Persiapan Menuju “Proyek Lapar”

Persiapan Menuju “Proyek Lapar”
Ilustrasi.net

MESKIPUN  dianggap hadits lemah oleh sebagian ulama, setiap memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, kita  dianjurkan membaca do’a “Allahumma baarik lanaa fi rajaba wa sya’bana wa balighnaa Ramadhan”. Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah usia kami kepada bulan Ramadan” (Musnad al Imam Ahmad bin Hanbal Juz IV, hadits nomor 2.346).

Dari do’a tersebut setidaknya dapat ditarik suatu pelajaran, kita dianjurkan untuk melakukan persiapan menghadapi bulan suci Ramadan. Setidaknya  dua bulan menjelang datangnya bulan suci Ramadan kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Bagi kaum hawa yang masih memiliki hutang shaum Ramadan tahun lalu, bulan Rajab dan Sya’ban merupakan saat yang tepat untuk segera “melunasi” hutang (qadha) shaum Ramadan tahun lalu. Semaksimal mungkin siapapun harus menghindari sikap abai dan lalai dari melaksanakan qadha shaum Ramadhan. Demikian pula bagi orang yang memiliki hutang fidyah, ia sedapat mungkin harus segera menunaikkannya. Jangan sampai ketika memasuki bulan suci Ramadan tahun ini, kita masih memiliki hutang shaum dan fidyah Ramadan tahun lalu.

Bagi kita yang tidak memiliki hutang shaum Ramadan maupun fidyah, sejak bulan Rajab, Sya’ban, selayaknya kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan bulan suci tersebut. Di hati kita harus tertanam tekad kuat untuk melaksanakan ibadah shaum sebaik mungkin seraya merenungi kesalahan dan kekurangan yang dilakukan pada shaum Ramadan tahun lalu, dan bertekad untuk memperbaikinya pada Ramadan tahun ini.

Kita tidak mengetahui dengan pasti, apakah Ramadan tahun ini merupakan Ramadan terakhir bagi kita? Bahkan kita pun tidak mengetahui dengan pasti, apakah usia kita akan sampai kepada bulan Ramadan tahun ini? Oleh karena itu, setiap saat dan kesempatan yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik  mungkin untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Selayaknya, kita menjadikan setiap saat dan kesempatan yang kita miliki sebagai akhir dari kehidupan kita. Dalam arti, kita melakukan perbuatan sebaik mungkin untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, karena esok hari kita belum tentu bisa berbuat kebaikan,  bisa jadi karena kita sakit, tertimpa musibah, atau ajal menjemput kita.

Singkatnya, setiap saat kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita menjadi lebih baik. Dalam hal ini termasuk dalam meningkatkan kualitas ibadah shaum Ramadan yang tinggal beberapa hari ke depan akan kita laksanakan.

Untuk meningkatkan kualitas shaum Ramadan, sangatlah baik jika kita memiliki rencana program ibadah yang akan kita laksanakan pada bulan Ramadan tahun ini. Misalnya saja kita memiliki tekad untuk menamatkan shalat wajib berjamaah setiap waktu, shalat tarawih, mengkhatamkan tadarus al Qur’an, meningkatkan pengeluaran infaq, sedekah, dan lain sebagainya.

Satu hal yang harus kita tanamkan di hati kita adalah  memiliki program untuk benar-benar sederhana dalam melaksanakan ibadah shaum Ramadan dan merayakan Idul Fitri. Bukan rahasia lagi, selama bulan Ramadan dan Idul Fitri, kebanyakan dari kita menjadi manja dalam hal mengkonsumsi makanan. Menu makanan harus serba ada, bahkan memakskan diri menyediakan berbagai makanan terutama ketika berbuka shaum. Parahnya, kualitas gizi makanan yang kita konsumsi semakin meningkat, sementara kualitas ibadah semakin menurun. Demikian pula ketika merayakan hari Idul Fitri, kita selalu berlebihan dalam merayakan hari kemenangan. Perilaku konsumtif dan hedonistis mengalahkan nilai-nilai suci Idul Fitri.

Buka shaum yang seharusnya sederhana seperti yang dilakukan Rasulullah saw, pada kenyataannya kita selalu melakukannya dengan berlebihan. Sendawa karena perut kekenyangan sering terjadi selepas melaksanakan buka shaum. Pada akhirnya, badan kita menjadi berat untuk melaksanakan ibadah lainnya seperti melaksanakan ibadah shalat tarawih dan ibadah sunat lainnya.

Dari segi anggaran belanja, karena kita berlebihan dalam menyediakan makanan, bulan suci Ramadan dan Idul Fitri menjadi beban berat tahunan yang harus dihadapi baik oleh individu maupun pemerintah. Padahal, sejatinya ibadah shaum itu mengajarkan kesederhanaan, mengendalikan diri diri hal-hal yang berlebihan, dan benar-benar mempertimbangkan antara kebutuhan dan keinginan terhadap sandang dan pangan.

Salah satu hikmah dari ibadah shaum adalah kemampuan merasakan penderitaan orang-orang yang serba kekurangan dan kelaparan. Alangkah baiknya  jika ibadah shaum Ramadan yang akan kita laksanakan dijadikan ajang berbagi dengan mereka yang kekurangan. Selama satu bulan,  setidaknya kita harus mengurangi jatah makanan, kemudian uangnya kita sisihkan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Konon kabarnya,  penduduk Amerika memiliki program  mengumpulkan makanan mingguan atau bulanan. Mereka menyebut program ini sebagai “hunger project”, proyek lapar, alias menahan lapar dalam sehari.

Dalam praktiknya, sehari dalam seminggu sekali atau sebulan sekali, mereka mengurangi jatah makanan. Uang atau makanan yang terkumpul mereka serahkan kepada  lembaga atau organisasi yang mereka percaya untuk menyalurkannya kepada orang-orang atau lembaga-lembaga sosial yang membutuhkannya. Dengan kata lain, sehari dalam seminggu atau sebulan, mereka melakukan “shaum” makan demi membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Setiap tahun kita dididik melalui nilai-nilai ajaran suci bulan Ramadan. Sudah selayaknya apabila kita pun memiliki program “hunger project” sepanjang masa. Ibadah shaum Ramadan yang kita lakukan harus melahirkan sikap empati, yakni sikap kesadaran dan kemampuan merasakan penderitaan orang lain. Kemudian dari sikap ini mendorong diri kita untuk membantu orang-orang yang sedang dilanda kesusahan, baik kekurangan makanan, sedang dilanda musibah, dan lain sebagainya.

Kita,  tinggal beberapa hari lagi memasuki bulan suci Ramadan, sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya seraya mempersiapkan rencana program-program amal saleh yang akan kita laksanakan selama bulan Ramadan. Kita pun harus mengazamkan diri untuk tetap hidup sederhana selama bulan suci Ramadan, tidak belanja dan mengkonsumsi makanan secara berlebihan.

Sangatlah merugi jika kita termasuk orang-orang yang hanya mendapatkan haus dan lapar saja dari ibadah shaum kita seraya nirpahala dari Allah Swt. Selamat menghitung hari, mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadan 1442 H / 2021 M, semoga ibadah shaum Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, dan menjadikan diri kita benar-benar sebagai orang yang bertakwa.

 

Penulis, Pemerharti dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

    

Komentar

Loading...