Pareto & Amal Kita

Pareto & Amal Kita
Ilustrasi.Islam44

SEPINTAS tidak ada hubungan linear antara prinsip Pareto dan amal ibadah kita.  Prinsip Pareto pertama kali dimunculkan seorang ilmuwan Italia bernama Vilfredo Pareto yang hidup pada tahun 1848 – 1923.  Prinsip Pareto muncul pada tahun 1906 setelah sang ilmuwan tersebut mengamati kehidupan para tuan tanah di negaranya. Dari pengamatannya, ia menyimpulkan 80% dari pedapatan Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi (Richard Koch, 80/20 Principle, 2008 : 1).

Prinsip ini mengatakan,  dari 80% hasil yang diperoleh biasanya dipicu oleh 20% usaha yang dilakukan. Dengan kata lain, 20% usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh akan memberikan efek signifikan terhadap 80% produk/jasa yang dihasilkan.

Contohnya, jika seseorang memperoleh keuntungan sebesar Rp. 60.000.000,- dari bisnisnya, maka 80% dari keuntungan yang ia peroleh berawal dari 20% perilakunya yang dianggap efektif dan signifikan dalam mempromosikan dagangannya.

Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut prinsip Pareto dalam bidang bisnis, sebab prinsip ini bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Perlu juga diketahui, prinsip 80/20 bukanlah harga mati, bisa saja berubah menjadi 70/30, 75/25, 90/10, dan sebagainya. Satu hal hal yang jelas, usaha kecil yang dilakukan secara fokus dan sungguh-sungguh akan mempengaruhi terhadap keberhasilan suatu usaha secara keseluruhan.

Jika kita telusuri, prinsip Pareto  ini terdapat dalam pelaksanaan amal-amal ibadah kita. Shalat Isya dan Shubuh yang dilaksanakan berjamaah yang waktu pelaksanaannya hanya beberapa menit saja, pahalanya sama dengan melaksanakan shalat sunat separuh malam dan sepanjang malam tanpa berhenti.

“Barangsiapa shalat Isya berjamaah, maka ia bagaikan shalat (sunat) setengah malam, dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat (sunat) semalam penuh.” (H.R.  Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Dua rakaat shalat sunat sebelum shalat Shubuh (qabliyah Shubuh) nilai pahalanya lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.  “Dua rakaat Fajar (sebelum shubuh) lebih baik daripada dunia dan apapun yang ada di dalamnya.” (H. R. Muslim, Riyad al Shalihin hadits nomor 1.102).

I’tikaf dan ibadah yang dilakukan beberapa menit saja, namun bertepatan dengan datangnya lailatul qadar pada bulan Ramadan,  pahalanya setara dengan ibadah seribu bulan. Mengeluarkan zakat fitrah 2,5 kg/tahun dapat menyempurnakan kekurangan dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Demikian pula, mengeluarkan zakat 2,5%  dari harta yang kita miliki dapat membersihkan dan mendatangkan keberkahan dari harta yang kita miliki.

Kesempurnaan iman kita pun ditentukan oleh amal-amal yang dianggap kecil. Membebaskan tetangga dari kelaparan, menyingkirkan duri atau sampah dari jalan, berkata yang baik dan benar, menghormati tamu dan tetangga merupakan amal-amal sederhana yang dapat menjadi penyempurna keimanan kita. 

Zikir yang sederhana dan ringan, tasbih dan tahlil yang diucapkan dengan ikhlas dapat memperberat timbangan amal kita kelak di hari hisab atau hari perhitungan seluruh amal kita. “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan, dan disukai ar Rahman (Allah), yakni ‘subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim’ “ (H. R. Bukhari dan Muslim). 

Shalat wajib yang kita lakukan beberapa menit dalam sehari semalam, sangat menentukan keselamatan kehidupan kita di akhirat kelak. Seandainya dalam sehari semalam kita  hanya melakukan shalat wajib tanpa shalat sunat, dan waktu yang kita gunakan  hanya 5 menit untuk setiap pelaksanaan satu shalat wajib, berarti dalam sehari semalam hanya 25 menit yang kita gunakan untuk beribadah shalat,  175 menit/minggu (setara 2,9 jam/minggu), 87 jam/bulan (setara 3,6 hari/bulan). Jumlah total dalam setahun adalah 12 bulan  x 3,6 hari = 43,2  hari (12%/tahun) yang kita pergunakan untuk melaksanakan ibadah shalat.

Jika rata-rata umur kita 63 tahun, waktu yang dipakai untuk melaksanakan ibadah shalat adalah 63 x 43,2 hari = 2721, 6 hari (7,5 tahun) atau 12% dari keseluruhan umur kehidupan kita. Bandingkan dengan waktu yang kita pergunakan untuk memenuhi kebutuhan dunia kita. Namun demikian,  jika waktu shalat yang sedikit tersebut kita gunakan secara berkualitas, maka ibadah shalat inilah yang akan menjadi kunci pembuka keselamatan kita, kelak di akhirat. 

”Amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalat seorang hamba bagus, dia beruntung dan berhasil, sebaliknya  jika ibadah shalatnya cacat,  dia akan menyesal dan merugi. Apabila  shalat wajibnya tidak sempurna, Allah swt berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan sunat sehingga bisa menutupi amalan wajibnya, dengan demikian tertutup segala amalnya.’ ”  (H. R. at Tirmidzi dan An Nasa’i)

Dari rukun Islam yang lima, ibadah shalat menentukan rukun Islam secara keseluruhan. Disinilah prinsip Pareto berlaku, 1:5 atau 20:80. Rukun Islam yang empat (80%) ditentukan oleh pengamalan rukun Islam yang satu (20%) yakni ibadah shalat. 

“Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mendirikannya, maka sungguh ia telah menegakkan agama (Islam),  dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam).” (H. R. Baihaqi).

Inti dari analogi dari prinsip Pareto ini adalah kita tidak boleh meremehkan amal yang sedikit jumlahnya, sebab banyak  amal yang dianggap sedikit, namun  bernilai tinggi di sisi Allah. Kita selayaknya belajar memfokuskan diri pada amalan yang dianggap sedikit dan ringan disertai keikhlasan, seraya berusaha dapat melaksanakan amalan lainnya yang dianggap berat dan berpahala lebih besar. Semoga.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...