Pendengaran Seorang Pemimpin

Pendengaran Seorang Pemimpin
Ilustrasi

MENYADARI umurnya sudah sangat tua, seorang raja mengirimkan seorang anak tunggal  yang akan menjadi penggantinya kepada seorang guru bijak. Ia menginginkan guru tersebut mendidik anaknya bersikap dewasa, memiliki jiwa kepemimpinan, dan yang paling utama dapat berpikir, bertutur, bertindak bijak, dan tidak membohongi suara hati nuraninya.

Guru bijak yang kedatangan sang raja dan mengetahui maksud kedatangannya, dengan hati terbuka menerima maksud sang raja. Sejak hari kedatangannya, putra mahkota sang raja jadi murid sang guru.

Tak membuang-buang waktu, sang guru memberikan berbagai pelajaran dan wejangan. Putra mahkota merasa betah dan paham akan setiap pelajaran yang diberikan gurunya. Seberat apapun pelajaran dan pelatihan yang diberikan sang guru selalu dilakoninya tanpa mengeluh sedikit pun. Gurunya pun semakin kagum akan kegigihan muridnya tersebut.

Pada suatu kesempatan, pagi-pagi sekali sang guru mengajak muridnya tersebut untuk belajar di alam. Ia mengajak muridnya masuk hutan belantara.  Setelah berada di tengah-tengah hutan belantara, ia berkata kepada muridnya.

“Mulai sekarang, kamu harus tinggal dan menyepi di hutan ini. Tugasnya sederhana. Kamu harus mampu mendengarkan suara-suara yang kamu dengar di alam ini.” Demikian kata sang guru.

Tanpa bicara sepatah katapun, muridnya tersebut melaksanakan perintah yang diberikan gurunya yang bijak. Waktu pun berlalu. Sesudah sekian lama menyepi di hutan belantara, ia kembali ke padepokan gurunya. Sesampainya di padepokan, ia menghadap gurunya yang merasa bahagia kedatangan murid setianya.

“Guru, aku berhasil mendengarkan suara-suara indah yang ada di hutan belantara.” Demikian katanya.

“Setiap pagi, aku mendengar suara berbagai burung yang bernyanyi indah, gemercik dedaunan yang tertebak angin, aku pun mendengar suara goyangan rumput yang disapa angin sepoy-sepoy. Aku pun mendengar indahnya suara embun yang berjatuhan diantara dedaunan.” Lanjut muridnya.

Sang guru mengangguk-anggukan kepalanya. Sejak muridnya bicara, ia menyimaknya dengan penuh perhatian. Ia kagum atas kegigihan muridnya, namun kemudian ia berkata, “Bagus nak, kamu sudah mampu mendengarkan suara-suara yang ada di hutan. Tapi itu semua hanyalah suara-suara biasa. Semua orang bisa mendengarkan suara-suara seperti suara yang kamu dengar. Kamu belum lulus dari pelajaran ini. Kamu harus mampu mendengarkan suara-suara yang jarang terdengar orang-orang pada umumnya. “

“Kini, kembalilah nak ke hutan belantara. Kamu harus mampu mendengarkan suara-suara istimewa yang kebanyakan orang jarang mampu untuk menangkap suaranya.” Demikian kata guru selanjutnya.

Tanpa memperhatikan tubuhnya yang masih kelelahan, ia pamit kepada gurunya untuk kembali menyepi di hutan belantara. Dengan iringan do’a, sang guru melepas kepergian murid setianya tersebut.

Selang beberapa lama, ia menyepi di tengah-tengah hutan belantara. Beberapa waktu lamanya, ia berlatih mendengarkan suara istimewa yang dimaksud  gurunya. Dari hari ke hari, ia tak dapat menangkap suara apapun selain suara seperti ketika pertama kali menyepi dahulu. Namun, ia tak putus asa, terus berusaha melatih diri memfokuskan hati, pikiran, dan pendengarannya agar mampu mendengar suara istimewa. 

Latihan keras yang dilakoninya mulai membuahkan hasil. Ia mampu mendengarkan suara-suara istimewa yang ditugaskan gurunya. Singkat cerita, setelah sekian lama menyepi, ia pun bergegas kembali ke padepokan gurunya.

“Guru, aku sudah mampu mendengar suara istimewa, suara yang tak terdengar oleh orang-orang awam. Aku mendengar suara-suara kuncup bunga  yang mulai mengembang; aku mendengar suara senyuman rumput menyambut embun pagi. Akupun mendengar suara alam bernyanyi menyambut datangnya kecerahan pagi hari yang dihiasi hangatnya sinar mentari.” Demikian kata sang murid menceritakan hasil menyepinya.

Gurunya merasa bangga atas keberhasilan murid setianya. “Bagus nak. Kamu telah berhasil mendengarkan suara yang tak terdengar. Suara yang jarang didengar orang-orang awam. Engkau layak menjadi seorang pemimpin,  menggantikan kedudukan ayahmu.”

“Ingat nak! Orang yang layak menjadi pemimpin adalah orang-orang yang mampu mendengar suara-suara yang tak terdengar. Suara-suara tersebut adalah suara hati nurani rakyat; merasakan segala kesah dan penderitaannya. Menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak diunjukkan, dan tawa yang tak pernah terungkap di depan muka.”  Lanjut sang guru bijak.

Tak sampai disana, sang guru bijak tersebut memberi nasihat kepada muridnya yang kelak akan menjadi raja pengganti ayahnya. “Ketahuilah nak. Suatu kerajaan akan binasa bahkan mengalami kemunduran dan kehancuran, manakala rajanya hanya mampu mendengar suara yang terdengar, unjuk rasa yang terlihat mata, dan mendengar kata-kata yang terlontar.”

“Sebuah negara akan binasa jika para pemimpinnya malas melakukan blusukan

menelusuri perasaan yang tersimpan di relung hati rakyatnya.” Lanjut guru bijak melanjutkan nasihatnya

Alangkah indahnya, jika suatu negeri memiliki pemimpin yang benar-benar memiliki pendengaran yang tajam, mampu mendengarkan suara-suara hati nurani rakyatnya. Pemimpin yang mampu mendengarkan jeritan tangis rakyatnya yang hidup dalam himpitan kemiskinan.

Alangkah indahnya jika suatu negeri memiliki para pemimpim yang berbicara benar-benar dengan hati nuraninya. Tutur kata dan perilakunya seiring dengan suara hati nuraninya. Matanya sembab ketika melihat kesulitan hidup rakyatnya. Tubuhnya merinding ketika mendengar banyak rakyat yang dirampas haknya dan diperlakukan tidak adil.

Kemakmuran yang berkeadilan suatu negeri akan segera tercapai manakala para pemimpin telah benar-benar memimpin dengan hati nuraninya. Lebih dari itu, kebenaran yang diwujudkan dalam tutur, perilaku, dan tindakan yang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya akan mengundang datangnya rahmat dan maghfirah-Nya, seraya Ia akan menjadikan negeri yang baik yang senantiasa ada dalam perlindungan-Nya. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...