Negosiasi Subjek Nasional

Negosiasi Subjek Nasional
ilustrasi

PADA masa Orde Baru, dengan kekuasaan otoriternya, rezim berhasil menegosiasikan, dan mengkonstruksi subjek warga Indonesia, untuk menjadi subjek pembangunan. Kita tahu, pada masa Orde Baru, negara membobilisasi pembangunan ekonomi, sehingga subjek-subjek lain yang ikut mendukung dan tentu sangat direstui negara adalah subjek ekonomi. Payung besar untuk melegitimasi subjek tersebut, dalam tafsir negara, adalah Subjek Pancasila.

Dengan kuasa otoriternya kontestasi tidak berlangsung secara demokratis. Memang, terdapat upaya-upaya dari berbagai kelompok masyarakat yang mencoba menegosiasikan subjek. Salah satu yang selalu bertahan, seperti akan dijelaskan kemudian, adalah berbagai organisasi keagamaan. Dalam homogenisasi subjek negara itu, terdapat perlawanan-perlawanan kecil dan sporadis dari berbagai daerah untuk mengembangkan subjek berbasis etnis/daerah.

Kita tahu, bahwa pada masa itu subjek etnis, atau pula subjek berbasis ras, sangat tidak disukai oleh rezim karena jika membesar, akan berpotensi berhadapan dengan subjek nasional yang dikawal oleh negara. Itulah sebabnya, subjek berbasis daerah dan etnis pada masa itu tidak berkembang.

Pada zaman itu pula, media komunikasi, atau tepatnya media sosial, belum dalam kondisi seakomodatif sekarang. Maka kontestasi negosiasi subjek tidak berlangsung terbuka dan massif. Konstruksi subjek negara Orde Baru secara relatif mendominasi dan menghegemoni keberadaan subjek. Subjek Pancasila, subjek pembangunan, dan subjek ekonomi menjadi representasi subjek nasional.

Subjek Reformasi?

Setelah rezim Orde Baru runtuh, segala sesuatunya berubah. Dominasi negara dan rezim pembangunan/ekonomi mengalami revisi dan restrukturisasi, atau istilah populernya reformasi. Secara teori tentu arah konstruksi subjek seharusnya ke arah subjek reformasi. Dalam praktiknya, arah subjek reformasi mengalami transformasi ke barbagai subjek yang lebih spesifik.

Namun, ternyata persoalannya tidak sekedar itu. Ketika reformasi bergulir, proses demokrasi dipahami dalam cara yang berbeda-beda, dan dipraktikkan dalam cara-cara yang cenderung salah kaprah dan kebablasan. Yang terjadi adalah eforia yang ganjil dan cenderung tidak kondusif bagi proses demokrasi itu sendiri. Eforia yang ganjil itu mendapat tempatnya atau ruangnya sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dalam bentuk media sosial yang masif. Hal-hal yang pada masa sebelumnya tidak bisa dinegosiasikan, utamanya konstruksi subjek, maka pada era kemudahan media sosial, semuanya dengan bersemangat dikontestasikan dan dinegosiasikan.

Negosiasi berlangsung dengan kontestasi yang keras dan silang sengkarut. Ada yang dengan cara-cara kekerasan, ada yang dengan cara-cara memanipulasi berbagai informasi sehingga berhamburanlah hoaks-hoaks, ada yang dengan cara-cara yang lebih rasional dan santun. Berdasarkan pengamatan, subjek-subjek yang dinegosiasikan pun lebih beragam. Tentu negara tetap mempertahankan Subjek Pancasila sebagai basis subjek nasional, juga sebagai subjek utama yang diharapkan menjaga keutuhan NKRI.

Namun, banyak kelompok kepentingan dalam masyarakat berusaha mengkontestasikan dan menegosiasikan (kembali secara terbuka), misalnya subjek berbasis etnis/daerah, agama, ras, politik, bahkan berbasis komunitas dan profesiprofesi. Ada juga subjek anti korupsi, subjek anti hoaks, dan sebagainya.

Dalam mengkontestasikan dan menegosiasikan itu, semua memiliki alasan pembenaran ideologisnya sendiri-sendiri, dan tidak jarang menjadi “berbahaya”, karena menguatnya fitnah dan hoaks. Beberapa konflik antarsubjek (kolektif), yang melibatkan jumlah massa yang cukup besar kadang tidak bisa dihindarkan. Yang menarik tentu saja adalah pengakuan bahwa subjek yang dinegosiasikan itu adalah subjek cinta NKRI, bahkan cinta Pancasila.

Hal terpenting yang ingin disampaikan adalah subjek nasional yang dikawal negara menghadapi tantangan secara terbuka, sebagai konsekuensi negara demokrasi dan penghormatan terhadap HAM. Proses kontestasi dan negosiasi inilah yang sekarang masih dan sedang berlangsung dengan hangat, penuh intrik, dan panas. Kita akan tahu, subjek apa nanti yang akan terus bertahan dan kuat, dan menjadi subjek representasi nasional.

Penulis Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...