Ombak di Perairan Aceh Capai 6 Meter, Nelayan Tak Berani Melaut

Ombak di Perairan Aceh Capai 6 Meter, Nelayan Tak Berani Melaut
Perahu nelayan menerjang gelombang tinggi di perairan Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah.Ilustrasi.(KOMPAS/IQBAL FAHMI)

CAKRADUNIA.CO,Banda Aceh – Ombak di sebagian perairan Aceh masih tunggi sekisan 2,5 hingga 6 meter, sehingga sebagian besar nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja, Lampulo, Banda Aceh, belum berani pergi melaut. Akibatnya, harga ikan di Banda Aceh dan sekitarnya mahal.

Kondisi angin kencang dan tinggi gelombang dinilai sangat beresiko jika melakukan aktivitas di tengah laut lepas.

Kepala Syahbandar PPS Kutaradja Lampulo, Tommy mengatakan, banyak boat-boat besar sudah mengambil surat izin melaut. Namun, sebagian besar diantara mereka menunda beraktivitas di tengah laut karena gelombang tinggi dan angin kencang.

“Ombak tinggi mereka lebih memilih menghindari resiko, sehingga banyak boat-boat yang disandarkan di dermaga di kawasan PPS Lampulo menunggu angin kencang reda,” katanya, Minggu (9/8/2020).

Menurutnya, nelayan yang mengambil surat izin melaut pada Jumat (7/8/2020) siang sebanyak 50 kapal. Sedangkan pada hari Sabtu (8/8/2020) ada 17 kapal. Dari pengecekan petugas Syahbandar di Dermaga PPS Kutaradja Lampulo, Minggu kemarin, boat nelayan yang terparkir di kolam dermaga PPS Kutaradja, masih cukup banyak.

“Dari data itu, berarti banyak boat nelayan yang sudah ambil surat melaut, tapi belum pergi melaut karena alasan angin badai di tengah laut masih kencang,” ujarnya.

Menurut data dari BMKG, tekanan angin di tengah laut, terutama di wilayah barat-selatan Aceh dan Samudera Hindia berkisar 19-20 knot, serta tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter. Dengan kondisi itu, sangat riskan bagi nelayan yang beraktivitas di tengah lain.

Dalam kondisi seperti ini, ada juga boat-boat yang tetap nekat pergi melaut, biasanya untuk mengurangi resiko dari angin dan gelombang tinggi, mereka berlindung di balik-balik pulau kecil yang ada di tengah laut.

“Minggu ada sejumlah  boat yang pulang melaut, setelah pergi melalui pada Rabu

(5/8/2020), dengan membawa pulang hasil tangkapan tidak terlalu banyak. Diantaranya KM Panglima Muda, membawa hasil tangkapan sekitar 5-7 ton, dan KM Alepo dengan hasil tangkapan  5-6 ton,” terangnya.

Akibat banyak nelayan tidak melaut harga ikan di Banda Aceh mahal, kondisi ini sebenarnya sudah sejak minggu pertama lebaran Idul Adha.(si)

Komentar

Loading...