Pengantar Kerinduan

Pengantar Kerinduan

Mahwi Air Tawar 

Saya sedang di sebuah cafe, ketika pesan singkat yang dikirim via watshap dari Ibunda Sofhie masuk. Katanya, Mas, saya ingin menerbitkan buku puisi. Boleh minta kata pengantar? Saya tak langsung menjawab. Saya merasa, permintaan yang dikirim itu salah kirim. Karena selama ini, saya selalu menolak ketika diminta menulis kata pengantar, oleh siapapun, tak terkecuali oleh penyair.

Sebagai penulis, yang terbiasa menulis apapun, kecuali menulis buku proyek-buku ajar, juga menulis biografi politikus, tentu tidak sulit menulis kata pengantar kumpulan puisi. Sebagai penulis, yang kebetulan juga menulis puisi, saya merasa berat hati ketika harus menulis kata pengantar buku kumpulan puisi. Bukankah, "seharusnya” yang memberi kata pengantar itu adalah kritikus, atau paling tidak akademisi sastra? Dengan begitu, sang kritikus tak sekadar mengapresiasi tapi juga memberi kritik yang membangun, dan yang lebih penting adalah, tradisi kritik sastra yang sudah lama matisuri di lingkungan sastra Indonesia, kembali berdegup.

"Mas, saya dapat rekomendasi dari Pak Thobroni, dosen sastra di sebuah Universitas,” tulisnya, “saya seorang guru,” lanjutnya. Saya kenal Thobroni. Ia seorang guru budiman, dan baik hati, batin saya.

Sejenak saya berpaling dari handphone dengan pesan yang, tiba-tiba membuat saya lupa dengan tujuan datang ke cafe. Saya hampiri barista, yang kebetulan perempuan, “ekspreso?” saya pun mengangguk sambil mengerlingkan mata, “akan segera saya antar,” imbuhnya sembari berpaling.

Kursi-kursi, berikut meja cafe masih sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Suasana seperti ini, seakan menegaskan kepada saya untuk segera membuka laptop, menulis. Sang barista yang manis itu mengerti, kedatangan saya ke cafenya tak semata-mata ingin minum kopi, tapi mengerjakan sesuatu, yang tentu saja ia tak mengerti, apa yang saya kerjakan di cafenya.

Seorang guru?, gumam saya sembari membuka handphpone, dengan maksud menjawaban pesan yang belum saya jawab. Terkadang ada perasaan ngeri dan, sekaligus takjub kepada sang guru, yang kita tahu, guru di negara kita banyak dibebani tugas-tugas administrasi sekolah, sertifikasi, dan segala tetekbengik urusan tehnis, sehingga membuat sang guru, hampir tiada waktu berinovasi dalam memberi materi kepada murid-murid yang dicintainya. Tapi ajaib bukan, di tengah-tengah kesibukannya, ibunda Sofhie, sang pengajar kita bisa menulis puisi? Betapa istimewa.

Tak sedikit guru yang dengan sepenuh hati, menyerahkan hidupnya untuk mengajar, bahkan, mereka rela menyeberangi sungai yang deras, berjalan berkilo-kilo meter hanya semata-mata ingin mengajar agar murid-murid yang disayanginya sepenuh jiwa, bisa mewujudkan cita-citanya, atau lebih jauh memberi kontribusi kepada negeri. Tak sedikit pula di antara mereka tak dibayar. Semua itu dilakukan dengan cinta.

Di sela-sela menunggu pesanan kopi ekspreso datang, saya membayangkan para guru yang waktunya hampir habis dengan tugas-tugas administrasi itu, tak perlu mengajar lagi sesuai dengan kurikulum yang rumit. Tapi guru-guru itu mengajak murid-muridnya dengan bebas, berpetualang ke negeri-negeri jauh, atau menyusuri masa lalu negeri Indonesia, lewat bacaan-bacaan. Atau diajaknya murid-murid bertamasya literasi ke tempat yang indah, pedalaman Kalimantan, Ternate, Papua, sambil sesekali mengamati aneka jenis flora dan fauna sebelum semua itu habis terkikis oleh rencana-renacana pembangunan, baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan pabrik sehingga, rimbun hutan, keindahan flora dan fauna, yang pernah diteliti dan diabadikan dalam buku Alfred Russel Wallace, Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam, bisa mereka ketahui.

