Pemerintahan Adil dan Langgeng

Pemerintahan Adil dan Langgeng
Qatar, negara terkaya di dunia & makmur. visitqatar.qa

Oleh: Lalik

SEANDAINYA sebuah negeri dibangun atas asas ini, saya rasa suatu keteraturan di antara manusia akan tercipta, baik dalam pemikiran maupun dalam perbuatan. Saya rasa negeri seperti itu akan memiliki pemerintahan yang paling sederhana, mudah diterima, ekonomis, terbatas, tidak menindas, adil, dan langgeng apa pun sistem politiknya. Di bawah pemerintahan seperti itu, setiap orang akan paham bahwa ia memiliki segala bentuk privilese sekaligus pula segala bentuk tanggung jawab atas eksistensinya.

Tak seorang pun akan berselisih paham dengan pemerintah, asalkan kediriannya dihormati Ia bebas bekerja, dan hasil kerjanya dilindungi dari semua ancaman yang tak adil. Ketika berhasil, kita tidak harus berterimakasih kepada negara atas keberhasilan kita. Dan sebaliknya, ketika tidak berhasil, kita tidak akan lagi berpikir untuk menyalahkan negara atas kemalangan kita sebagaimana para petani tak menyalahkan negara karena hujan es atau cuaca dingin. Dalam konsep pemerintahan seperti ini, negara hadir hanya dalam bentuk rasa aman yang kita nikmati.

Bisa dikatakan lebih jauh bahwa, karena tak ada campur tangan negara dalam masalah-masalah pribadi, keinginan kita dan pemuasan keinginan kita secara logis akan berkembang sendiri. Kita tidak akan melihat keluarga-keluarga miskin mencari instruksi tertulis sebelum mereka mendapatkan roti. Kita tidak akan melihat kota-kota besar tempat padat dengan mengorbankan wilayah-wilayah pedesaan, atau sebaliknya.

Kita tidak akan melihat tercerabutnya modal, tenaga kerja, dan populasi akibat keputusan-keputusan legislatif. Sumber-sumber eksistensi kita terancam dan menjadi tidak pasti karena ketercerabutan yang disebabkan oleh negara. Dan lebih jauh, ketercerabutan demikian semakin besar membebani pemerintah dengan berbagai tanggung jawab. Penyelewengan hukum namun sayang, hukum sama sekali tidak membatasi dirinya pada fungsi-fungsi yang seharusnya. Dan ketika ia melampaui fungsi-fungsi yang seharusnya itu, ia melampauinya tidak hanya pada masalah-masalah yang sepele dan yang tanpa dampak luas.

Hukum sudah bergerak lebih jauh dari itu; ia telah berkembang melawan tujuannya sendiri. Hukum sudah dipakai untuk menghancurkan tujuannya sendiri: Ia telah dipakai untuk memberangus keadilan yang seharusnya ia pelihara; untuk membatasi dan menghancurkan hak-hak yang seharusnya ia junjung tinggi. Hukum telah menempatkan kekuatan kolektif untuk memihak pihak yang keji yang ingin, tanpa pengorbanan diri sama sekali, memanfaatkan kedirian, kebebasan, dan hak milik orang lain.

Ia telah mengubah perampasan menjadi hak, demi untuk melindungi perampasan. Dan ia telah mengubah pertahanan diri yang sah menjadi suatu kejahatan, demi untuk menghukum hak pertahanan diri yang sah. Bagaimana penyelewengan hukum ini terjadi? Dan apa akibatnya? Hukum menyeleweng karena pengaruh dua sebab yang berbeda satu sama lain: ketamakan yang dungu dan filantropi yang salah. Mari kita bicarakan dulu yang pertama.

Kecenderungan mematikan pemeliharaan diri dan pengembangan diri adalah aspirasi atau keinginan manusia pada umumnya. Dan jika setiap orang bisa dengan bebas memakai kemampuan-kemampuannya dan menikmati hasil-hasil kerjanya, kemajuan sosial akan terus terjadi dan tiada henti. Namun ada juga kecenderungan manusia yang lain. Ketika mereka bisa, mereka ingin hidup dan makmur dengan mengorbankan orang lain. Ini bukan tuduhan ngawur. Juga bukan karena berjiwa kelam dan tanpa rasa iba.

Catatan sejarah membuktikan: terjadi terus perang, migrasi massal, persekusi keagamaan, perbudakan universal, ketidakjujuran dalam perdagangan, dan monopoli. Kecenderungan mematikan ini berakar pada watak manusia dalam insting primitif, universal, dan yang tak dapat ditekan yang mendorongnya untuk memuaskan hasrat-hasratnya dengan rasa sakit yang sesedikit mungkin.

Penulis, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...