Peraih Medali Emas Olimpiade, Dijadikan Pemain Magang Mundur dari Bulutangkis

Peraih Medali Emas Olimpiade, Dijadikan Pemain Magang Mundur dari Bulutangkis
Tontowi Ahmad meraih medali emas pada Olimpiade Rio 2016 dalam turnamen ganda campuran bulu tangkis bersama Lilyana Natsir. Getty Images

CAKRADUNIA.CO - Peraih medali emas Olimpiade Rio, Tontowi Ahmad, mengumumkan ia berhenti dari bulutangkis, salah satu alasan karena ia ditempatkan sebagai pemain magang dalam Pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Kepala bidang Pembinaan dan Prestasi PSBI, Susy Susanti, mengatakan status magang Tontowi tak lepas dari kebijakan skala prioritas PBSI dalam memberangkatkan pemain untuk mengikuti turnamen internasional.

Tontowi, 32 tahun, mengatakan memang ia sudah mulai terpikir untuk pensiun sejak tahun lalu, ketika pasangannya di sektor ganda campuran, Liliyana Natsir, menggantungkan raket.

Liliyana dan Tontowi mencatat sejarah prestasi yang cemerlang sebagai salah satu pasangan Indonesia paling sukses dengan meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 di Brasil, serta kemenangan dalam sejumlah turnamen bergengsi lain, termasuk tiga kali juara All England dan dua kali raih emas di Kejuaraan Dunia.

Hampir satu setengah tahun setelah Liliyana, kini Tontowi menyusul dengan mengirimkan surat pengunduran diri dari pemusatan latihan nasional kepada Pengurus Pusat PBSI, hari Senin (18/5).

Salah satu alasannya adalah langkah PSBI yang menjadikannya sebagai pemain magang sejak Desember 2019.

Tontowi mengatakan ia kaget ketika mendengar kabar itu.

"Kalau magang di PBSI memang saya agak keberatan, karena kan untuk status magang itu dari atlet junior yang mau masuk ke pelatnas, sedangkan saya kan sudah nggak ada kepentingan lagi, karena saya sudah mendapatkan golnya," kata Tontowi dalam acara konferensi pers daring, hari Senin (18/05).

Dia mengungkap bahwa status magang itu menggangu motivasinya untuk melanjutkan karier.

Pemain kelahiran Banyumas ini berharap PBSI bisa lebih menghargai pemain-pemain yang berprestasi.

"Saya sudah pernah masuk delapan besar yang sudah ngalahin pemain-pemain top10. Maksudnya saya itu nggak sejelek itu, yang harus langsung dibuang ... sebenarnya itu bukan masalah, cuma ya untuk PBSI mungkin lebih bisa menghargai," ujar Tontowi.

Namun demikian, ia sebut alasan utama mundur adalah keinginan untuk fokus dengan keluarga.

"Memang saya merasa saya sudah cukup dan saya ingin banyak waktu untuk keluarga," ujar ayah dari dua anak itu.

Kepala bidang Pembinaan dan Prestasi PSBI, Susy Susanti, mengatakan kebijakan menempatkan seorang atlet sebagai pemain magang dilaksanakan sesuai proses pemilahan skala prioritas pemain untuk diberangkatkan mengikuti turnamen.

"Untuk kasus Tantowi, karena dia belum ada partner yang tetap, kita masukinnya di magang. Karena kan ada kewajiban PBSI untuk memberangkatkan atlet. Kalau dia tidak ada partner, otomatis kan kita juga punya skala prioritas," kata Susy melalui telepon (18/05).

'Momentum pas untuk mundur'
Susy menjelaskan bahwa Tontowi tahun lalu sempat berpasangan dengan Winny Oktavina Kandow dan diberti kesempatan tanpa batas untuk mengikuti turnamen menuju Olimpiade.

"Dalam persaingan itu, Owi (panggilan Tontowi) dan Winny kurang bisa menunjukkan prestasi, sehingga peringkatnya itu tidak masuk dalam Olimpiade. Otomatis setelah itu Winny kembali lagi dengan pasangan lamanya dan Tontowi hanya sendiri," tutur Susy.

