Di Hadapan Musibah

Di Hadapan Musibah
Mahwi Air Tawar

Bermula dari puisi penyair Paul Varlaine, yang berjudul Kantuk Hitam yang saya kirimkan kepada sahabat saya, Arif Wibawa, obrolan kami tentang pentingnya bertahan dan menjaga semangat dalam menjalani. Berikut puisi penyair dari Prancis yang saya kirimkan ke sahabat saya:

Kantuk Hitam
Kantuk hitam dan berat
Menimpa hidupku:
Tidur, segala harap
Tidur, segala hasrat!

Tak lagi kusibak apapun
Aku kehilangan ingatan
Yang baik dan yang buruk
O kasih yang menyedihkan!

Aku bagai ayunan
Yang diambing tangan
Dalam gua kelam:
Diam, diam.....

Saya tidak tahu persis, atas alasan apa saya mengirimkan puisi yang diterjemahkan Wing Karjo itu kepada Arif Wibawa, apakah dikarenakan banyaknya orang-orang merasa takut hingga cenderung berlebihan dalam menanggapi merebaknya virus corona, atau dikarenakan saya sendiri belum sepenuh hati move on dari "keterpurukan" setelah mendapat musibah. Saya tidak mengerti.

Di sini bara tak kubiarkan padam
Agar jiwa tetap hangat berselempang semangat
Didihkan darah yang sekian lama beku dalam buaian
Di secangkir kopimu aku bercermin
Jalan masih panjang

Di atas adalah puisi Arif Wibawa yang dikirimkan setelah tidak lama saya mengirimkan puisi karya Paul Varlaine. Membaca tanggapan Arif Wibawa, ada pesan tersirat kuat agar siapapun saya khususnya, segera bangkit dari "keterpurukan". Ia menambahkan: Kuhidangkan khidmat ada segenap dzuriyah // Mengikuti tatih jemari membilang butiran tasbih.

Mendapat kiriman tanggapan kedua dari Arif Wibawa sebagaimana saya kutip di atas, saya terkesima, tidak bisa berpaling dari kata dzurriyah. Dzurriyah dalam banyak riwayat disebutkan dikhususkan pada anak-anak dalam hal ini yang, berkaitan dengan keturunan Nabi. Misalnya, sebuah hadits Imam Ahmad bin Hambi meriwayatkan:

"Barang siapa mencintaiku dan mencintai keduanya itu- yakni Al-Hassan dan Al-Hussein serta mencintai ibu dan ayah mereka, yakni Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina 'Ali, kemudian ia meninggal dunia sebagai pengikut sunnahku, ia bersamaku di dalam surga yang sederajat. Pada hari kiamat aku akan menjadi syafi' (penolong) bagi empat golongan. Yang menghormati keturunanku, memenuhi kebutuhan mereka, berupaya membantu urusan mereka pada waktu diperlukan dan yang mencintai mereka sepenuh hati.

Secara harfiah kata dzurriyah berati menciptakan, atau bisa diartikan dari kata muasalnya, dzara, yang artinya cipta, terbang.

Dalam esai ini saya tidak ingin mengulas dan atau menulis tentang dzara atau dzurriyah. Saya tidak punya kapasitas untuk mengulasnya. Tapi kalau benar apa yang dimaksud kata dzurriyah dalam puisi penyair Arif Wibawa sebagaimana kutipan hadits di atas, maka siapapun termasuk saya tidak penya alasan untuk meratap apalagi panik dalam menghadapi musibah, kususnya yang berkaitan dengan corona.

Meratap apalagi panik ketika mendapatkan musibah sungguh tidak akan menyelesaikan masalah. Lalu apa yang perlu kita lakukan? Tidak ada cara lain kecuali tawakal. Tawakal di sini bukan berarti sepuhnya pasrah tanpa melakukan apa-apa, dalam tawakal artinya kita tetap harus ikhtiar, melakukan upaya-upaya pencegahan seperti mawas diri, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan, dan tidak panik dalam menghadapi berbagai macam musibah, tidak terkecuali dalam menghadapi corona.

Komentar

Loading...