Petani Melon Hidroponik, Sekali Panen Rp 50 Juta

Petani Melon Hidroponik, Sekali Panen Rp 50 Juta
Petani di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus, bertanam melon dengan sistem hidroponik, Sabtu (27/3/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

CAKRADUNIA.CO, Kudus - Gabungan kelompok tani di Kudus, Jawa Tengah, bertani Melon dengan sistem hidroponik yang memiliki keunggulan, salah satunya rasa melonnya lebih manis.

Petani yang tergabung dalam kelompok tani (Gapoktan) Muria Farm menanam tanaman melon jenis camoy dan korean dengan menggunakan sistem hidroponik di lahan seluas 500 meter persegi di area persawahan Desa Besito, Kecamatan Gebog.

Lahan melon mereka berada di sebuah green house yang berada di tengah persawahan. Saat berkunjung ke sana, para petani tengah sibuk panen raya buah melon.

Sekretaris Kelompok Tani Muria Farm, Dani Saputra, mengatakan kelompok tani di desa tersebut sengaja menanam melon dengan sistem hidroponik, karena saat ini potensi pasaran buah melon sangat menjanjikan.

"Awalnya saya menanam selada, terus sekarang kami mengembangkan budi daya tanaman melon secara hidroponik. Karena pasaran melon saat ini sangat menjanjikan sekali," kata Dani saat ditemui di lokasi, Sabtu (27/3/2021).

Memulai bertanam sistem hidroponik sejak akhir tahun 2020 lalu seluas 500 meter persegi dengan menanam sebanyak 1.700 buah melon.

"Nah, dengan sistem hidroponik, kita bisa menanam setahun mencapai 5 kali, karena melon ini yang kita tanam masanya panennya 60 hari sekali. Kalau tradisional setahun bisa sekali dua kali dengan mengganti-ganti tanaman yang ditanam," ujar dia.

Sedangkan ntuk perawatan sistem hidroponik tidak susah. Menurutnya, saat perawatan tidak menggunakan pupuk pestisida. Selain itu, perawatan yang dilakukan juga lebih mudah. Mulai dari pemupukan, perambatan, pemangkasan, hingga menjaga buah saat akan panen.

"Untuk perawatan hama tidak bisa masuk (karena ada jaring di green house), kita tanpa pestisida. Perawatan yang pertama pemupukan, terus kita merambat tanaman ke atas, lalu pemangkasan, masa pembungaan, dan setelah itu kita pilih buah bagus, dan terus menjaga buahnya agar buahnya bisa maksimal," ucap Dani.

Kualitas melon dengan menggunakan sistem hidroponik memiliki kelebihan, salah satunya rasanya lebih manis.

"Karena tidak ada hama, terus kualitas tanaman lebih bagus dari biasanya. Bila mengutamakan kualitas, melon kita rasanya lebih manis, daya simpan lebih lama, kualitas lebih bagus dibandingkan dengan melon yang konvensional," terangnya.

Dani baru menuai hasil panen yang pertama yang diperkirakan sebanyak 1,5 ton melon. Meski belum panen, melonnya sudah habis dipesan. Omzet yang didapatkan sekali panen ini bisa mencapai Rp 50 juta.

"Baru panen satu kali, hasilnya cukup memuaskan, karena semuanya habis sudah dipesan konsumen," ungkap Dani.

Sedangkan hartnya relatif bagus, karena kualitas lebih bagus. Harganya Rp 35 ribu per kilo dan sekarang banyak permintaan luar kota Surabaya dan Jakarta.

“Belum sampai ke sana sudah habis duluan. Ini omzet yang kami dapatkan sekitar Rp 50 juta,"tutupnya.[dtk]

Komentar

Loading...