Perwakilan PT IOT Lemah, Sudah 3 Hari Material PLTU Belum Dibongkar

Perwakilan PT IOT Lemah, Sudah 3 Hari Material PLTU Belum Dibongkar
Perwakilan Perusahaan IOT Herman Wijaya (memegang kepala) didampingi stafnya melahirkan negosiasi harga bongkar tiang pancang dengan PT. Tuah Akfi Utama Akrim (kanan duduk) di salah satu kamar hotel kota Calang, Rabu malam (11/12/19) disaksikan perwakilan masyarakat pencari kerja. Foto/Cakradunia.co/Fitriadilanta

Kepala Syahbandar: Saya Bingung

CAKRADUNIA.CO, Meulaboh - Pasca penghadangan mobil 30 jam oleh masyarakat di Gampong Langung Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat, Senin malam (8-9/12/19) hingga kini aktifitas bongkar material tiang pancang PLTU 3-4 Nagan Raya di Pelabuhan Calang belum dimulai.

Juru bicara gerakan massa, Medy saat dikonfirmasi cakradunia.co, Kamis (12/12/19) dengan tegas mengatakan perwakilan perusahaan IOT sebagai pemenang tender angkutan tiang pancang PLTU 3-4 dari Cina sangat lemah dalam bernegosiasi.

Setelah gerakan massa memanas dikantor perwakilan IOT, Senin lalu, akhirnya pekerjaan yang mau dikerjakan sendiri dengan terpaksa diserahkan ke pihak perusahaan lokal sebagaimana telah direkomendasikan, lalu mereka menjegal kami dengan harga PBM sangat murah Rp 67.500 perton.

“Sementara standar harga bongkar muat di pelabuhan dalam sumatera bisa mencapai Rp 140 ribu perton,”katanya.

Pada malam negosiasi tersebut, tambahnya, pihak perusahaan lokal menerima tawaran dari perwakilan IOT yang diwakili Herman Wijaya dengan alasan malam sudah larut, peserta aksi sudah ngamuk-ngamuk dan mulai memukul meja, setelah suasana tenang bisa dirembuk kembali harapannya agar segera bisa melaksanakan pekerjaan.

"Negosiasi tawaran harga kembali dilakukan, agar harga sesuai standard pelabuhan untuk pekerjaan bongkar muat. Namun, tidak ditanggapi serius oleh pihak IOT, akibatnya massa kembali bertahan di area pelabuhan sampai ada titik temu nego harganya," jelasnya

Setelah dua hari lebih kapal berbendera Cina itu tak bisa membongkar tiang pancang, akhirnya Rabu malam perwakilan IOT dan masyarakat berdialog kembali  di Calang dihadiri langsung pimpinan perusahaan PBM Akrim, keputusannya harga disesuaikan standar dan bila tidak maka mereka sepakat tiang pancang selama satu minggu tidak boleh bongkar. Kesepakatan itu, ditandatangani oleh perwakilan massa dari tiga kabupaten termasuk Keuchik Gampong Bahagia Calang di kawasan pelabuhan. Semoga segera ada jalan, ujar eks kombantan tersebut.

Syahbandar Bingung

Pejabat Pembuat Komitmen Kantor Syahbandar Calang Kabupaten Aceh Jaya, Arwana Amru  kepada cakradunia.co, Kamis 12/12/19) menjelaskan kapal sudah 3 hari di pelabuhan Calang, sampai saat ini Perusahaan Bongkar Muat belum bisa melakukan aktifitasnya salah satu alasannya, ijin SITU yang belum lengkap.

“Itu merupakan salah satu alasan kecil  karena semua itu bisa diurus sambil berjalan dan yang menjadi kami sebagai syahbandar bingung, IOT selaku pemenang proyek Pengadaan tiang pancang sudah menunjuk PT. Tuah Akfi Utama sebagai  perusahaan yang direkomendasikan oleh teman teman kita di Meulaboh dan Calang kepada  IOT. Prosesnya juga kita sama sama tau begitu panjang, setelah ditunjuk oleh IOT malah PT Tuah Akfi Utama tidak melaksanakan kewajibannya,”  ujar Amru

Setelah kita berusaha untuk menengahkan sampai dengan kemarin juga belum ada titik terang dan kami syahbandar segera mengambil tindakan untuk melego jangkarkan kembali kapal sampai menunggu hasil musyawarah IOT dengan PBM., guna menghindari kerusakan dermaga dan kapal akibat dari benturan kapal dengan dermaga.

Menurut Amru, yang  lebih membingungkan pihaknya, penunjukan kepala Cabang PT Tuah Akfi Utama di Calang itu ada dua org, masing masing orang memiliki legalitas dari notaris.

“Setelah dicek yang asli itu milik Pak Herianto sebagai kepala cabang setelah  menunjukan akte notaris asli Azhar Ibrahim SH. Sedangkan yang satu lagi kalau saya tidak salah Irwansyah. Tapi, kita belum lihat akte notaris yang aslinya, karena hanya fotocopy saja, itupun lagi lagi kami dari syahbandar tidak mempersoalkannya karena kami anggap itu masalah internal perusahaan," ujar PPK syahbandar itu binggung.

Sampai berita ini diturunkan, pewarta belum berhasil mengkonfirmasi perwakilan IOT. Pesan WhatsApp dan SMS yang dikirim tidak dibalas dan telepon ketika dihubungi tidak diangkat. Sementara dari perusahaan PBM PT. Tuah Akfi Utama memohon waktu karena agenda masih sangat sibuk.

“Maaf ya pak, nanti saya jelaskan semua. Saat ini agenda kami sangat padat karena massa memanas harus ditenangkan dulu,” ujar Akrim singkat via pesan WhatsApp.

Fitriadilanta.

Surat kesepakatan ditulis tangan dan diteken bersama. Foto/Cakradunia.co/Fitriadilanta

Komentar

Loading...