Petaka Sebuah Cermin

Petaka Sebuah Cermin
Ilustrasi/pngwing

SEORANG Raja mengeluarkan keputusan aneh. Ia  melarang ada cermin di seluruh lingkungan keraton. Para tamu yang berkunjung ke keraton  pun dilarang keras membawa cermin. Selidik punya selidik, keputusan itu dibuat untuk kepentingan putra mahkota yang berwajah jelek. Tujuannya agar sang putra mahkota tidak pernah melihat wajahnya sendiri  sehingga ia merasa percaya diri.

Singkat cerita, sang putra mahkota beranjak dewasa tanpa pernah sekalipun melihat wajahnya sendiri. Ia sangat percaya diri,  wajahnya sangat tampan seperti yang pernah ibu dan ayahnya katakan. Demikian pula semua orang berpura-pura,  menyanjung dan memuji ketampanan wajahnya.

Ketika waktunya dinobatkan sebagai raja, ia kebal hukum dan antikritik. Setiap kritik yang ditujukan kepadanya dianggap negatif,  merendahkan martabat,  dan kehormatan raja, bahkan sering dikelompokkan kepada perbuatan subversif  dan pelecehan terhadap martabat sang raja. Para menteri dan pembantu  lainnya tak bisa berbuat apa-apa, selain memuji-muji setiap kebijakan sang raja. Mereka takut digeser dari jabatannya.

Suatu hari, sang raja mengontrol fasilitas yang ada di lingkungan keraton, termasuk memeriksa gedung perpustakaan yang selama ia menjabat sebagai raja belum pernah ia masuki. Ia begitu terkesan melihat buku-buku yang tertata rapi. Namun celakanya, sang raja melihat cermin yang menurut keputusan ayahnya dahulu tak boleh ada di lingkungan keraton.

Sang raja menjerit dan menangis ketika ia melihat wajah aslinya dalam bayangan cermin yang bersih.  Ia sama sekali tak percaya dengan keadaan wajahnya.

“Bukankah menurut para menteri, para pendukung, dan para pembantuku, wajahku ini tampan? Tapi mengapa kenyataannya seperti ini?”  Keluhnya dalam hati.

Seorang pembantu kerajaan yang ada di belakangnya bertanya, “Gerangan apa yang telah terjadi, wahai tuan raja?”

“Aku malu dan terkejut melihat wajahku ini.” Jawab raja.

Mendengar jawaban tersebut, pembantunya tadi menangis lebih keras daripada sang raja.

“Lho, Mengapa kamu menangis dan menjerit lebih keras daripada  aku? Apakah kamu simpati terhadapku, karena kamu pendukung utamaku? Atau karena kamu selalu meminta petunjuk kepadaku?” Tanya sang raja keheranan.

“Bukan begitu, tuan raja. Sejak dulu kami dan rakyat tuan mengetahui jeleknya wajah tuan. Namun, kami tak berani melontarkan kritik. Sebab, kami takut kehilangan jabatan. Kami takut dituduh  kaum oposisi, kami takut disebut subversif atau merendahkan martabat tuan raja.

Sang raja semakin heran. Ternyata dukungan para menteri bukan karena simpati kepadanya, tapi demi jabatan. Sang raja menyadari, ternyata dia hanya dikelilingi para penjilat yang haus uang dan jabatan. 

Saya dapatkan  cerita  tersebut dari guru-guru saya ketika belajar filsafat dan tasawuf.  Benar tidaknya kisah tersebut, saya tak tahu. Satu hal yang jelas, banyak hikmah bisa diperoleh dari cerita tersebut.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kita  selayaknya bercermin kepada para sahabat  Nabi Saw yang berakhlak mulia. Kita jangan meniru perilaku sang raja dalam kisah di atas, juga para pembantunya.

Para sahabat sangat berterima kasih jika ada orang yang mengkritik atau mengoreksi kekeliruannya. Bahkan mereka merindukan kritik. Sebab, tanpa ada  kritik dan koreksi dari orang lain, mereka takut selalu merasa benar, sempurna, dan akhirnya terjerumus kepada kesombongan.

Abu Bakar ash-Shiddiq tidak marah ketika seorang pemuda mengacungkan pedang terhunus sambil berkata, “Wahai Amir al-Mukminin! Jika  kau bertindak salah, aku akan meluruskanmu  dengan pedangku ini.”

“Alhamdulillah, ya Allah, masih ada orang yang memiliki keberanian akan meluruskan hamba-Mu yang lemah ini apabila berbuat kesalahan.” Demikian jawab Abu Bakar.

Siapapun dan apapun kedudukan kita, selamanya kita sangat memerlukan kritik yang bernuansa nasihat dan mengoreksi setiap kesalahan. Sebab dengan adanya kritik, kita akan merasakan kelemahan dan kekurangan diri. Sebaliknya,  jika  kita antikritik, kita akan terjerumus kepada kesombongan, selalu merasa benar, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada jurang kehancuran.

Merasa lemah berarti tawaduk. Sementara merasa kuat, selalu merasa benar sendiri berarti sombong. Allah akan memuliakan orang-orang yang mengakui kelemahannya, dan Ia akan menghinakan orang-orang yang sombong, merasa benar sendiri.

“Barangsiapa  yang  berperilaku tawaduk, Allah akan mengangkat (menambah) kemuliaannya, dan barangsiapa yang berperilaku takabur, sombong, Allah akan menghinakannya” (H.  R.  Abu Sa’id  al Khudry).***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...