Perjalanan ke Makam Cek Gu Zaki, Sang Ibu Butuh Waktu 14 Hari

Perjalanan ke Makam Cek Gu Zaki, Sang Ibu Butuh Waktu 14 Hari
Ketika Dahniar melepaskan kerinduan di makam anaknya, Cek Gu Zaki di komplek pemakaman umum di Nabire, Jumat (15/8). Ist

MUNGKIN  tak pernah terbayangkan dalam benat sang ibu bahwa perjalanan menuju makam anaknya dari Banda Aceh ke Nabire, Papua butuh waktu cukup lama sampai 14 hari.

Kondisi ini muncul karena pandemi covid-19, beberapa kali terjadi pembatalan perbangan ke negeri cendrawasih. Padahal dalam keadaan  normal Banda Aceh – Papua bisa ditempuh delapan atau 10 jam perjalanan. Setiap penundaan, kerindu sang ibu terus memuncak, agar bisa segera melepaskan rindu sampai ke kuburan anaknya.

Kisah itu dialami Daniar (55) warga Desa Cot Kruet, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, ibu alm Muhammad Zaki yang meninggal dunia di Papua 27 Juni 2020 lalu sebagai guru honorer di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Kerinduan Dahnir mendatangi pusara anaknya baru terwujud, Jumat 14 Agustus 2020 dua hari lalu untuk pertama kali setelah anak semata wayangnya meninggal dunia di perantauan dua bulan lebih.

Saat berziarah ke makam anaknya, Dahniar ke Mbiandoga tidak sendiriannya, tapi ditemani oleh dr Fauziah bersama suaminya, Ramadhan, bang Agam serta para guru dari Dinas Pendidikan Kabupaten Intat Jaya.

Ketika kakinya menginjak komplek pemakanan Girimulyo Kabupaten Nabire, di tempat Muhammad Zaki dimakamkan, isak tangis sang Ibu dan para penziarah tak terbendung. Karena saat sang buah hati Muhammad Zaki pergi untuk selama-lamanya tak sempat dirawat dan bertemu dengan Dahniar. 

Kabar Dahniar tiba dipemakaman anaknya disampaikan oleh pendampingnya dr Mirza melalui pesan Whatsapp serta mengirimkan foto dan video suasana dilokasi pemakaman Cek Gu Zaki.

Dua pekan lalu, istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati melepas keberangkatan Dahniar (55), Ibunda dari Muhammad Zaki (Alm)--akrab disapa Cekgu Zaki--untuk berziarah ke Papua, di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Kamis (30/7/2020).

Keberangkatan Dahniar besama pendamping dr Mirza ke Papua dibiayai oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah melalui Dinas Sosial Aceh.

Cekgu Zaki, pemuda Gampong Cot Kruet, Aceh Utara itu, meninggal dunia karena sakit di tempat pengabdiannya sebagai guru bakti di Papua, dan dimakamkan di Bumi Cenderawasih itu, pada 27 Juni 2020. 

 “Mudah-mudahan penerbangan ke Papua nyaman dan lancar, ya Bu," ujar Dyah usai menyalami perempuan bersahaja itu .  Dyah berpesan kepada Ibunda Cekgu Zaki agar selalu tabah, tidak larut dalam kesedihan, dan menjaga kesehatan.

Dr Mirza mengatakan begitu tiba di Nabire, Dahniar tak sabar lagi langsung ke komplek pemakaman dan sang anak  tak mampu menahan tagisnya.

“Alhamdulillah tadi pagi waktu Papua ibu Dahniar tiba di Nabire, dan langsung ke makam anaknya, sangking rindunya dia langsung ingin segera melihat pusara Cek Gu Zaki dan tak mampu menahan tangisnya,” ujar dr Mirza.

Mirza mengakui, Dahniar sangat merindukan segera bisa mengunjungi pusara anaknya. Namun, kondisi berkata lain sehingga butuh waktu lama dalam perjalanan baru tiba di Nabire.

“Terimakasih kepada Pak Nova Iriasnyah, dan para pihak yang sudah membantu kami hingga sampai ke Nabire,” kata MIrza.

Selamat jalan Cek Gu, mudah-mudahan jasa mu bermanfaat bagi anak-anak bangsa serta agama. Semoga Allah SWT menempatkan dirimu di tempat yang baik disisi-Nya. Amiin.[df]

Komentar

Loading...