Pedagang yang Jujur

Pedagang yang Jujur
Ilustrasi.net

SECARA sosial budaya, para Nabi dan Rasul diutus kepada penduduk jazirah Arab yang pada umumnya berprofesi sebagai pedagang. Tokoh masyarakat, pemimpin suku, dan tokoh politik pada waktu itu, pada umumnya berlatar belakang sebagai pedagang. Karenanya,  orang yang terpandang di tengah-tengah kehidupan mereka adalah para saudagar yang pandai dan sukses dalam melakukan perdagangan.

Sayangnya, kemajuan yang mereka peroleh dari usahanya tersebut tak dibarengi dengan kejujuran. Kecurangan sering mereka lakukan seperti menjual barang rusak yang dicampurkan dengan barang yang bagus, mengurangi takaran, dan melakukan riba. Demikian pula dengan hasil dari perdagangannya. Tak jarang hasil yang mereka peroleh dipergunakan untuk berpoya-poya dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Karenanya, tak sedikit misi para Nabi dan Rasul yang Allah adalah memperbaiki tata cara berdagang yang mereka lakukan. Allah memerintahkan Nabi dan Rasul yang diutus-Nya untuk mendakwahkan hukum seputar perdagangan setelah berdakwah tentang tauhid dan ajakan beribadah kepada Allah.

Nabi Syua’ib a.s merupakan salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang diutus ke penduduk Madyan untuk berdakwah,  memperbaiki cara berdagang yang dilakukan umatnya. Secara lahiriyah penduduk Madyan terdiri dari para pengusaha sukses.

Namun, dibalik kesuskesannya, mereka melakukan kecurangan dalam melakukan usahanya. Mereka sudah terbiasa mengurangi takaran, timbangan, dan melakukan penipuan yang merugikan konsumen. Selain itu, ada pula komunitas masyarakat di tengah-tengah kehidupan mereka yang pekerjaannya melakukan pencurian atau pembegalan.

Selain itu, mereka melakukan monopoli perdagangan. Seluruh kebutuhan masyarakat hanya mereka yang berhak memperdagangkannya. Dengan cara seperti itu, mereka bisa lebih leluasa melakukan kecurangan.

Nabi Syua’ib melaksanakan perintah Allah. Ia mengajak umatnya untuk bertauhid kepada Allah, kemudian melakukan ketaatan melalui berbagai macam ibadah sesuai perintah-Nya. Ia juga mengajak umatnya untuk melakukan perbaikan dalam melakukan transaksi perdagangan. Ia mengajak umatnya untuk menyempurnakan takaran, timbangan, dan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan konsumen (Q. S. al A’raf : 85).

Namun demikian, seperti dakwah para Nabi dan Rasul sebelumnya, dakwah Nabi Syua’ib a.s mendapat perlawanan keras dari komunitas pedagang dan para pelaku kejahatan lainnya. Mereka berdalih, keuntungan dan harta yang banyak hanya dapat diperoleh dengan cara yang telah mereka lakukan secara turun menurun.

Tanpa kecurangan dengan mengurangi takaran akan sangat lama mendapatkan  keuntungan. Mereka pun berkeyakinan, jika mengikuti perintah Nabi Syua’ib, mereka hanya akan mendapatkan kemalangan atau kerugian (Q. S. al A’raf : 90). Karena pembangkangan dan penipuan yang terus menerus mereka lakukan, pada akhirnya Allah memberikan putusan untuk mengadzab mereka.

Gempa bumi menghancurkan seluruh kehidupan mereka. Rumah dan harta benda yang mereka kumpulkan Allah hancurkan rata dengan tanah, seolah-olah tak pernah ada kehidupan sebelumnya (Q. S. al A’raf : 91-92).

Beratus-ratus tahun kemudian setelah Nabi Syua’ib a.s., Rasulullah saw diutus menjadi Nabi dan Rasul di tengah komunitas pedagang.  Sementara keyakinan mereka adalah menyembah berhala yang mereka ciptakan sendiri.

