Pakaian Baru & Ilmu Bekas Pakai

Pakaian Baru & Ilmu Bekas Pakai
Ilustrasi.net

SELAIN bagian dari aksesoris kehidupan, pakaian  berfungsi sebagai penutup aurat. Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa a.s. ketika ditempatkan di surga adalah pakaian. Demikian pula ketika mereka berdua dikeluarkan dari surga, salah satu nikmat yang Allah hilangkan dari mereka berdua adalah pakaian. Mereka berdua diturunkan ke bumi, tanpa sehelai pakaian pun yang menempel di tubuhnya.

“Wahai anak cucu Adam! Janganlah kalian tertipu setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya.” (Q. S. Al A’raf : 27).

Dengan demikian, sudah menjadi sunatullah,  semua manusia, lintas suku, ras, dan agama, pada umumnya memerlukan pakaian. Para pemimpin di negara mana pun di dunia sudah pasti memiliki program pembangunan menyediakan kebutuhan pakaian bagi penduduknya. Sejak negara kita berdiri, para pemimpin negara kita memiliki tiga program utama pembangunan yang tidak bisa dihilangkan, yakni pemenuhan kebutuhan penduduk akan sandang, pangan, dan papan (perumahan).

Sementara itu, dalam ajaran Islam, pakaian bukan hanya sekedar aksesoris belaka, namun pakaian merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemakbulan ibadah kita pun ditentukan pakaian yang kita kenakan. Salah satu syarat sah  ibadah shalat dan haji adalah menutup aurat dengan pakaian atau kain yang layak. Sekalipun niatnya bagus, lillahi ta’ala, ibadah shalat dan haji seseorang tidak akan diterima Allah, manakala ia tidak menutup aurat. Oleh karena itu, berpakaian dalam ajaran Islam termasuk bagian dari ibadah.

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan sebagai perhiasan bagimu. Namun demikian, pakaian takwa, itulah yang paling baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan kalian ingat” (Q. S. Al A’raf : 26).

Secara ruhaniyah, pakaian bisa mengantarkan seseorang masuk surga, neraka, dan menjadi penghalang makbulnya do’a. Jika pakaian yang dikenakan seseorang diperoleh dengan cara yang halal, sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, mengenakannya tanpa rasa kesombongan, serta diniatkan untuk beribadah kepada Allah, maka pakaian seperti ini akan mengantarkan pemakainya meraih ampunan dan ridha Allah, seraya surga senantiasa merindukannya.

Sebaliknya, jika pakaian yang dikenakan seseorang diperoleh dengan cara yang haram, memakainya penuh dengan keangkuhan, digunakan sebagai sarana  bermaksiat kepada Allah, maka pakaian seperti ini akan mengantarkan pemiliknya kepada jurang kehinaan. Na’udzu billahi min dzalik, neraka merindukan kedatangannya.

Rasulullah saw memerintahkan kepada umatnya agar berpakaian sesuai dengan ketentuan Allah. Tidak berlebihan dalam berpakaian alias sederhana merupakan nasihat yang sering Rasulullah saw berikan kepada para sahabat, dan tentu saja kepada kita semua. Kesombongan ketika mengenakan pakaian  harus benar-benar dihindari. Tidaklah mengherankan, ketika berpakaian, Rasulullah saw menganjurkan agar kita memohon kebaikan dari pakaian yang kita kenakan, dan berlindung dari keburukannya. Salah satu keburukan dari pakaian yang kita kenakan adalah perasaan sombong, merasa diri paling hebat pakaiannya seraya merendahkan orang lain.

Shalat malam, istighfar pada sepertiga malam, memberi makanan kepada orang yang kelaparan dan memberikan pakaian kepada orang-orang yang tak mampu membelinya merupakan perbuatan baik yang dapat mengantarkan seseorang  menjadi ahli surga. Karena meneladani Rasulullah saw, para sahabat tidak pernah menumpuk-numpuk pakaian  untuk dijadikan koleksi. Mereka menyimpan pakaian seperlunya. 

