Nikmat, Ikan Bakar Iskandar di Simpang Panglateh

Nikmat, Ikan Bakar Iskandar di Simpang Panglateh
Iskandar melayani pembeli sambil membakar ikan bakar di simpang Panglateh, Merduati Banda Aceh. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

TANPA terasa, Iskandar Yunus (55) warga Lampaseh Kota Banda Aceh sudah tujuh tahun mengais rezeki sebagai penjual ikan bakar di perempatan Jalan Rama Setia yang lebih populer disebut Simpang Panglateh.

Di sana, Iskandar memanfaat sudut warung kopi Sanusi, lapak jualannya sekitar satu setengah kali dua setengah meter saja. Selain Iskandar, di kiri kanan warkop Sanusi dipenuhi pedagang makanan, selain dia, ada penjual nasi, pecal dan lontong, sehingga warga ramai mengunjungi warung pojok itu.

Ketika ditemui cakradunia.co, Iskandar sedang sibuk melayani pembeli, yang rata-rata adalah pelanggannya. Namun, sering dia tidak bisa memenuhi permintaan sesuai selera pembelinya, karena terbatas ikan yang diperolehnya dari Pasar Ikan Peunayong dan Lam Pulo.

Sore itu, cuaca mendung berat dan tidak berapa lama disusul hujan deras. Saat seperti ini, stok ikan Rambe dan ikan karang harusnya banyak, karena pembeli akan memilih yang hangat-hangat untuk disantap. Suasana itu sama dengan penjual pisang goreng. Ya, hujan selalu memberi rahmad, ikan bakarnya bisa laris manis.

Berkali-kali wawancara kami terputus. Iskandar membakar ikan dan melayani pembeli yang terus berdatangan. Beberapa kali ia terpaksa meminta maaf kepada pelanggangnya karena ikan yang disukai sudah habis.

“Rambe dan ikan karang sudah habis dek, ini yang sisa ikan tongkol dan muloh mau,”tawarnya.

Iskandar yang ditemani, Aisyah, anak perempuannya sangat cekatan mengolah dan membakar ikan yang mulai jualan sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang berbuka puasa.

Iskandar sedang menaruh bumbu yang membuat rasa ikan bakarnya nikmat. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass 

Rasa ikan bakar Iskandar lumayan sedap, aroma itu langsung tercium ketika ikan hampir matang. Rahasia kelezatan ikan bakarnya ada pada racikan bumbunya dan dia tidak memasak menggunakan arang tempuran atau kayu biasa, tapi menggunakan arang bakau yang api lebih bagus.

Tahun-tahun sebelumnya, Iskandar biasa laku mencapai Rp 1 juta lebih setiap harinya. Namun, puasa tahun ini pendapatnya jauh berkurang karena efek virus corona.

“Sangat berat pengaruh corona pak, tahun-tahun lalu biasanya laku satu raga ikan tongkol dan ikan lainnya bisa mencapai 100 ekor. Tapi, tahun ini merosot sampai 60 persen,”katanya.

Meski merosot jumlahnya, namun keuntungan dari jualan ikan bakar setiap ramadhan tetap lebih besar dari pada dia jualan bebek pedaging yang dilakoninya di luar Ramadhan di kebunnya di Gurah, Aceh Besar.

Keuntungan jual ikan bakar bisa mencapai 50 persen. Bila modalnya Rp 400 ribu, Iskandar sore harinya bisa mendapatkan hasil jualannya sekitar Rp 800 ribu. Harga ikan yang dijualnya masih boleh nego, bila ada pembeli minta kurang langsung dikasihnya – karena baginya berbagi lebih nikmat di bulan yang penuh rahmat ini.

“Enak jualan ikan bakar, untungnya banyak. Kalau bebek sedikit, karena harga pakannya mahal,”sebut suami Mulyana senang.

Bulan ramadhan bagi ayah dua anak ini, merupakan bulan mengais rezeki untuk menambah modal usahanya di bulan mendatang.

Sore itu hujan belum reda, Iskandar terus membolak-balik ikan bakarnya - aromanya menusuk hidung pembeli yang sudah lama menunggu.

Helmi Hass

iklan sesama guru mari berbagi

Komentar

Loading...