Ketika menginjak usia remaja, sekitar usia dua belas tahun, jauh sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, ia pun diajarkan berdagang oleh pamannya, Abu Thalib. Luka-liku perdagangan, ia pelajari bersama pamannya yang berprofesi sebagai pedagang. Namun, berbeda dengan para pedagang lainnya, mereka berdua melakukan profesi perdagangannya dengan jujur.

Seperti hanya dakwah Nabi Syua’ib a.s., setelah diangkat menjadi dan Rasul, salah satu misi dakwahnya adalah memperbaiki tata cara berdagang yang dilakukan penduduk Makkah pada waktu itu. Kecurangan dalam menimbang dan menakar sering mereka lakukan.

Mereka juga sering melakukan penipuan dengan memalsukan barang, misalnya mencampurkan gandum basah dan kering. Tujuannya agar ketika dilakukan penimbangan, hasil timbanganya menjadi berat.

Sepertinya halnya Nabi Syua’ib a.s., ia pun mendapatkan penolakan dari komunitas pedagang yang sudah terbiasa melakukan kecurangan dalam mengurangi timbangan dan takaran. Namun demikian, ia pun tak bosan memperingatkan mereka, kecelakaan, kerugian hidup di dunia dan akhirat akan diperoleh orang-orang yang melakukan kecurangan dan penipuan (Q. S. al Mutafifin : 1-4).

Sampai kini,  profesi berdagang tetap hidup, malahan semakin beragam dalam cara melakukan berbagai transaksinya. Demikian pula dengan kecurangan dalam melakukannya tetap ada.

Tak sedikit para pedagang yang melakukan berbagai rekayasa penipuan. Kini bukan hanya pengurangan timbangan dan takaran saja, pemalsuan barang sering mereka lakukan, baik dalam hal batas waktu keamanan barang untuk dikonsumsi maupun merekayasa kondisi barang.

Kasus pewarnaan cabai rawit yang dilakukan seorang pedagang beberapa hari lalu (Cakradunia.co, 29 Desember 2020, Jam 17:24 WIB) merupakan bukti nyata masih adanya para pedagang yang melakukan kecurangan. Praktik kecurangan seperti ini merupakan praktik kuno yang dilakukan kaum jahiliyah, dan umat-umat sebelumnya.

Secara lahiriyah, dalam waktu singkat para pelaku kecurangan akan mendapatkan banyak keuntungan, bahkan harta yang melimpah, namun lambat laun ia akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat. Belum ada catatan sejarah, orang-orang yang curang dan zalim mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Padahal kebahagiaan yang hakiki terletak pada kejujuran. Benar secara lahiriyah, penderitaan nampak diperoleh orang-orang yang jujur. Ia harus mempertahankan diri agar tak terbawa arus kebohongan yang dilakukan kebanyakan orang. Pada saat orang-orang mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil kebohongannya, ia tak mendapatkan keuntungan duniawi apapun. Namun demikian, ia mendapatkan ketenangan hati, yang tak mungkin akan diperoleh orang-orang yang berbuat kecurangan.

Demikian pula dengan para pedagang yang jujur. Secara lahiriyah, mereka hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. Lambat untuk menjadi orang yang kaya, namun mereka merupakan orang-orang yang mendapatkan anugerah ketenangan hati, dan kelak mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

“Sesungguhnya, para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang yang fajir (jahat), kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, melakukan perbuatan baik, dan berlaku jujur (dalam melakukan transaksi perdaganganny)” (H. R. at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalam hadits lain dikatakan, para pedagang yang jujur, kelak mereka akan dimasukkan sejajar dengan kelompok para Nabi, orang-orang jujur, dan orang-orang yang mati syahid (H. R. Ibnu Majah). ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut, Jawa Barat.

Komentar

Loading...