Pemimpin yang Hati-Hati

Pemimpin yang Hati-Hati
Ilustrasi/Mengenang Kepemimpinan Umar bin Khattab.net  

AKU seorang ibu rumah tangga yang miskin. Suamiku meninggal beberapa tahun yang lalu. Untuk menghidupi anak-anakku, pada malam hari aku merajut benang untuk dijadikan kain. Aku tak dapat  melakukannya pada siang hari, sebab pada siang hari waktuku dipakai untuk mendidik anak-anak. Karena aku tak mampu membeli lampu, aku melakukan pekerjaanku tersebut pada malam terang bulan.” Demikian tutur seorang wanita mengadu kepada Imam Hambali. 

Mendengar cerita tersebut, hati Sang Imam tersentuh. Ia ingin sekali melepaskan kesusahan yang menjerat sang wanita tersebut. Sudah beberapa kali ia mau beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil beberapa dinar uang untuk membantu melepaskan kesulitan sang Wanita tersebut, namun ia selalu terpotong dengan ceritanya.

“Pada suatu malam, ada sekelompok kafilah milik pemerintah berkemah di depan rumahku. Mereka menyalakan lampu yang terang benderang. Malam itu, bukan malam bulan purnama. Tanpa sepengetahuan mereka, aku memanfaatkan sinar terang lampu milik kafilah tersebut untuk merajut benang menjadi kain.”

“Hatiku bimbang, kalau kain tersebut dijual, halalkah  aku makan? Sebab aku melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan menggunakan uang negara, dan tentu saja tiada lain  adalah uang rakyat?” Demikian kata wanita tersebut  melanjutkan ceritanya.

Sang Imam semakin tersentuh hatinya mendengar cerita tersebut. Ia tertegun. Pada zaman yang bobrok seperti ini ternyata masih ada orang yang begitu apik, hati-hati menanyakan halal dan haram. Padahal yang lainnya sudah tidak memikirkannya lagi.

Sang Imam semakin penasaran dengan sang Wanita yang apik tersebut. “Sebenarnya siapakah Anda ini?”

Dengan suara serak, sang Wanita tersebut menjawab, “Aku adalah adik perempuan almarhum Basyar al-Hafi.”

Sang Imam terkejut.  Basyar al-Hafi merupakan seorang gubernur yang sangat adil dan dihormati rakyat semasa hidupnya. Rupanya pangkat tinggi tidak disalahgunakan untuk kepentingan keluarga, sanak famili, sampai-sampai  adik kandungnya pun tetap hidup dalam keadaan miskin.

Dengan berat hati, Imam Hambali menjawab, “Pada masa ini, ketika orang lain sibuk menumpuk kekayaan tanpa memerhatikan lagi halal dan haram, ternyata  masih ada seorang wanita terhormat seperti engkau.”

“Sungguh, sehelai rambut engkau yang terurai dari jilbabmu, jauh lebih mulia dibandingkan dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar  jubah yang dikenakan para ulama. Demi Allah, untuk wanita semulia engkau, hasil rajutan itu haram kau makan meskipun sebenarnya bagi kami tidak apa-apa, sebab yang kau lakukan itu tidak merugikan perbendaharaan negara.” Lanjut Imam Hambali.

Kisah tersebut akan tetap mendorong kita untuk merindukan pemimpin yang benar-benar amanah.  Taat akan sumpah dan janjinya seperti yang diucapkannya ketika dilantik menjadi pejabat atau pemimpin. Jujur dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Tak  menyelewengkan jabatan. Tak menggunakan fasilitas  negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kroni-kroninya. Kita merindukan “Basyar al-Hafi” hadir di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menjadi pejabat atau pemimpin merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya. Syarat utamanya adalah adil, jujur, dan amanah. Dari sekian banyak golongan manusia yang akan dilindungi kelak di hari pembalasan adalah para pemimpin yang adil, benar-benar memerhatikan nasib rakyatnya, mendengarkan keluhan dan keinginannya,  serta tidak menutup pintunya dari orang-orang yang membutuhkan bantuannya.

Ketika terjadi perang Khaibar, ada beberapa orang sahabat Nabi saw yang berkata sambil berlari-lari, “Si Fulan syahid! Si Fulan syahid!”

Mendengar hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya aku telah melihatnya di dalam neraka, karena ada baju panjang yang diambilnya. Kemudian beliau memerintahkan Umar bin Khattab untuk memberitahukan kepada khalayak, bahwa tidak akan masuk sorga kecuali orang-orang yang beriman.” (H. R. Muslim).

Amanah ketika menjadi pemimpin atau pejabat merupakan bukti dari keimanan. Sementara hati-hati, antikorupsi, antikolusi, dan merasa cukup dengan gaji dan fasilitas yang diberikan negara, serta menggunakannya sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya akan menambah nilai lebih terhadap kepemimpinannya. Lebih dari itu akan meringankan bebannya kelak di hadapan Allah swt. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...