Posisi Kita

Posisi Kita
Ilustrasi.

MENGUTIP pedapat Al-Kholil bin Ahmad, Imam Ghazali membagi manusia ke dalam empat golongan, yakni  Pertama, manusia yang berilmu dan benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah orang berilmu, kemudian mengamalkan terhadap ilmu yang dimilikinya, maka manusia seperti ini berhak mendapat gelar ‘alim, dan berhak diikuti serta dijadikan teladan.

Kedua, orang yang berilmu namun tak menyadari bahwa dirinya adalah orang berilmu, sehingga ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ilmu yang dimilikinya, maka orang seperti ini laksana orang yang tengah tertidur pulas. Oleh karena itu, bangunkanlah oleh kalian agar ia terjaga kembali.

Ketiga, orang yang tidak berilmu dan ia menyadari bahwa dirinya tidak berilmu, maka kewajiban kalian adalah memberi petunjuk kepada orang tersebut. Kelompok ketiga ini merupakan objek dakwah, lebih berhak menjadi peserta didik.

Keempat, orang yang tidak berilmu, namun ia tidak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki ilmu, maka ia adalah orang yang jahil (bodoh), maka berpalinglah kalian dari orang tersebut (Mukasyafatul Qulub : 253).

Pada suatu kesempatan, Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.  berkata, “Aku mengkhawatirkan akan datangnya suatu zaman yang perputaran kehidupan pada zaman tersebut dapat menggilas keimanan. Pada zaman tersebut, keimanan hanya jadi bahan diskusi dan kajian, namun hampa dari perbuatan nyata. Banyak orang baik namun tidak berakal, dan banyak orang berakal namun tak beriman.

Ada orang yang piawai berbicara masalah-masalah agama, namun hatinya lalai dari mengingat Allah. Ada orang yang khusyuk dalam beribadah, namun ia sibuk dalam kesendirian, tak memperdulikan nasib orang-orang di sekitarnya.  Ada pula orang yang tekun dalam beribadah sembari dihiasi dengan kesombongan, merasa dirinya yang paling baik dan paling dekat kepada Allah. Ada juga ahli maksiat yang tawaduk bagaikan seorang sufi, namun ada juga orang yang banyak tertawa sehingga hatinya berkarat.

Di lain pihak, ada juga orang yang menangis karena kufur nikmat. Ada orang yang murah senyum, tapi hatinya senantiasa mengumpat, dan ada pula orang yang berhati tulus tetapi berwajah cemberut.

Ada kelompok orang yang berkata penuh bijak, tetapi tidak memberi teladan. Aku juga mengkhawatirkan, pada zaman tersebut para wanita nakal dan orang-orang bermoral bejad menjadi pujaan khalayak, orang berilmu tidak paham terhadap ilmunya, orang berilmu senang melanggar hukum dan aturan, orang pintar membodohi khalayak, orang bodoh yang tak tahu diri dan tak mampu menahan diri,  orang beragama tak berakhlak, dan atheis yang  berakhlak baik.

Mari kita renungkan paparan Imam Ghazali dan Sayidina Ali bin Thalib tersebut, dimanakah posisi kita pada saat ini?  Di kelompok manakah diri kita berada pada saat ini?

Kehidupan kita akan selamat manakala kita benar-benar menempati posisi yang tepat sebagai hamba Allah. Posisi yang tepat bagi kita sebagai hamba agar selamat di dunia dan akhirat adalah memegang teguh aturan Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, kehidupan kita akan binasa di dunia dan akhirat manakala dalam menjalani kehidupan ini kita berada pada posisi yang tidak tepat, yakni melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. 

“Pegang teguhlah aturan agama Allah! Pasti kau akan hidup bahagia”. Demikian sabda Rasulullah saw.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,  maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (Q. S. Thaha : 124). ***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang  Garut Jawa Barat

Komentar

Loading...