Politik Kehilangan Pesona Ditengah Pandemi

Politik Kehilangan Pesona Ditengah Pandemi
Ilustrasi

Oleh: Lalik

BICARA soal politik bukanlah hal yang baru kita dengar, dari dulu sampai sekarang politik menjadi suatu fenomena yang setiap saat diperbincangkan. Namun, versi untuk memahami politik itu beragam. Banyak yang memberikan definisi sesuai dengan cara pandangnya masing-masing. Politik itu kegiatan yang menyangkut proses menentukan tujuan dan bagaimana cara mencapai tujuan itu. Mengutip ungkapan Aristoles, selama manusia menjadi mahluk sosial (zoon politicon), selama itu pula ditemukan politik. Hal ini berarti dalam kehidupan bersama, manusia memiliki hubungan yang khusus diwarnai dengan adanya aturan yang mengatur.

Pemilu bukan saja menunjukkan sejauh mana pemilih memiliki kedaulatan dalam menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk di parlemen, tetapi juga dapat menentukan masa depan politik selama lima tahun. Arti penting pemilu sebagai salah satu instrumen bagi pemilih tersebut ditentukan sejauhmana penyelenggaraannya mengikuti prinsip-prinsip pemilu yang demokratis dan berkualitas. Kualitas sebuah pemilu sekurang-kurangnya ditentukan oleh apakah penyelenggaraan pemilu berlangsung secara jujur, adil, bebas, rahasia, damai, dan demokratis.

Selain itu, apakah hak-hak politik pemilih dijaga dan diwadahi dalam penyelenggaraan pemilu. Dalam konteks itu pula, apakah pemilu memberi kemudahan bagi pemilih dan warga negara yang telah memiliki hak pilih untuk menggunakan suaranya. Oleh karena itu, kualitas sebuah pemilu salah satunya dipengaruhi oleh sejauh mana para penyelenggara pemilu dapat memberikan jaminan bahwa pemilu berlangsung secara aman, damai, jujur, adil, bebas, rahasia dan demokratis. Jaminan itu menjadi penting karena pada dasarnya arah penyelenggaraan pemilu dapat mengayomi dan mewadahi semua hak-hak politik warga negara dan pemilih sesuai dengan prinsip kesetaraan, one person, one vote, one value,  (dan prinsip-prinsip keadilan politik.

Selain kekuatan kapital, substansi penting dalam politik dan pemilu adalah dramatisasi wacana untuk merebut pengaruh. Kekuatan wacana, dalam bentuk pernyataanpernyataan pendek yang mudah diingat, trik visualisasi pencitraan, dan permainan panggung simbolik, akan banyak menentukan bagaimana subjek pemilu dalam mengambil keputusan memilih pilihan politiknya. Wacana memiliki kekuatan dalam membentuk subjek dan (rasa) subjektif seseorang.

Janji-janji argumentatif, rencana-rencana politik dan ekonomi, dalam berbagai pernyataan panjang tidak akan diperhatikan, untuk mengatakan sama sekali tidak penting. Pemilu pada masa mendatang telah memasuki satu masa ketika masyarakat banyak dipengaruhi ruang-ruang on line. Temu massa, di samping boros dan tidak produktif, juga semakin berbahaya. Berbahaya karena pemanasan sudah dilakukan di ruang online.

Dramatisasi wacana akan diterima secara berbeda-beda, bergantung posisi seseorang secara sosial, politik, ekonomi, bahkan agama. Paling tidak ada tiga situasi subjek pemilu. Pertama, mereka yang sudah menentukan posisi politiknya ( pemilih tradisional). Kedua, mereka yang masih dalam posisi interseksi dan ambang . Ketiga, mereka yang belum punya plihan. Yang diperebutkan biasanya mereka dalam posisi kedua dan ketiga.

Situasi Politik di Indonesia Selama Pandemi

Peningkatan jumlah kasus yang signifikan akhir-akhir ini tentunya membuat publik merasa terancam. Perasaan tidak aman yang dirasakan di masyarakat bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi dinamika politik di Indonesia. 

Dalam Coronavirus:The Health Ekonomic and Geopolical Consequences (2020), Jhon Scott menyampaikan bahwa rakyat akan membenci pemerintah yang gagal melindungi warga negaranya. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa rakyat tidak akan kembali memilih politisi yang gagal dalam melaksanakan tanggungjawabnya pada pemilu mendatang.

Jika berkaca pada fenomena global, Covid-19 tidak bias dimaknai  sebagai wabah penyakit global. Dalam konteks politik, Covid-19 adalah bencana politik yang tercipta secara alamiah atau by nature untuk menguji tingkat kepercayaan publik terhadap pemangku kekuasaan. Masyarakat semakin cerdas pada isu politik sehingga mereka lebih kritis pada isu yang menyangkut hajat hidup mereka. Hal ini terbukti dari banyaknya demonstrasi akhir-akhir ini yang diinisiasi oleh aliansi masyarakat sipil untuk menolak RUU Omnibus Law.

Dilansir dari CNBC Indonesia.com, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sepakat menunda pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2020. Tidak hanya itu, kedua pihak juga sepakat mengalihkan anggaran pilkada penanganan pandemic Covid-19, (31/05/2020).

Hal ini mengakibatkan makna kebebasan itu sendiri mengalami pergeseran, akibat dari wabah yang datang tak diundang ini. Setelah 22 tahun kita memasuki masa reformasi untuk pertama kalinya segala rencana dibatal mendadak.

Penulis, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...