Berpetualang lewat karya sastra akan semakin asyik lagi tentuntya, karena dengan begitu murid-murid tak perlu mengerutkan kening untuk mengetahui keadaan negeri di masa lalu, karakter tokoh, dan tentu kisah-kisah cinta, sebagaimana murid-murid rasakan. Saya pun, yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah akan senang tentunya, dan ingin kembali mengulang peristiwa di masa lalu. Tapi saya tidak akan pernah kembali jika sang guru, mesti mengajar sesuai dengan buku bahan ajar yang ditetapkan pemerintah, yang dalam banyak bagian teramat kaku, dan membuat guru terkadang harus mengabaikan banyak waktu lain demi memahami materi dari teori yang kaku ini.

Sang barista yang berjalan berlenggang membawa ekspreso tersenyum, kemudian menyuguhkan. "Boleh gabung? Kebetulan tak ada pelanggan datang.” si  menawarkan diri. Tentu saja saya tak bisa mengelak, tak bisa berpaling.

“Silahkan,” jawab saya, “Kebetulan saya lagi memikirkan sesuatu, mungkin kita bisa berbagi cerita.”

“Wah, pasti menarik. Saya senang berbagi cerita,” sambutnya, “apalagi hari-hari saya menjenuhkan, sekalipun membuat kopi adalah pekerjaan yang sangat saya sukai.” Sambungnya tanpa memberi saya kesempatan menanggapi, “tapi tidak selamanya apa yang kita sukai menyenangkan, bukan?”

Saya mengangguk senang dengan gayanya berbicara, “waktu sekolah, pelajaran apa yang membuatmu senang?” tanya saya tanpa basa-basi. Ia tak segera menjawab. Ia membuang pandang ke arah pintu masuk. “Tak ada pembeli yang datang,” kata saya. “nah, pelajaran apa paling menyenangkan?” kata saya mengulang.

“Semua pelajaran membosankan. Kecuali menulis puisi,” sesaat saya mengerlingkan mata, memandanginya dengan sedikit kagaum, “saya suka puisi bukan karena saya mengerti puisi. tapi karena saya suka cara Ibu Mara, menjelaskan isi pesan dari puisi itu. Dengan begitu, saya dan teman-teman bisa keluar sejenak dari rutinitas memahami materi buku ajar yang membosankan.” jawabnya.

“Bagaimana dengan puisi ini?” tanya saya sambil menggeser tempat duduk sehingga pundak kami hampir bersentuhan. Saya serahkan handphone kepadanya agar membaca puisi yang baru dikirim oleh Ibu Sofhie, guru bahasa yang kebetulan juga menulis puisi.

ADA WAKTUNYA

Ada waktunya kita terlupakan
Ada saatnya kita tersisihkan
Ada kalanya kita terabaikan
bahkan sedetik saja

Ada waktunya teman melupakan
Ada saatnya sahabat menyisihkan
Ada kalanya kerabat mengabaikan

Seusai membaca puisi di atas, tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya ke pundak saya. Terasa benar aroma rambutnya menusuk penciuman, sejenak saya meliriknya. Ia menangis, tersedu. Tepat, gumamnya dengan sauara serak; “kenapa manusia suka sekali saling menyakiti, dan melupakan hal-hal sederhana, seperti mengingat bahwa kita sebenarnya bersaudara, bersahabat? Kenapa manusia begitu cepat melupakan kebaikan-kebaikan yang diperbuatan oleh manusia lainnya kepadanya?”

Terang saja saya tidak mengerti maksud dari pertanyannya, “puisi ini luar biasa.” Lanjutnya, “dalam puisi ini, penyair Sofhie, menggambarkan yang yang kita alami saat ini. Puisi ini sederhana tapi sangat tepat menggambarkan situasi persaudaan kita hari ini.”

