Obituari - Toety Heraty Wafat Dalam Usia Yang Sama Dengan Ayahnya

Obituari - Toety Heraty Wafat Dalam Usia Yang Sama Dengan Ayahnya
Toety Heraty

PUKUL 05.10 WIB, persinggahan panjang Toety Heraty di dunia ini dirampungkan di atas ranjang rumah sakit MMC (Metropolitan Medical Center), setelah beberapa tahun belakangan menjalani keseharian yang tetap aktif di kursi roda.  

Lahir pada 23 November 1933,   ia tutup usia pada angka 87. Sama dengan usia ayahandanya, Prof. Dr. (HC) Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo (cendekiawan, mantan Menteri PU dan Menhub pada Kabinet Ali Sastroamidjojo yang juga merupakan salah satu pendiri Universitas Gajah Mada dan Yayasan Perguruan Cikini), saat wafat. Bulan wafatnya pun sama. Prof. Roosseno pada 15 Juni, ibu Toety 13 Juni.

Prof. Dr. Toety Heraty adalah seorang penyair dan sastrawan yang karya-karya puisinya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Ia menulis sejumlah buku, baik mengenai puisi atau Kebudayaan, antara lain:

1. Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad ke16 (2010)
2. Transendensi Feminin: Kesetaraan Gender menurut Simone de Beauvoir (2019)
3. Pencarian Belum Selesai (2002)
4. Tentang Manusia Indonesia (2015)
5. Walking Westward in the Morning (1990)
6. Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki - sebuah prosa lirik (2006)
7. Emergent Voices: Southeast Asian Women Novelists (1994)
8. Borobudur (1993)
9. Encounters: The Poetry (2018)
10. Poems (2018)
11. A Time, A Season (2003)
12. Aku Dalam Budaya (2013)
13. Nostalgi, Transendensi: Pilihan sajak (1995)
14. Mimpi dan Pretensi (2000)
15. Sajak-sajak 33
16. Buku Ajaib Nyata Terkadang Lucu - Fragmen otobiografi
17. Hidup Matinya Sang Pengarang
18. Dll.

Mengapa salah satu buku kumpulan puisinya diberi nama "Sajak-sajak 33?" 

Karena ia baru mulai menulis puisi saat usianya 33 tahun. Toety memerlukan waktu 7 tahun untuk menganggap jumlah puisinya cukup banyak untuk dibukukan, pada tahun 1973, di saat usianya mencapai 43 tahun. Ia sangat matang dalam mempersiapkan segala sesuatunya, dengan tidak mengejar kuantitas, sebab kumpulan puisi berikutnya, "Mimpi dan Pretensi" terbit 9 tahun kemudian, yakni tahun 1982. Sayangnya, kumpulan puisinya yang ia beri nama "Dunia Nyata" yang merupakan puisi-puisi bertema khusus, belum sempat diterbitkan sampai saat ini. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dalam sajak-sajaknya menggugah Harry Aveling untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, dan dimuat pada buku Contemporary Indonesian Poetry (1975). Dan sejak itulah karya puisi Toety Heraty diterjemahkan ke dalam bahasa asing lain seperti Jerman, Perancis dan Belanda.

Toety Heraty memang dikenal sebagai pemikir feminis. Bukunya, "Transendensi Feminin: Kesetaraan Gender menurut Simone de Beauvoir" (2019) merupakan karya skripsinya pada tahun 1961.  Tulisan kuatnya yang lain  tentang perempuan adalah "Wanita Multidimensional" (1990), serta "Woman in Asia: Beyond the Domestic Domain" (1989).

Perannya sebagai sastrawan juga diperhitungkan di luar negeri. Ia memberi ceramah sastra di Pen Club International, Tokyo, pada tahun 1984, hadir dalam berbagai perhelatan sastra internasional atau seminar-seminar filsafat di banyak negara, antara lain  Kuala Lumpur, Berlin, Rotterdam dan Amerika Serikat. Jangan berharap menemukan kelembutan atau keromantisan dalam puisi-puisinya. Ia anti main stream. Puisi adalah salah satu penyaluran bagi  pendapatnya yang kritis, sehingga demikianlah yang kita temui dalam sajak-sajaknya, keras, to the point, dan merupakan endapan pemikiran yang sesungguhnya penuh kearifan. Keberfihakannya terhadap keadilan bagi perempuan ia wujudkan dengan membentuk Jurnal Perempuan, 25 tahun lalu.

Apakah ia senantiasa keras? Kalau untuk teritori pekerjaan dan prinsip-prinsip yang bertalian dengan kemajuan perempuan, ya. Toety Heraty gigih dalam menembus kendala. Terhalang birokrasi, ia urai sampai tembus.  Bahkan diveto suami pun, ia tak segan untuk menaklukkannya dengan negosiasi. Almarhum  suaminya, Prof. Dr. Eddy Noerhadi, seorang ahli biologi, tepatnya ahli kultur jaringan, yang sejak awal mengenal Toety dan lantas menikahinya pada tahun 1957 di Bandung, tentu paham benar siapa perempuan yang ia nikahi. Toety seorang ilmuwan dan seniman. Tidak selalu ia keras. Dalam banyak waktu bersama keluarga, ia memiliki kelembutannya sendiri. Sering di waktu senggang, Toety memainkan piano atau bercengkrama bersama cucu. Keromantisan tetap ada dalam dirinya.

Meraih gelar sarjana Filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden, Belanda (1974) dan mendapatkan gelar doktor dari Universitas Indonesia (1979), Toety Heraty pernah menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Tapi filsafatlah panggilan jiwanya yang murni.  Maka ia dikenal sebagai pakar filsafat kebudayaan serta Guru Besar Filsafat, Universitas Indonesia. Selain itu, ia  juga sempat menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) periode 1990-1996.

Toety Heraty merupakan salah satu penerima Anugerah Kebudayaan pada 28 September tahun 2017. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhajir Effendy memberikan Bintang Budaya Parama Darma kepada ibu Toety dan dua penerima lain, yaitu Dullah dan Soejatmoko.

Selamat jalan, Ibu Toety. Jejakmu tak akan terhapus. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji'uun.

Ini salah satu puisi karya Toeti Heraty Rooseno, yang ditulis pada Januari 1967:

SELESAI

suatu saat toh harus ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
– api petualangan cinta telah pudar –
bayang-bayang dalam mimpi, senyum tanpa
penyesalan kini
beberapa peristiwa, tinggalkan asap urai
ditelan awan

beberapa nama, beberapa ranjang
berapa tinta mengalir, dan terbuang
– mengapa tidak? –
menyeka debu dari buku, menemukan coretan
yang hampir musnah
jadi permainan yang hilang
ketegangannya

dunia ini nyata, suatu penemuan!
dunia ini nyata, suatu keheranan
keheranan dan penemuan
jelmakan benda-benda mesra:
bola usang dan beruang tercinta
sepatu merah yang lepas-lepas kulitnya,

– dunia ini nyata –
sebentar lagi anak-anak pulang
dari pesta

(Ewith Bahar, dari berbagai sumber)

Komentar

Loading...