Objek Wisata Langgar Syariat Islam dan Protokol Kesehatan

Objek Wisata Langgar Syariat Islam dan Protokol Kesehatan
Tgk Andi, Juru Bicara Rabithah Santri Aceh Timur

CAKRADUNIA.CO, Idi Rayeuk – Rabithah Santri (RASA) Aceh Timur Tgk Andi mengingatkan pemerintah dan legislatif Aceh Timur untuk segera menerbitkan regulasi terkait objek wisata syariah dalam tata kelolanya. Moment lebaran Idul Adha banyak pengujung objek wisata melanggar syariah dan protokol kesehatan.

Juru bicara rabithah santri (jubir RASA) Aceh Timur, Tgk Juliandi mengungkapkan kepada cakradunia.co. Senin (3/8/2020) moment lebaran Idul Adha ini banyak masyarakat yang mengunjungi berbagai objek wisata untuk bersama keluarga menghabiskan libur lebaran.  Tapi banyak juga muda mudi non-muhrim satu lokasi berdesak-desakan.

“Berdesak-desakan pada satu lokasi objek wisata jelas melanggar syariah karena bercampur nonmuhrim dan pemerintah kurang merespon terkait pengunjung yang tidak mengikuti protokol kesehatan, apalagi saat ini wilayah kita semakin meningkat jumlah positif covid-19,” ungkapnya

Tgk Juliandi mengingatkan terkait fatwa majelis permusyawaratan ulama (MPU) Aceh nomor 07 tahun 2014 tentang parawisata dalam pandagang islam dalam hal menimbang huruf (a) bahwa penerapan syariat Islam di Aceh adalah amanah konstitusi dan tidak bertentangan dengan hukum nasional. Pada penetapannya di klausus tausiyah point ke delapan bahwa pemerintah Aceh menempatkan personil wilayatul hisbah (WH) dan petugas terkait di lokasi wisata.

“Jangan seolah-olah menutup mata membiarkan pelanggaran syariat Islam terus terjadi pengawasan dari pemerintah amatlah penting demi generasi anak bangsa kedepan, ” ujarnya 

Contohnya untuk objek wisata pantai, tambahnya, tidak adanya aturan menyebabkan tidak adanya pemisahan lokasi mandi di laut antara lelaki dan wanita yang dapat menimbulkan perbuatan mengarah pada pelanggaran syariah, karena bercampurnya sesama nonmuhrim,” ungkapnya

Tgk Andi yang juga ketua Barisan Muda Umat (BMU) Aceh Timur mengajak pemerintah dan legislatif untuk bekerja keras memikirkan bagaimana cara menerbitkan regulasi yang memperhatikan aspek-aspek syariah, apalagi untuk wisata pantai agar bisa dikelola dengan baik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat diwilayah tersebut tapi tidak melanggar syariat Islam. 

“Tidak hanya pada moment lebaran tapi kami lihat memang setiap hari libur bercampur non-muhrim di obyek wisata itu lebih baik ditutup, tunggu sampai ada regulasi yang memang bisa mengakomodasi terhadap tata kelola objek wisata” katanya tegas

Beliau juga mengatakan terkait beberapa kali melakukan aksi di objek wisata tidak bermaksud untuk melarang adanya objek wisata di wilayah Aceh Timur.  Tapi,

mendesak pemerintah  untuk segera menerbitkan regulasi terkait  tata pelaksanaan objek wisata, sehingga semua bisa mengurangi secara perlahan pelanggaran syariat Islam khusus wisata pantai

“Ulama geutanyoe bak geu peudeung Syariat nyoe leupah that susah tapi le geutanyoe mudah that bak ta peureuloh gampang (Ulama Aceh saat mendirikan syariat Islam begitu butuh perjuangan tapi kita mudah sekali merusaknya), Nanggroe Aceh ini milik kita bersama, jangan malah kita yang merusak negeri seramoe mekkah,” tutupnya     

(Rachman)

Komentar

Loading...