Bagi yang berstatus magang, kata Susy, jika berprestasi akan dapat penghargaan tambahan untuk bertanding.

"Jadi memang karena bujet terbatas di PBSI, tentunya kita juga harus melakukan skala prioritas siapa aja yang memang harus dibiayain lebih. Tapi kalau berprestasi tentunya tidak menutup kemungkinan," tambahnya.

Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016.EPA

Ia memberi contoh atlet yang juga diberi status magang, seperti pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan.

Hendra/Ahsan sempat dipisahkan dan kemudian dipasangkan lagi.

Keduanya mencatat prestasi mengesankan, termasuk dengan menjuarai All England pada 2019.

Menurut pengamat bulu tangkis Broto Happy, saat ini memang menjadi momentum yang pas bagi Tontowi untuk mundur dengan meninggalkan catatan emas dan segudang prestasi yang ditorehkan bersama Liliyana.

"Dia sudah berkiprah begitu lama, mungkin setengah umurnya udah dia habiskan di bulu tangkis, kemudian prestasinya sudah hebat. Sementara, ketika dia diberi kesempatan untuk ber-partner dengan pemain-pemain yang lebih muda, ternyata memang itu bukan pekerjaan yang mudah dan akhirnya memang sebuah keputusan harus diambil oleh Owi untuk mundur," kata Broto kepada BBC News Indonesia, Senin (18/05).

"Saya kira keputusan mundur sudah tepat karena dia saat ini sudah berada di puncak untuk mundur. Saya kira mungkin dia mundur dengan legowo, dengan enak sekali, karena bisa mundur dengan prestasi berada di puncak," tambahnya.

Lebih lagi, Broto berpendat pandemi Covid-19 juga mempengaruhi keputusan Tontowi untuk segera mundur karena belum ada kepastian turnamen berikutnya yang bisa dijadikan ajang perpisahan baginya.

'Regenerasi berlangsung mulus'

Dengan berakhirnya karier ganda campuran Tontowi dan Liliyana, penerus mereka juga menjadi perhatian.

Menurut Broto, regenerasi ganda campuran sejauh ini sudah berjalan lancar, terbukti dengan naiknya prestasi pasangan Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti.

"Setelah Owi dan Butet (panggilan Liliyana) mundur, sekarang sudah ada penggantinya Praveen dan Melati, yang bulan Maret lalu menjadi juara di All England, tentu sudah prestasi yang luar biasa, menunjukkan bahwa proses regenerasi, tongkat estafet yang terjadi di sektor ganda campuran itu berlangsung dengan mulus," ujar Broto.

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir kalahkan ganda campuran Hong Kong Chun Hei Reginald Lee dan Hoi Wah Chau dalam semifinal Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Glasgow, Skotlandia, Agustus 2017. Getty Images

Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto mengatakan regenerasi atlet bulu tangkis memang terus diperhatikan.
Ia menegaskan kesiapan Praveen dan Melati untuk melanjutkan prestasi Indonesia di sektor ganda campuran. Selain All England 2020, pasangan itu sebelumnya juga meraih kemengan di Denmark Terbuka 2019 dan Prancis Terbuka 2019.

"Ada juga beberapa pemain muda yang sudah siap untuk naik. Jadi pasangan Rinov Rivaldy dan Pitha Haningtyas Mentari, mungkin juga pasangan pelapis Hafiz Faizal dan Gloria Emanuelle Widjaja. Saya kira regenerasi kita jalan terus. Ada pasangan Mychelle Crhystine Bandaso dan Adnan Maulana. Banyak sekarang, yang sudah kita siapkan untuk menggantikan Owi dan Butet," tuturnya.

Budiharto membero apresiasi atas prestasi Tontowi sepanjang kariernya.

"Puncak prestasi Tontowi adalah di Olimpiade Rio 2016. Setelah di Olimpiade London 2012 kita gagal menyumbang medali dari bulutangkis, di tahun 2016 bersama Liliyana, Tontowi berhasil mempersembahkan medali emas. Itu adalah jasa yang sangat dihargai oleh PBSI dan seluruh bangsa Indonesia," lanjut Budiharto.[BBC I]

iklan sesama guru mari berbagi

Komentar

Loading...