Pelabuhan Aceh Perlu Diperdalam Agar Bisa Berlabuh Kapal Kapasitas Diatas 10.000 Ton

Pelabuhan Aceh Perlu Diperdalam Agar Bisa Berlabuh Kapal Kapasitas Diatas 10.000 Ton
Ekspor perdana CPO melalui Pelabuhan Calang tahun 2019.

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh  - Untuk menarik perusahaan kelapa sawit mengekspor produksi CPO melalui pelabuhan lokal, PT Pelindo I dan Pemerintah Aceh serta kabupaten/kota harus membuat program bersama membenahi kembali sarana dan prasanan pelabuhan, sehingga bida digunakan secara intensif untuk ekspor-impor.

Permintaan itu disampaikan Kakanwil Bea dan Cukai Aceh Dr Safuadi kepada media Kamis (4/11/21). Menurutnya kedalaman dermaga bisa bisa disandarkan kapal-kapal besar diatas kapasitas 10.000 ton.

“Untuk itu kedalaman kolam dermaga harus bisa disandari kapal-kapal berkapasitas di atas 10.000 ton, sehingga menarik minat perusahaan untuk mengekspor melalu pelabuhan yang ada di Aceh,” kata Safuadi Kamis (4/11/2021) di Banda Aceh dikutip serambi.

 Sperti Pelabuhan Krueng Geukuh, di Kota Lhokseumawe, yang kini sudah dijadikan Pelabuhan Ekspor CPO oleh PT Karya Tanah Subur (KTS). Tapi sayangnya, jumlah volume CPO yang bisa diekspor, untuk satu kali berlayar hanya 6.000 ton CPO yang bisa diangkut.

Sementara tangki timbun CPO yang sudah dibangun PT KTS di pelabuhan tersebut kapasitasnya sudah mencapai 15.000 ton. ika ada kapal pengangkutan CPO bermuatan 15.000 ton, yang bisa masuk ke kolam pelabuhan itu, muatannya sudah tersedia.

Kalau ada kontrak penjualan CPO ke luar negeri sebanyak 32.000 metrik ton/tahun, kata Safuadi, pihak KTS harus mengangkut 5 – 6 kali. Dari sisi bisnis transportasi, hal itu kurang ekonomis. Kolam dermaga perlu dilaukan pengerukan secara rutin.

“Padahal, jika ke dalaman kolam dermaga, bisa disandari kapal bermuatan di atas 10.000 ton, untuk kontrak penjualan CPO sebanyak 32.000 ton itu, cukup tiga kali diangkut degan kapal kapasitas 10.000 ton, sudah selesai dan biaya transportasinya jadi lebih murah,” ujar Safuadi.

Sementara Pelabuhan Calang, kendalanya pada musim angin barat, mulai bulan Oktober-Desember, bahkan bisa sampai bulan Januari-Februari tahun berikutnya, ombak di pesisir pantai barat, termasuk di wilayah Pelabuhan Laut Calang, Aceh Jaya, sangat besar.

Pada saat musim opmbak besar, ekspor CPO nya harus dialihkan ke Pelabuhan Krueng Geukuh, atau Belawan.

Untuk mengatasi masalah ombak besar pada musim angin barat, di sisi kiri-kanan kolam dermaga pelabuhan perlu dibangun break water, batu pemecah ombak sepanjang 200 meter pada sisis kanan-kiri.

Untuk memecahkan masalah ombak besar dan kedangkalan kolam dermaga, yang kini menjadi hambatan di Pelabuhan lokal di Aceh yang telah dimulai dijadikan Pelabuhan ekspor CPO itu, seperti Pelabuhan Laut Krueng Geukuh dan Pelabuhan Laut Calang, Pemerintah Aceh bersama PT Pelindo I, duduk bersama menyusun program penanganan dan pembiayaannya bisa dilakukan patungan.

