Nishfu Sya’ban & Permbersihan “Racun Diri”

Nishfu Sya’ban & Permbersihan “Racun Diri”
Ilustrasi. /Pixabay/Konevi

SATU hal yang disepakati semua kalangan umat Islam, Nishfu Sya’ban itu ada. Dalam bahasa Arab, nishfu artinya separo atau setengah. Nishfu Sya’ban berarti setengah dari bulan Sya’ban, yakni tanggal 15 Sya’ban. Hal yang menjadi ikhtilaf di kalangan para ulama dari nishfu Sya’ban ini adalah perayaan berbagai zikir dan shalat tertentu dalam memakmurkan malam ini.

Amalan yang paling populer dalam memakmurkan malam ini adalah melaksanakan berbagai shalat sunat dan membaca surat Yasin tiga kali. Memperbanyak zikir dan berdoa, memohon ampun kepada Allah, dikuatkan keimanan, dan memohon kemudahan dan keberkahan rezeki.

Beberapa kalangan ulama berpendapat hadits-hadits tentang memakmurkan malam nishfu Sya’ban ini lemah alias dhaif, karenanya tidak ada shalat dan zikir tertentu dalam menyambutnya. Namun, ada juga sebagian kalangan ulama yang membolehkan memakmur malam separo Sya’ban. Masing-masing dari kalangan ulama,  baik  yang membolehkan maupun yang tidak membolehkan memakmurkannya memiliki dalilnya masing-masing.

Terlepas dari perbedaan tersebut, satu hal yang wajib kita lakukan pada separo Sya’ban ini adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melaksanakan ibadah shaum pada bulan suci Ramadhan. Persiapan yang harus kita lakukan adalah meyakinkan diri, ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya selama bulan Ramadhan bukanlah tradisi rutin tahunan, tapi merupakan perintah Illahi Yang Mahasuci.

Keimanan sebagai dasar utama dalam melaksanakan ibadah shaum harus benar-benar tertanam di hati. Kita harus merasa bangga dan bahagia, bukan ria, ketika kita mampu melaksanakan ibadah shaum lillahi ta’ala. Hal ini menunjukkan keimanan telah tertanam kuat di hati kita.

Separo Sya’ban yang mulai besok, sejak Maghrib hari Ahad  (28/3/2021) kita jalani hendaknya dijadikan sebagai ajang penyucian diri untuk memasuki bulan nan suci. Karenanya tidaklah salah jika sejak memasuki separo Sya’ban ini kita banyak memohon ampun kepada Allah, memohon kesehatan dan keafiatan agar diberi kekuatan untuk melaksanakan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya selama bulan Ramadhan.

Mempererat silaturahmi juga sangat baik dilakukan pada separo Sya’ban ini. Betul,  tidak ada contoh dari Rasulullah saw untuk saling berkunjung dan bersilaturahmi pada separo Sya’ban ini, namun bukan berarti tidak boleh dilakukan. Hemat penulis, selama dilakukan benar-benar untuk kemaslahatan, saling meminta maaf tidaklah menjadi sesuatu yang jelek. Terlebih-lebih, silaturahmi, mempererat persaudaraan, saling memaafkan merupakan salah satu kunci diterimanya ibadah shaum Ramadhan kita, bahkan ibadah-ibadah lainnya.

Diakui atau tidak,  delapan bulan ke belakang, banyak ucapan dan perilaku kita yang mengotori jiwa. Telinga, pandangan, tangan, kaki, pikiran, bahkan hati kita sering tergelincir kepada perbuatan-perbuatan dosa. Karenanya sangatlah bijak apabila kita memanfaatkan separo Sya’ban ke depan sampai datangnya bulan suci Ramadhan sebagai hari-hari untuk memperbaiki diri, memperbaiki akhlak dan kesucian jiwa (tazkiyat al nafs).

Ria, dendam, hasud, sombong, pemarah, malas berzikir dan tilawah al Qur’an, kikir bersedekah, menahan zakat, malas shalat malam, melalaikan shalat wajib harus benar-benar kita hilangkan dari diri kita. Sangatlah baik apabila kita senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan istikamah berzikir, memperbiaki akhlak,  dan melakukan ketaatan kepada-Nya. 

Beribadah, memperbaiki akhlak,  dan istikamah berzikir merupakan perbuatan yang berat untuk dilakukan. Tanpa pertolongan-Nya, mustahil kita akan bisa melakukannya. Karenanya, Rasulullah saw mengajarkan kepada para sahabat-Nya dan kita semua untuk senantiasa memohon pertolongan agar mampu melaksanakan ibadah dan istikamah dalam berzikir.  Mu’ad bin Jabal r.a., salah seorang sahabat Rasulullah saw senantiasa berdoa, memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan berzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya.

Lebih dari itu semua, kita pun harus memohon kepada Allah agar ibadah dan zikir yang kita lakukan memberi pengaruh terhadap semakin mulianya akhlak kita. Jujur harus kita akui, akhlak keseharian kita sering bertentangan dengan nilai-nilai ibadah yang kita lakukan. padahal, akhlak jelek ibarat racun yang mengotori kesucian jiwa.

Mary Belknap (2019 : 6) dalam salah satu karyanya “Homo Deva” menyebutkan, manusia sebagai makhluk yang berakal, memiliki kecerdasan, hati,  dan perasaan sering meracuni hati dan perasaannya sendiri. Racun-racun tersebut diantaranya, kesombongan, iri hati, keserakahan, kebencian, amarah, pemarah, ingin balas dendam, egois, sinisme, dan menghina serta merendahkan orang lain.

Racun dalam bentuk apapun tetap berbahaya. Jika masuk ke dalam tubuh, racun tersebut merupakan  benda asing yang tidak akan diterima tubuh. Namun demikian, racun yang bersifat kasat mata seperti akhlak yang  jelek lebih jauh berbahaya, merusak jiwa,  dan akan lama mengendap dalam jiwa,  jika kita tak berusaha untuk membersihkannya.

Allah Maha Pengasih, Maha Mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya mustahil bisa menjaga kesucian jiwanya sepanjang masa. Oleh karena itu, Ia memberikan kewajiban beribadah dengan tujuan untuk membersihkan berbagai racun yang mengendap dalam jiwa setiap hamba-hambanya. Segala ibadah yang kita lakukan pada intinya adalah untuk menyucikan jiwa agar kembali suci, dan dapat kembali menghadap kepada-Nya dalam keadaan suci pula.

Hari-hari separo Sya’ban atau  dua pekan menjelang bulan suci Ramadhan ini selayaknya kita gunakan untuk memperbanyak perbaikan diri,  beribadah, mencari harta yang benar-benar halal untuk bekal Ramadhan,  dan berzikir. Selayaknya, kita memohon kepada Allah agar “racun-racun” yang ada pada jiwa kita benar-benar bersih sehingga kita dapat merasakan nikmatnya ibadah shaum pada bulan Ramadhan seraya memperoleh kesucian hakiki setelah melaksanakannya.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan  Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...