Pengacara Fitriadilanta: Wartawan Antara Berperan Ganda & Menghakimi Terdakwa

Pengacara Fitriadilanta: Wartawan Antara Berperan Ganda & Menghakimi Terdakwa
Penasehat hukum Fitriadi Lanta, Rahmat (kanan) dan Pujiaman (kiri). Ist

CAKRADUNIA.CO, Meulaboh - Penasehat hukum Fitriadi bin Lanta, Rahmat, S.Sy., CPCLE., dan Pujiaman, S.H. menegaskan pemberitaan yang dipublis oleh media Antara (aceh.antaranews.com), Selasa 23 Juni 2020 lalu pukul 06.55 WIB dengan judul “Kasus UU ITE, Ketua LSM di Aceh Terancam Pidana 10 Tahun” sangat merugikan terdakwa dan Keluarganya.

Pasalnya, kata Rahmat, oknum wartawan antaranews.com berinisial ‘DI’  menulis berita tersebut tanpa melakukan konfirmasi kepada terdakwa atau penasehat hukumnya Fitriadi.

Menurut Rahmat, dalam pemberitaan yang dipublikasikan  di aceh.antaranews.com tersebut jelas-jelas tidak berimbang dan hanya mengambil isi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (pasal utama dan pasal alternatif) yang dibaca dalam persidangan, Senin tanggal 22 Juni 2020 di Pengadilan Negeri Meulaboh.

“Kami sebagai Penasehat Hukum Fitriadi menduga bahwa oknum wartawan yang membuat dan menulis berita tersebut memerankan peran ganda sebagai jaksa, sehingga isi pemberitaannya hanya isi dakwaan jaksa tanpa melakukan konfirmasi dan/atau tanpa meminta pandangan baik dari terdakwa ataupun penasehat hukum terdakwa untuk mengimbangi informasi yang didapatkan sepihak, terkesan menghakimi terdakwah,” katanya kepada cakradunia.co, Rabu (24/6/20).

Pemberitaan itu, kata Rahmat, jelas merugikan terdakwa dan keluarga, pasalnya akibat berita yang tidak berimbang yang ditulis oleh oknum wartawan tersebut dengan serta merta menghakimi terdakwa Fitriadi.

Padahal yang perlu diketahui bahwa berdasarkan kode etik Jurnalistik yang dicantumkan dalam Pasal 3 Kode Etik jurnalistik disebutkan, wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran isi pasal tersebut, kata Rahmat, masing-masing:

a.Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b.Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c.Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d.Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Selain itu, sebut Rahmat, pemberitaan tersebut juga melanggar Pedoman Media Siber tentang Verifikasi dan Keberimbangan berita.

Terkait berita ini, oknum wartawan yang membuat dan menulis berita tersebut jelas sudah melanggar kode etik Jurnalistik yang mengakibatkan Fitriadi bin Lanta merasa dirugikan dan membuat pihak keluarga Fitriadi Lanta merasa risau.

“Kami dari penasehat Hukum akan melaporkan oknum wartawan tersebut ke Dewan Pers,”tutup Rahmat serius.(df)

iklan Flayer Gub10
Iklan Ducita Habib Qudrat - Golkar
Iklan Covid-19 Gub.1

Komentar

Loading...