Nol Kasus Baru, Brunei Unggul Hadapi Pandemi Covid-19

Nol Kasus Baru, Brunei Unggul Hadapi Pandemi Covid-19
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Foto: trekearth

CAKARADUNIA.CO, Bandar Seri Begawan – Negara Brunei Darussalam menjadi salah satu negara yang kini dikenal dengan keberhasilannya mengatasi wabah selama pandemi virus corona jenis baru (Covid-19), bahkan lebih unggul dibandingkan banyak negara maju di dunia.

Saat ini, Brunei mencatat nol kasus tramisi lokal, yang terakhir kali ditemukan pada 6 Mei 2020. Keunggulan negara Asia Tenggara ini diraih dengan tidak sedikit usaha-usaha preventif dan lebih lanjut, yang perlu dicontoh oleh banyak pemerintah di negara lainnya.

Sejak Januari  tahun lalu, satu bulan setelah wabah pertama kali dikonfirmasi di Wuhan, China, pihak berwenang di negara itu membatasi perjalanan dari Negeri Tirai Bambu. Langkah pencegahan berikutnya dilakukan pada Februari 2020. 

Saat itu, maskapai penerbangan Royal Brunei Airlines menghentikan penerbangan ke Changsha, Haikou, Hangzhou, Nanning, dan Shanghai. Kemudian, penerbangan ke Beijing dan Hong Kong juga dikurangi, ketika otoritas Brunei memulai pemeriksaan di semua pelabuhan masuk ke negara kerajaan itu.

Kementerian Kesehatan Brunei mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada 9 Maret. Pejabat negara itu kemudian bertindak cepat, dengan menyatakan pada 17 Maret bahwa setiap individu yang tiba di Brunei, termasuk warga Brunei yang datang dari luar negeri, harus mengisolasi diri selama dua pekan atau diancam dengan hukuman penjara hingga jangka waktu enam bulan, atau denda hingga 10 ribu dolar AS, atau keduanya.

Selain mengisolasi pendatang dari luar negeri, Brunei melarang warga dałam negeri dan asing meninggalkan negara pada 15 Maret 2020 dalam upaya untuk menahan penyebaran Covid-19. 

Pada 23 Maret 2020, Kementerian Dalam Negeri Brunei memperketat pembatasan dengan memblokir masuknya warga asing dan menutup restoran.

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah menempatkan dirinya di garis depan negara untuk memerangi Covid-19. Dia menasihati masyarakat tentang parahnya pandemi dan menyerukan warga Brunei untuk melakukan langkah-langkah kesehatan untuk mencegah penularan virus, diantaranya rutin membersihkan tangan dan memakai masker. 

Pejabat di Kementerian Kesehatan Brunei mengeluarkan panduan tentang bagaimana warga Brunei dapat melindungi diri mereka dari Covid-19, memperingatkan bagi orang-orang dengan gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas  untuk mengisolasi diri.

  Informasi lengkap, termasuk panduan kesehatan di negara itu diberikan melalui situs web yang didedikasikan untuk memberi tahu orang-orang Brunei tentang pandemi, menampilkan bagian yang dimaksudkan untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang virus corona jenis baru yang berkembang di media sosial.

Tak hanya itu, Kementerian Urusan Agama Brunei juga mengambil peran dalam melindungi masyarakat selama pandemi. Bersama dengan Kementerian Kesehatan, kedua instansi bekerjasama untuk menutup masjid di seluruh negeri dan membersihkan beberapa di antaranya. 

Pada tingkat yang lebih luas, Kementerian Kesehatan Brunei memberlakukan pembatasan pertemuan massal seperti pernikahan. Langkah-langkah pencegahan yang dilakukan tampaknya telah memperlambat penyebaran wabah di sana. 

Pada 16 Juni 2020, Brunei mencata hanya 141 kasus Covid-19 dan tiga kematian dalam populasi sekitar 437 ribu. Namun, terlepas dari keberhasilan sementara ini, strategi-strategi tersebut tentu memiliki konsekuensi yang besar.

Pada 2015, pariwisata dan industri terkait menyumbang 7,4 persen dari produk domestik bruto Brunei. Pada saat itu, para analis memperkirakan jumlah tersebut akan meningkat hingga 10 persen 2026. Tetapi, untuk mencapai titik itu di tengah aturan pembatasan yang ditetapkan oleh pemerintah, tentu target ini sulit dicapai.

Langkah awal Brunei mungkin telah memberikan dampak paling besar pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. China menyumbang hingga 65 ribu wisatawan ke negara itu pada 2018, lebih banyak dari negara lain mana pun. 

   Pada hari-hari awal pandemi, para pejabat China mengkritik negara-negara yang memberlakukan larangan perjalanan, menunjukkan bahwa diplomat China akan mengingat Brunei. Namun, pejabat Brunei telah membuat beberapa konsesi. 

Pada 17 Maret 2020, Brunei membuka Jembatan Temburong, sebuah proyek yang didanai China dengan harapan membawa kesultanan ke dalam lingkup pengaruh Beijing. 

Mengingat bahwa akumulasi pejalan kaki yang cepat merusak pesan pejabat Brunei tentang jarak sosial, langkah tersebut tampaknya dirancang untuk menunjukkan hubungan Brunei-Ciina dengan mengorbankan upaya Brunei untuk memerangi Covid-19. 

Di luar risiko yang ditimbulkan oleh tanggapan Brunei terhadap virus corona terhadap hubungannya dengan China, pertanyaan tentang efektivitas aturan pembatasan berupa karantina wilayah (lockdown) secara keseluruhan tetap ada. 

Beberapa negara yang mengambil pendekatan lebih santai untuk menegakkan pembatasan jarak sosial, seperti Jepang dan Swedia, belum melihat lonjakan kasus.  Peru, di sisi lain, telah meniru strategi proaktif Brunei. Namun, justru gagal dan menjadi salah satu negara yang terdampak parah dengan Covid-19. 

Untuk saat ini, jumlah kasus Covid-19 di Brunei tetap rendah dan kekayaan substansial kerajaan negara itu akan memungkinkan masyarakat untuk mengatasi krisis keuangan. 

Sebelumnya Brunei sempat menjadi  negara yang disorot karena menentang LGBTQ. Namun, kini mendapatkan penghargaan yang jauh lebih terhormat kali ini: memenangkan perang melawan virus corona jenis baru.

Menurut data  Worldometers, hingga Sabtu (17/7), Brunei mencatat total 283 kasus Covid-19 sejak wabah memasuki negara itu. Sementara, jumlah kematian adalah tiga dan pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 260 orang. Kasus-kasus baru di negara itu saat ini merupakan kasus impor.

Sumber: Thediplomat

Komentar

Loading...