Saya yang belum membaca puisi di atas, terang tak sabar ingin segera membacanya. Kalaulah benar apa yang dikatakan sang berista, yang duduk manis di samping saya: Kita memang tak dapat berpaling hati dari situasai yang runyam, apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang. Betapa mudahnya kita tersulut amarah, lalu melupakan tali persaudaraan, persahabatan bahkan, hubungan anak dan ibu terberai hanya gara-gara berbeda pilihan calon bupati, calon gubernur, dan calon presiden.

Dalam situasi seperti sekarang, dimana kebencian lebih cepat bergerak mencari sasaran daripada berpikir rasional mencari kebenaran. Dalam situasi dimana hampir semua hal “diperjual-belikan”, termasuk agama. Dalam situasi dimana politikus dengan senyuman dipaksakan, diam-diam mengajak orang yang mendukungnya membenci orang yang tak mendukungnya, lengkap satu paket dengan dalil agama, atas nama kesatuan bangsa. Namun pada saat yang sama api kebencian terus dihembuskan, sehingga perpecahan antara sesama tak terhindarkan.

“Ah, bosan saya dengan situasi sekarang." Keluhnya, "hampir semua orang merasa benar dan membenci orang yang tak sejalan dengannya,” katanya sambil mengambil handhpone, yang sejak tadi saya letakkan di atas meja. “coba mana, saya ingin membaca puisi-puisi yang menyenangkan, semacam kerinduan,” katanya manja. “Nah, ini, di sini kita hanya berdua,” katanya riang.

DI RESTORAN

Kita berdua
di sebuah restoran
sibuk membaca menu di meja
musik berkelana
hening berwarna

Kau memesan apa?
nyanyian yang lama usai
dan segelas resah tertuang gamang

sedangkan aku
mematut diri dalam kaca
yang dipajang oleh matamu yang hilang.

Seusai membaca satu puisi karya ibu Sofhie, ia berbisik. “Manusia semakin asing dengan dirinya sendiri. “Terima kasih, sudah memberi saya waktu bercakap-cakap,” katanya sembari meninggalkan saya, “ada pembeli yang datang,” imbuhnya.

Saya melirik pada pembeli muda-mudi itu masuk. Mereka memilih tempat duduk di pojok. Mula-mulanya keduanya tampak akrab, membicarakan sesuatu. Tapi beberapa saat berselang, tiba-tiba keheningan dan perasaan asing segera tergambar dari meja tempat muda-mudi itu duduk. Keduanya kini tak lagi saling berbicara, tak saling pandang sebagaimana sepasang kekasih. Masing-masing menunduk, memandang khusyuk pada benda kecil, gadjet.

Seusai mengantar pesanan muda-mudi itu, sang baristi menghampiri saya, katanya sambil menunjuk ke arah pasang muda-mudi yang menunduk itu, “mereka seperti dalam puisi ibu Sofhie, yang baru saja baca barusan. Sunyi dalam keramaian.” Selorohnya sambil tertawa.

“Wah, kalau begitu puisi ini aktual?”

“Sangat aktual,” jawabnya pendek.

“Kalau begitu saya pulang dulu,” pamit saya. Sang barista tak percaya. Tampak dari matanya, ia ingin sekali berlama-lama duduk dan membicarakan banyak hal dengan saya.

“Kenapa Mas mau cepat-cepat pergi, bukannya, Mas belum membuka laptopmu?” tanyanya.

“Ya, saya ingin segera pulang dan menulis kata pengantar,”

“Pengantar apa?” tanyanya polos.

“Pengantar puisi-puisi Ibu Sofhie, yang tadi kamu baca,” jawab saya sambil mengulum senyum kepadanya, dan menyelipkan selembar uang tip di bawah cangkir.

18 Desember 2018, Utan Kayu-Pondok Cebe, Pp

Komentar

Loading...