Perilaku tersebut diikuti juga para ulama shaleh. Mereka sangat sederhana dalam berpakaian, tidak berlebihan, dan menyimpan pakaian seperlunya. Kebiasaan mereka selalu menyedekahkan pakaian yang ada di lemarinya, manakala mereka sudah mendapatkan  pakaian pengganti. 

Selayaknya kita belajar dari para ulama shaleh yang tak kikir dengan pakaian dan ilmu. Mereka tak merasa sayang dengan menyedekahkan pakaian bagus mereka, bahkan menyedekahkan pakaian yang baru mereka dapat, dan pantang menyedekahkan pakaian yang sudah tidak layak pakai. Dengan kata lain, para ulama shaleh senantiasa menyedekahkan pakaian terbaik yang mereka miliki, bahkan pakaian baru yang belum mereka pakai sama sekali.

Lain halnya ketika mereka akan memberikan ilmu kepada masyarakat, mereka sudah pasti akan memberikan ilmu yang sudah mereka “pakai”. Artinya mereka pantang mendakwahkan, menceritakan,  dan memberikan ilmu yang belum mereka amalkan. Hal ini sesuai dengan tradisi para sahabat Nabi saw yang enggan menambah hafalan ayat al Qur’an sebelum ayat yang sudah mereka hafal diamalkan dalam kehidupan mereka.

Para sahabat dan para ulama shaleh sangat malu dan takut  kepada Allah manakala ia hanya menceritakan keluasan ilmu yang mereka miliki, seraya mereka sendiri belum mengamalkan terhadap ilmu yang telah mereka miliki. Mereka benar-benar takut akan azab dan siksaan Allah manakala menceritakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q. S. 61 : 2-3).

Lalu bagaimana dengan perilaku kita dalam hal memberikan pakaian dan ilmu? Disadari atau tidak, perilaku kita sering terbalik dengan perilaku para sahabat Nabi saw dan para ulama shaleh. Kita sering memberikan pakaian bekas pakai, masih mendingan masih layak pakai dan masih kita senangi untuk memakainya, parahnya pakaian yang kita berikan kepada orang lain tersebut sudah tidak layak pakai, dan kita kita sendiri sudah tidak menyukainya.

Sementara ketika kita memberikan ilmu, terlebih-lebih ilmu agama, memberikan ceramah keagamaan, kita sering memberikan ilmu-ilmu “baru” yang masih “gres”,  dalam arti ilmu tersebut bukan ilmu “bekas” pengamalan kita. Kita sering  menyampaikan dan menyerukan kebaikan dengan penuh gaya,  hanya retorika dan hiasan bibir belaka agar para pendengar terpukau, sementara perilaku keseharian kita bertentangan dengan apa yang kita sampaikan.

Kita sering bergaya layaknya seorang pemain sandiwara. Di atas panggung kita bisa memerankan beragam gaya dan peran, namun ketika turun dari panggung kita bukan siapa-siapa, hanya orang biasa. 

Ketika menyampaikan ceramah keagamaan di atas mimbar, bisa saja para pendengar terpukau dengan ceramah-ceramah kita, memberi kita gelar sebagai ustadz, mubaligh, dan lain sebagainya, namun ketika apa yang disampaikan di atas mimbar tersebut  bertentangan dengan perilaku keseharian kita, maka ketika kita turun dari mimbar, kita bukan siapa-siapa. Hanya mendapat puji puja dari manusia, nihil dari fakta dan  nirpahala dari yang Mahakuasa.

Selayaknya kita meneladani Nabi saw, para sahabat, dan para ulama shaleh. Mereka terbiasa menyedekahkan pakaian layak pakai, pakaian baru yang belum mereka pakai, sementara ketika memberikan ilmu, mereka senantiasa memberikan ilmu yang sudah mereka “pakai” sebelumnya, ilmu yang sudah mereka amalkan dalam hidup keseharian. 

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

  

Komentar

Loading...