Pemerintah Diminta Tunda & Evaluasi Izin Galian C Krueng Teunom

Pemerintah Diminta Tunda & Evaluasi Izin Galian C Krueng Teunom
Nasri Saputra

CAKRADUNIA.CO, Calang - Nasri Saputra Pemuda Pasie Raya Kabupaten Aceh Jaya meminta pemerintah, baik gampong, kecamatan, kabupaten maupun provinsi menunda pemberian izin baru untuk penambangan galian C disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Teunom.

Menurutnya, permintaan ini bukan tanpa dasar, dikhawatirkan jika operasional galian C semakin banyak dan meluas di sepanjang DAS, maka dapat mengancam ekosistem sungai dan memperparah abrasi Krueng Teunom.

Selain meminta menunda pemberian izin baru, Nasri juga minta izin yang sudah diberikan agar dievaluasi kembali. Karena selama ini, banyak keluhan masyarakat terkait proses operasional penambangan galian C yang terkesan tidak ramah lingkungan serta tidak memperhatikan dampak terhadap ekosistem, sehingga mengakibatkan kerugian masyarakat dengan mengganasnya abrasi Krueng Teunom.

"Dugaan semakin parah terjadinya abrasi disebabkan penambangan galian C yang semakin banyak di sepanjang DAS. Akibatnya banyak kebun palawija masyarakat yang amblas ke sungai," cetus Nasri yang diakuinya sebagai keluhan masyarakat yang memiliki perkebunan sepanjang DAS Krueng Teunom, Aceh Jaya.

Menurut laporan yang diterima Nasri dari masyarakat sekitar lokasi operasi izin galian C, ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab kerugian masyarakat. Diantaranya, ada pelaku usaha galian C yang mengeruk hasil bumi Krueng Teunom dengan cara membuat tanggul kearah tengah sungai untuk mengambil bahan materialnya.

Padahal, tanggul yang dibangun ini dapat memperngaruhi haluan aliran air sungai, sehingga diwaktu musim banjir air yang mengalir deras ini mengeruk tanah kebun masyarakat di sebelah sungai yang bersebrangan dengan tempat operasi penambangan galian C. Tidak hanya itu, haluan DAS sering berpindah - pindah dan menerobos tanah perkebunan masyarakat.

"Terkadang kita bisa beralibi itukan terjadi karena hukum alam, tapi yang perlu kita ketahui alam itu tidak begitu kejam tanpa dipengaruh oleh tangan jahil manusia," urainya kepada media ini, Jumat (18/6/21) pagi.

Selain itu, keluhan juga diterima dari para nelayan sungai yang merasa pendapatan mereka semakin berkurang. Mereka menduga cairan solar BBM Ekscavator dan oli yang tercecer ke air dapat mempengaruhi dan menjadi ancaman terhadap keberlangsungan hidup ekosistem sungai khususnya, udang, ikan tawar, dan penyu sungai (labi-labi).

Karena pelaku usaha terkadang tidak memperdulikan terhadap ini yang menyebabkan penghasilan nelayan ikut berkurang.[df]

Komentar

Loading...