Peran Generasi Milenial Sebagai Agen Anti Korupsi

Peran Generasi Milenial Sebagai Agen Anti Korupsi
Ilustrasi. matanews/Luwarso

Tepat, 9 Desember lalu, merupakan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi di dunia. Hari Anti Korupsi dimulai setelah konvensi PBB melawan korupsi pada 31 Oktober 2003 dan menetapkan setiap 9 Desember untuk memperingatinya.

Korupsi merupakan penyakit yang terus menjalar ke seluruh dunia. Menurut data WEE (World Economic Forum), dari 20 negara terkorup di dunia, semuanya termasuk kategori negara berkembang, seperti Yaman, Bangladesh, dan Kamboja.

Meski korupsi adalah sesuatu yang sulit diberantas, faktanya beberapa negara mampu mengatasinya. China dan Hongkong adalah contoh negara di dunia yang mampu memberantas korupsi. Chinna menggunakan hukuman mati untuk melawan korupsi. Adapun, Hongkong dengan reformasi besar-besarnya pada aparat kepolisian dan instansi pemerintahan sebagai senjata untuk memberantas korupsi.

Bagaimana dengan Upaya Indonesia?

Di Indonesia, upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan. Memasuki orde baru, dibuatkan regulasi Keppes (Keputusan Presiden) No. 28 Tahun 1967 tentang Pembentukan Tim Pemberantas Korupsi. Hanya saja, upaya ini tidak berfungi dengan baik dan malah memicu konflik protes yang memuncak pada 1970. Pemerintah masa orde baru terus mengeluarkan peraturan, seperti UU No. 3 tahun 1971, GBHN tahun 1978, dan masih banyak lagi dalam upaya pemberantasan korupsi.

Beralih ke masa reformasi, pemberantasan korupsi tak henti-hentinya dilakukan. Salah satu upaya yang terkenal adalah dibentuknya badan khusus KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Hanya saja, upaya pemberantasan korupsi belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Saat ini, tindakan korupsi begitu marak di Indonesia. Menurut catatan ICW (Indonesia Corruption Watch) yang dikutip dari merdeka.com, sepanjang semester 1 tahun 2020, kerugian negara akibat korupsi sudah mencapai Rp 39,2 triliun. Sedangkan, pidana tambahan uang pengganti hanya Rp 2,3 triliun.

Perbedaan pemulihan kerugian aset negara tidak jauh berbeda pada tahun sebelumnya. Di tahun 2019, total kerugian negara akibat korupsi sebesar Rp 2,13 triliun. Sedangkan, pengenaan uang pengganti hanya sekitar Rp183 miliar.

Mengharapkan kinerja pemeritah untuk memberantas korupsi nampaknya mudah diucapkan, namun sulit diwujudkan. Pemerintah sejatinya merupakan orang yang memiliki peran dalam merumuskan kebijakan anti korupsi. Hanya saja, sarang para koruptor justru ada di sana. Permasalahan ini tentu menjadi persoalan yang rumit.

Di satu sisi, peran dari elemen lain sangat diharapkan. Para pemuda tentunya menjadi garda terdepan yang diharapkan agar masa depan Indonesia bisa bersih dari praktik korupsi.

Agen Pemberantas Korupsi

Generasi muda memiliki sejarah panjang dalam kemerdekaan Indonesia. Sebagai gambaran peristiwa Sumpah Pemuda merupakan peristiwa sejarah yang melibatkan para pemuda untuk memperjuangkangkan hak-haknya. Tidak hanya itu, pemuda terlebih mahasiswa memiliki peranan besar dalam meruntuhkan rezim orde baru.

Saat ini, para pemuda Indonesia diduduki oleh generasi milenial (lahir 1981-2000). Keberhasilan pembangunan suatu bangsa juga ditentukan oleh kualitas generasi milenial, terlebih dalam upaya pemberantasan korupsi. Berhasil atau tidaknya upaya pemberantasan korupsi, sedikit atau banyak ditentukan oleh generasi milenial itu sendiri.

Terdapat beberapa peran yang dapat dilakukan generasi milenial dalam upaya pemberantasan korupsi. Pertama, melakukan pengawasan pada instansi pemerintah. Generasi milenial selain berperan sebagai agen perubahan juga harus bertindak sebagai pengawas. Pengawasan terhadap instansi pemerintah perlu diupayakan agar pemerintah tidak bisa seenaknya menggunakan kekuasan.

Kedua, membangun sikap anti korupsi di dalam organisasi. Dapat dimulai dari kesadaran masing-masing individu agar tidak melakukan tindakan korupsi walau hanya tindakan yang sederhana. Generasi milenial merupakan agen penerus cita-cita bangsa Indonesia. Oleh karena itu, upaya pemberantas korupsi dapat dilakukan melalui generasi milenial itu sendiri.

Ketiga, membangun perilaku anti korupsi kepada masyarakat. Dapat dilakukan dengan cara penanaman nilai-nilai bahaya korupsi. Tindakan ini perlu diupayakan agar seluruh masyarakat memiliki daya kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap kurang relevan.

Kesadaran dan kepekaan generasi milenial sangat diharapkan, terlebih sebagai calon pemimpin masa depan. selain melakukan pengawasan dan mengedukasi masyarakat, generasi milenial harus sadar agar tidak melakukan tindakan korupsi.[]

 

Dewangga Putra Mikola, Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Negeri Yogyakarta

Komentar

Loading...