Perkataan yang Baik

Perkataan yang Baik
Ilustrator: Galih Reza Suseno

DARI sudut pandang filsafat, manusia merupakan hayawan al natiq. Makhluk yang mampu  berbicara dengan bahasa dan kata-kata yang  jelas. Namun demikian, berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan. Kata-kata yang keluar dari mulut kita menentukan kualitas keilmuan, keimanan, dan akhlak kita. 

Kesempurnaan iman seseorang salah satunya ditentukan dari kualitas kata-kata yang keluar dari mulutnya. Semakin baik kata-kata yang diucapkannya dan bermanfaat bagi orang lain, maka makin sempurnalah keimanannya. Demikian pula sebaliknya,  semakin jelek kata-kata yang diucapkan, tidak bermanfaat, dan menyakitkan perasaan orang lain, menunjukkan ketidaksempurnaan keimanannya.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata dengan benar (baik), jika tidak mampu maka lebih baik diam” (H. R. Muslim).

Perkataan yang baik, lebih berharga daripada sedekah yang diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan.  “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun” (Q. S. al Baqarah : 263).

Dari sekian banyak perilaku manusia, perkataan yang diucapkan seseorang terkadang lebih tajam daripada pedang. Banyak orang yang merasa sakit hati bertahun-tahun  karena mendengar ucapan seseorang yang menyinggung perasaannya. Jika menelusuri al Qur’an, tak ada lagi dosa yang paling kotor  dan menjijikan kecuali dosa yang berasal dari ucapan, yakni percakapan ghibah. Perbuatan ini bagaikan memakan bangkai saudara sendiri yang telah membusuk (Q. S. al Hujurat : 14).

Jika kata-kata kotor menimbulkan bekas, luka yang menyakitkan, sebaliknya kata-kata yang baik selain bernilai sedekah, juga menimbulkan akibat baik bagi yang mengucapkan dan  mendengarkannya. Jangankan kepada manusia, kepada makhluk selain manusia pun memberikan dampak yang baik.

Masaru Emoto, seorang dokter pengobatan alternatif dari Jepang selama hampir sepuluh tahun meneliti dampak kata-kata terhadap air. Dari hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan, kata-kata yang diucapkan terhadap air, baik kata-kata yang baik maupun yang buruk memiliki pengaruh terhadap pembentukan kristal air. 

Sang dokter tersebut meneliti air yang sudah diberi ucapan berbagai kata dalam sebuah mikroskop yang memiliki keakuratan dan ketajaman tinggi. Hasilnya sangat mengejutkan.  Air yang mendapatkan ucapan positif seperti  “terima kasih; kebahagiaan; cinta; bagus; cinta dan terima kasih” membentuk kristal air yang indah. Sementara air yang diberi ucapan kata-kata negatif seperti “kamu bodoh;  menderita/jelek; tidak berguna” membentuk kristal air yang berantakan atau tidak beraturan.

Masaru Emoto menggoreskan hasil penelitiannya dalam sebuah buku “The True Power of Water”.  Dalam bukunya tersebut ia mengajak kita untuk memperlakukan air dengan baik, dan memberikan ucapan yang baik terhadapnya.

Jauh sebelum Masaru Emoto, Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk memperlakukan makanan dan minuman dengan baik. Salah satu perlakuan baik terhadap makanan/minuman adalah dengan membaca do’a ketika sebelum dan sesudah makan/minum. Berdo’a berarti mengucapkan kata-kata yang baik,  memohon keberkahan dan kebaikan dari makanan/ minuman yang kita konsumsi.

Sebaliknya,   Rasulullah saw memperingatkan agar kita tidak memperlakukan makanan/minuman secara jelek. Tidak berdo’a sebelum atau sesudah makan/minum merupakan cara jelek dalam memperlakukan makanan/minuman. Demikian pula halnya, dengan mencela dan menyia-nyiakan makanan/minuman,  membuang sia-sia merupakan cara jelek dalam memperlakukan makanan/minuman.

“Nabi saw tidak pernah mencela suatu makanan sedikitpun. Seandainya ia menyukainya, ia menyantapnya. Namun jika tak menyukainya, ia meninggalaknannya (tidak memakannya)” (H. R. Bukhary-Muslim).

Nabi saw sering memuji makanan. Suatu hari, ia bertanya kepada keluarganya tentang lauk pauk. Mereka menjawab bahwa tak ada lauk apa-apa selain cuka. Kemudian ia bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka” (H. R. Muslim).

Dalam ajaran Islam, kata-kata yang baik akan memberikan kebaikan yang tak akan terputus. Kebaikan yang terputus tersebut lebih sering kita kenal dengan istilah berkah atau barokah.

Sungguh indah apabila kita senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik, kata-kata yang bermanfaat, tidak menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain. Rasulullah saw menganjurkan kita untuk selalu mengucapkan kata-kata yang baik terhadap manusia maupun terhadap makhluk lainnya. Secara tidak langsung, melalui penelitiannya, Masaru Emoto telah membuktikan pengaruh kata-kata terhadap pembentukan kristal air sebagai media yang ia teliti.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita seperti bumerang. Baik dan buruknya akan kembali lagi kepada diri kita. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam mengucapkan kata-kata. Kita harus benar-benar memperhatikan manfaat dan mudaratnya. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...