Pembiayaan patungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kata Safuadi, sering dilakukan diberbagai daerah, demi kepentingan kesejahteraan masyarakat setempat. Misalnya pembangunan Jembatan Holtekam di Papua yang nilainya mencapai Rp 1,3 trilliun. Pemerintah Papua mengalokasikan APBD nya Rp 400 miliar dan pusat sisanya Rp 900 miliar.

Kenapa Pemerintah Aceh perlu proaktif dalam pembenahan pelabuhan lautnya, supaya komoditi ekspor daerahnya tidak lagi diekspor dari luar pelabuhan lokalnya. Dana silpa Aceh juga cukup besar.

Tahun lalu ada sekitar Rp 3,9 trilliun. Kalau komoditi ekspor Aceh, seperti kopi, pinang, CPO, ikan, batubara dan lainnya, terus diekspor dari pelabuhan laut di luar Aceh, dana insentif daerah (DID) yang ada dalam pajak ekspor itu, akan jatuh ke daerah tempat diekspor komoditi ekspor Aceh.

Sementara Aceh yang memiliki komoditi eskpornya tidak menerima dana DID yang bersumber dari pembagian pajak eskpor komoditi tersebut. Misalnya komoditi kopi, pinang, CPO, ikan, batubara dan lainnya.

Salah satu contoh, ekspor CPO. Dari ekspor CPO, ada dialihkan dana untuk relanting/peremajaan tanaman kelapa sawit rakyat, setiap ada kegiatan ekspor CPO.

Pada tahun ini, dari Januari-September 2021, jumlah CPO Aceh yang diekspor sudah mencapai 32.000 metrik ton.

Dari jumlah CPO yang diekspor itu, sebut Safuadi, ada pungutan peremajaan tanaman kelapa sawit sekitar Rp 103 miliar.

Dana ini disimpan dikas negara dan jika Aceh butuh dana untuk program replanting/peremajaan tanaman sawit rakyat, bisa mengajukannya ke Dirjenbun Kementan 

Itu baru satu komoditi, masih banyak komoditi ekspor Aceh, yang kegiatan ekspornya melalui Pelabuhan laut di luar Aceh, sehingga jika ada program pembagian dana dari panjak ekspor Aceh tidak dapat bagian, karena ekspornya bukan melalaui Pelabuhan di Aceh.

Untuk itu, kata Safuadi, Pemerintah Aceh, DPRA, DPRK bersama Pemerintah Kabupaten/Kota, yang memiliki komoditi ekspor, mari berkoloborasi dengan PT Pelindo I, Kanwil Bea dan Cukai, serta intansi verikal lainnya untuk membenahi pelabuhan laut di Aceh, supaya bisa menjadi pelabuhan ekspor yang berstandar Internasional.

"Tujuannya, agar semua komoditi ekspor Aceh, bisa diekspor melalui pelabuhan lokalnya sendiri,”ujar  Safuadi.

Menurut data areal perkebunan kelapa sawit dari Distanbun Aceh, yang dimiliki perusahaan BUMN, PBSN dan PBSA yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Aceh, jumlah luas areal perkebunan kelapa sawitnya mencapai 226.100,83 hektar dan dari luas areal perkebunan kelapa sawit itu, jumlah produksi CPO nya mencapai 361.923,31 ton/tahun.

CPO yang diekspor dari pelabuhan laut lokal Aceh, sangat sedikit sekali, atau baru 32.000 metrik ton, atau hanya sebesar 8,8 persen dari produksi CPO satu tahunnya 361.923,31 ton.

Jika luas areal kepala sawit perkebunan besarnya 266.100,83 hektar, ditambah luas areal perkebunan kelapa sawit milik rakyatnya yang tersebar di 21 kabupaten/kota, ada sekitar 242.819 hektar, totalnya luas perkebunan sawit di Aceh mencapai 468.919 hektar.

“Dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebanyak itu, penerimaan dana insentif dan dana repalanting kelapa sawit untuk daerah ini, bisa 10 kali lipat atau lebih dari yang ada sekarang ini, bila kegiatan ekspor CPO nya dilakukan melalui pelabuhan di Aceh,” urai Safuadi.(si)

Komentar

Loading...