujuran merupakan satu mata rantai paling berharga untuk puasa dan puisi, jika tidak maka puasa akan menjadi percuma. Keringnya nilai nilai sakral dan kejujuran  harus ditananam di negeri Indonesia agar tanaman akhlak bisa terwujud, tidak saling adu domba dan saling menjatuhkan.

Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang sangat puitis, maka  manusia harus senantiasa menjungjung nilai-nilai estetik dan mengajarkan manusia itu sendiri agar mencapai puncak kebenaran jati dirinya. Manusia itu mameilihara rasa religiusitas yang tinggi, maka makhluk beragama harus memiliki sisi transendensi profetikisme dalam dirinya, mampu menuntun arah dirinya agar mencapai puncak religiusitasnya.

Makanya puasa itu menahan segala nafsu amarah yang menggelora sementara puisi juga untuk menahan rasa egois yang berlebihan.

Di dalam puisi ada struktur batin seperti tema, rasa, irama, dan isi, di dalam puasa ada syarat rukun dan itu adalah tema, rasa, irama dan isi. Dalam puisi ada  tipografi  diksi, imaji, bahasa figuratif, rima, dalam puasa juga ada tantangan seperti tipograpi, diksi dan bahasa foguratif karfena sekali lagi puasa merupakan ibadah transendental, sebuah jalan yang harus ditempuh untuk lebih dekat dengan Sang pencipta, demi sebuah pencapaian yang diinginkan.

Ramadhan

Harus diakui Ramadhan sering digunakan untuk “nyumputkeun” kepentingan politik. Sholat tarawih dan kegiatan buan Ramadhan dimanfaatkan untuk kampanye atas kepemimpinan dirinya. Memanfaatkan ibadah untuk kepentingan politik sungguh bukanlah sebagai pemimpin yang beriman dan kita harus menjauhi pemimpin seperti itu.

Sudah pasti, Ramadhan adalah kesempatan  baik untuk mengembalikan citra buruk itu, mengucapkan selamat lewat spanduk partai politik itu citra yang buruk, artis memakai baju islami hanya di bulan Ramadhan itu adalah citra buruk, dan banyak lagi citra buruk lainya.  Ramadhan bukanlah pencitraan apalagi gimick berlebihan, karena rakyat tak perlu gimick, tapi butuh pencerahan, butuh pendidikan, butuh kebahagiaan. Kebahagiaan rakyat tidak dibangun dengan hanya taman indah, tapi dengan keberanian seorang pemimpin ketika bersalah meminta maaf untuk kemudian kembali menata kepemimpinannya agar lebih bagus. Juga dengan merealisasikan janji-janji politik saat kampanye, pelan tapi pasti.

Ramadhan baru saja beberapa hari, pembinaan spiritual selama Ramadhan harus  dijadikan sebagai alat interospeksi bagi kelemahan diri sebagai manusia, sebagaimana puisi, merupakan wadah kesadaran kolektif manusia. Apalagi manusia yang menjadi pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu melewati Ramadhan dengan baik ialah pemimpin yang bertanggungjawab, bicara yang baik dan mau dikritik. Tanpa kritik, apalah artinya seorang pemimpin, kalau tak mau dikiritik jangan jadi pemimpin. Kritik berarti nyaah, jangan dianggap kritik rakyat terhadap pemimpinnya sebagai sebuah caci maki. Cag!

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung 

Komentar

Loading...