Pemimpin yang Sederhana

Pemimpin yang Sederhana
Ilustrasi.net

WARGA Hamish melaporkan Walikotanya, Said Amir al-Jamahi kepada Umar bin Khattab. Setelah menerima laporan tersebut, Umar bin Khathab sebagai Khalifah tidak langsung menanggapi dan mengambil tindakan kepada Walikota yang diangkatnya.

Ia berusaha mengumpulkan berbagai data dan pendapat masyarakat. Sang Khalifah berdoa, “Ya Allah! Janganlah Engkau melemahkan pandanganku tentang (pengaduan masyarakat) ini.”

Setelah mengumpulkan data dan pendapat masyarakat, sang Khalifah memutuskan untuk berkunjung ke kota Hamish dan berdialog langsung dengan masyarakat dan Said Amir al-Jamahi, sang Walikota. “Aku harus mendapatkan penjelasan langsung, baik dari Walikota maupun warga kota Hamish.” Demikian kata Khalifah Umar bin Khathab.

Singkat cerita, warga kota Hamish begitu gembira tatkala mengetahui kedatangan sang Khalifah yang terkenal dengan ketegasan dan keadilannya. Dalam dialog dengan sang Khalifah, warga kota Hamish tetap bersikukuh mengadukan perilaku sang Walikota.

“Baiklah! Jadi kalau begitu, bagaimana perilaku sang Walikota itu?” Demikian sang Khalifah mengawali dialognya.

Seorang tokoh warga kota Hamish mengungkapkan, “Setidaknya terdapat empat hal yang ingin kami laporkan kepada Anda, wahai Amir al-Mukminin. Pertama, dia tak pernah mau keluar hingga siang hari. Kedua, dia tak pernah mau menerima seseorang pada malam hari. Ketiga, satu hari dalam setiap bulan, dia tidak mau menjumpai kami, dan keempat dia sering nampak berduka, tidak dapat mengingat siapapun sampai beberapa hari lamanya.”

Khalifah Umar bin Khathab terkejut mendengar pengaduan warga kota tersebut. Namun ia tetap berbaik sangka kepada sang Walikota.

“Baiklah! Agar kalian jelas dan puas, mari kita berdialog langsung dengan Walikota kalian. Aku pun ingin mendengarkan alasan yang sebenarnya.” kata Umar memberikan penjelasan kepada warga yang berkumpul di hadapannya

Dengan penampilan yang sederhana dan tanpa pengawalan, sang Walikota hadir di depan warga yang mengadukan perilakunya langsung kepada sang Khalifah. Teriakan yang memuji dan menghinanya tak begitu ia hiraukan.

“Aku telah mendengar pengaduan wargamu. Aku dan wargamu ingin mengetahui alasan beberapa hal yang diadukan wargamu kepadaku.” Ungkap Khalifah Umar bin Khathab.

Dengan penuh tawaduk sang Walikota bertanya kepada Khalifah, “Apa yang harus aku jelaskan kepada Anda dan wargaku?”

“Anda tak pernah mau keluar hingga siang hari.” Teriak seorang warga.

“Nah, itu. Bagaimana pendapatmu?” Kata Khalifah.

“Sebenarnya aku sangat berat untuk menjelaskannya. Seperti Anda ketahui, aku tak memiliki pembantu. Aku mempersiapkan keperluanku sendiri. Setiap pagi aku mengolah adonan tepung sendirian. Setelah adonan itu dimasak, aku menunggunya sampai mengembang dan matang menjadi roti. Dari masakan itulah aku makan. Setelah selesai makan, aku berwudu, dan kemudian keluar untuk melaksanakan tugas dan melayani setiap keperluan warga kota.” Demikian penjelasan sang Walikota.

“Lalu mengapa Anda tak pernah mau menerima seseorang pada malam hari?” Tanya peserta dialog lainnya.

“Ini pun sangat berat bagiku untuk menjelaskannya. Tapi baiklah agar tidak berkembang menjadi syak wasangka, aku akan menjelaskannya. Siang hari aku habiskan waktuku untuk melayani kepentingan masyarakat, dalam benakku sangatlah pantas jika pada malam hari aku pergunakan seluruh waktuku secara khusus untuk bermunajat kepada Allah.” Jawab sang Walikota dengan bibir bergetar.

Dialog masih terus berlangsung. Ada peserta dialog yang memahami penjelasan sang Walikota, ada yang berdecak kagum dengan kesederhanannya, namun ada pula yang memberikan tanggapan sinis.

“Kalau sehari  dalam sebulan, mengapa pada pagi hari, Anda tidak mau menampakkan diri di tengah-tengah kami ?”

“Seperti sudah tadi saya katakan, saya tak memiliki pembantu rumah. Segala sesuatunya aku kerjakan sendiri. Aku mencuci pakaianku sendiri, dan aku bukan ingin memperlihatkan kemiskinanku, aku tak memiliki pakaian kerja pengganti. Ketika pakaian kerjaku ku dicuci, seharian itu pula aku tak berpakaian lengkap. Aku menunggu pakaian itu benar-benar kering. Apabila pakaian itu sudah kering dan siap kupakai, barulah pada sore hari aku bisa keluar menemui dan melayani kebutuhan kalian.” Jawab sang Walikota.

Mendengar jawaban sang Walikota, beberapa peserta dialog menitikkan air mata. Mereka sangat terharu dengan kesederhanaan sang Walikota.

Khalifah Umar yang sejak semula terkagum-kagum mendengar jawaban sang Walikota berkata, “Aku merasa bangga dengan Anda, dan aku tak keliru mengangkat Anda sebagai Walikota Hamish. Sebelum dialog ini ditutup, tolong jelaskan, mengapa Anda sering nampak berduka beberapa hari?”

“Amir al-Mukminin, aku selalu terbayang dengan kesyahidan seorang sahabat Anshar, Khubab al Anshari.  Dalam suatu peperangan bersama Rasulullah saw, ia tertangkap kaum kafir Quraisy. Mereka dengan kejamnya mencincang tubuhnya.”

Sebelum mencincangnya, orang-orang Quraisy menyiksanya sambil berkata, ‘Apakah engkau mau apabila Muhammad menggantikan kedudukanmu disini?’ Sahabat Anshar tersebut dengan lantang menjawab, ‘Demi Allah! Aku tak rela apabila Muhammad Rasulullah saw sampai terluka walaupun oleh sepotong duri.’ Kemudian ia berteriak-teriak: ‘Wahai Muhammad Nabiyullah...!”

Tidaklah aku mengingat masa lalu itu, dan pada waktu itu aku masih musyrik, kecuali aku mengira bahwa Allah tak mungkin akan mengampuni perbuatan masa laluku itu.’ Nah, apabila aku mengingat peristiwa itu, aku sangat berduka sekali.” Demikian jawaban sang Walikota.

Warga kota merasa puas mendengar penjelasan Sang Walikota. Kemudian Khalifah Umar bin Khathab menutup acara dialog dengan doa, “Segala puji dan syukur hanya kepada Allah yang tidak menjadikan pandanganku keliru.” (diadaptasi dari kitab karya Al Hafidh Abu Nu’aim al Ashbahany,  Hilyatul Auliya wa Thabaqat al Ashfiya, Juz I, hal.  190 - 192).

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...