Penyakit Autoimun Sosial

Penyakit Autoimun Sosial
Ilustrasi.net

PENYAKIT autoimun merupakan penyakit adanya keganjilan dalam sistem kekebalan tubuh manusia yang menciptakan penyakit bagi manusia itu sendiri. Padahal, normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. 

Penyebab penyakit ini adalah  sistem imun yang tidak mampu mengenal, merespon, dan mengingat akan tugasnya sebagai sistem yang harus melindungi kekebalan tubuh. Konon kabarnya, obat yang diberikan kepada penderita penyakit autoimun adalah obat yang dapat merangsang sistem imun agar dapat kembali mengenal, merespon, dan mengingat fungsinya, yakni melindungi kekebalan tubuh dari serangan berbagai penyakit.

Karena saya bukan seorang dokter atau tenaga medis, saya tidak akan membahas lebih jauh jenis penyakit tersebut, namun saya akan menganalogikan penyakit tersebut dengan  kehidupan sosial, baik bermasyarakat maupun bernegara. Dari sudut pandang anatomi, kehidupan bermasyarakat atau berbangsa itu laksana sebuah tubuh, saling menopang dan saling menguatkan.

Jacques Derrida, filsuf asal Perancis mengibaratkan kehidupan bermasyarakat atau berbangsa itu laksana tubuh manusia. Didalamnya terdapat “sel-sel” yang menciptakan kekebalan tubuh dari berbagai perbuatan yang dapat merusak tatananan kehidupan. Sel-sel kehidupan berbangsa dan bernegara kita terdapat dalam lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Sesuai dengan fungsinya, “sel-sel” yang terdapat di  lembaga-lembaga  tersebut idealnya menjadi pelindung kelangsungan hidup, martabat, dan kewibawaan negara. Demikian pula “sel-sel” yang ada dalam tatanan kehidupan sosial, entah itu suami, orang tua, ustadz, ulama, guru, dan “sel-sel” kehidupan lainnya merupakan  pelindung bagi kenyamanan dan keamanan hidup orang-orang yang ada di sekitarnya.

Namun  dalam kenyataannya tidaklah seperti yang diharapkan semua orang. Sel-sel yang seharusnya menjadi pelindung keutuhan hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat malah menjadi perusak dan penghancur tatanan kehidupan.  Sel-sel kehidupan di masyarakat maupun dalam negara, entah itu ustadz, guru, orang tua, polisi, tentara, pejabat yang seharusnya menjadi penguat kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam kenyataannya menjadi penyerang keutuhan negara.

Seorang guru yang seharusnya menjadi pamong bagi peserta didik malah sebaliknya. Peserta didik yang seharusnya mendapatkan kemanan dan  kenyaman selama mengikuti pelajaran di sekolah karena ia berada di tengah-tengah orang tua keduanya, namun nyatanya tidak seperti yang diharapkan.  Kekerasan dan peristiwa menyakitkan sering menimpa mereka. Pelakunya tiada lain adalah gurunya sendiri.

Di rumah pun demikian. Idealnya, seorang suami menjadi pelindung bagi istrinya. Namun nyatanya, tak sedikit para istri yang menjadi korban kekerasan suaminya. Kini sering terjadi seorang suami sengaja menjual paksa kemolekan tubuh istrinya. Demikian pula dengan anak-anak. Mereka  sering menjadi korban tindak kekerasan yang dilakukan para orang tuanya. Tak sedikit orang tua yang tega menyakiti,  bahkan  menghabisi nyawa buah hatinya.

Dalam kehidupan bernegara pun tak jauh berbeda. Aparatur negara yang sejatinya menjadi pelindung kehidupan bermasyarakat dan bernegara, malah sebaliknya. Mereka menjadi perusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif sering dinodai oleh orang-orang yang seharusnya menjunjung tinggi martabat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siapapun akan merasa heran, ketika polisi, hakim,  dan jaksa melakukan tindak kejahatan dan akhirnya menjadi penghuni Rumah Tahanan atau Lembaga Pemasyarakan.  Seorang polisi, jaksa, dan hakim yang seharusnya menjadi tameng penegak hukum dan keadilan, malah sebaliknya.

Kasus terbaru, seorang jaksa terlibat dalam putaran kasus Joko Candra, koruptor kelas kakap. Kasus lainnya penyerangan Polsek Ciracas beberapa waktu lalu. Polisi dan TNI yang seharusnya memberi contoh merekatkan persatuan dan kesatuan, malah menodai nilai-nilai persatuan yang selalu mereka dengungkan, “NKRI harga mati”.

Semakin meningkatnya tindak pidana korupsi merupakan bukti lainnya  bahwa tatanan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara kita telah disakiti orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga martabat, kewibawaan, keamanan, dan kenyamanan hidup di negeri ini. Seorang pejabat yang seharusnya menjadi ponggawa penjaga keuangan negara malah sebaliknya. Ketika uang dititipkan kepada sang pejabat bukannya bertambah, malah hilang dipakai kepentingan pribadi alias dikorupsi.

Dalam kehidupan intelektual dan beragama pun tak jauh berbeda. Kini, agama sering dijadikan topeng untuk melakukan tindak kejahatan. Kasus Kangjeng Dimas yang menggemparkan negeri ini beberapa waktu lalu menjadi salah satu buktinya. Anehnya lagi, yang menjadi beking perbuatan Kangjeng Dimas bukan orang awam, namun orang-orang berpendidikan tinggi, kaum intelektual yang seharusnya memberikan pencerahan kepada masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tak masuk akal,  melanggar norma,  dan hukum.

Sudah beberapa lama pula, kehidupan sosial-politik kita dilanda wabah saling lapor, entah karena taat hukum atau karena emosi sesaat. Kalangan elit politisi, para pejabat, pemimpin ormas, dan pengusaha terjebak ke dalam putaran wabah saling tuntut dan saling “mempolisikan” walaupun pada akhirnya tak ada masalah yang tuntas diselesaikan.

Benar semua hal yang telah dipaparkan tersebut merupakan perbuatan oknum-oknum tertentu saja. Namun demikian,  kita layak berasumsi, “jangan-jangan berbagai institusi di negara kita tengah menderita “penyakit autoimun”. Semua kalangan harus mencari penyebabnya dan segera mengobatinya. Namun demikian,  konon kabarnya, biang keladi utama dari semua itu adalah  hoax yang merupakan  modernisasi dari gosip.

Apapun penyebabnya, demi kenyamanan hidup bermasyarakat atau berbangsa kiranya perlu diberikan perlakuan agar semua orang kembali mengenal, merespon, dan mengingat fungsi dan perannya di tengah-tengah kehidupan.  Dengan cara seperti ini, diharapkan keamanan dan kenyamanan hidup di negara kita dapat diraih kembali.

Dalam konsep al Qur’an, tugas manusia adalah beribadah. Salah satu bagian dari beribadah adalah memakmurkan bumi,  dan menjauhi perbuatan yang merusak tatanan kehidupan. Oleh karena itu, kehidupan yang kita jalani harus saling menopang, saling menjaga, dan saling menguatkan satu sama lainnya.

...dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain...” (Q. S. Az-Zukhruf : 32).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...