Nasri Saputra: Tes Membaca Al-Quran Capres Ide Positif

Nasri Saputra: Tes Membaca Al-Quran Capres Ide Positif
Nasri Sahputra

CAKRADUNIA.CO, Calang - Sekretaris Partai Daerah Aceh DPW Aceh Jaya, Nasri Saputra  mengatakan, tes uji kemampuan membaca Al-Quran bagi Capres dan Cawapres, sebagaimana gagasan dan usulan serta rencana Ikatan Da’i Aceh (IDA) adalah ide positif, tidak mencidrai demokratis, tidak menodai konstitusi serta tidak merusak nilai pancasila dan UUD 1945.

“Tes membaca Al-Quran tersebut saya rasa perlu dilaksanakan karena kedua pasangan calon yang maju berintitas Agama Islam,” kata Nasri, Senin (31/12/18) malam.

Menurutnya, tes kemampuan membaca kitab suci sebagaimana indentitas agama yang diamalkan merupakan tolak ukur yang penting bagi calon pemimpin bangsa ini. Bagaimana kita serta merta mengakui akan paham isinya jika tes membacanya ditolak dan dianggap tidak perlu dan harus menjadi penilaian penting bagi kita semua terhadap issu ini.

“Apakah akal sehat kita mudah diperdaya dengan pengakuan yang penting memahi isi kitab Suci Al-Qura'n sementara tes uji kemampuan ditolak bahkan dianggap tidak perlu,”tanyanya.

Pendapat ini, katanya, tidak bertujuan mengangkat isu sara, akan tetapi lebih kepada penegasan terhadap pengakuan indentitas keagamaan yang dianut dan diamalkan berdasarkan kontitusional, pancasila, UUD 1945 serta azas demokratis. Jika saja ada Capres yang maju menganut agama non muslim, maka tes uji kemampuan baca Qur'an patut ditiadakan hanya untuk dirinya, atau bisa dilakukan tes kemampuan uji baca kita suci lain sebagaimana agama yang ia yakini serta dijamin kontitusi ...

“Oleh karena itu Capres dan Cawapres yang maju kali ini keduanya berindentitas Agama Islam maka tes kemampuan uji baca Qur'an patut dan harus dilakukan,”

Disisi lain Ikatan Da'i Aceh, sebut Nasri, secara demokratis dan secara kontitusi memiliki hak atas usulan dan gagasan yang disampaikan, dan hak tersebut merupakan sebuah keniscayaan dari pada bagian hak sebagai warga negara yang merdeka, yang tidak boleh serta merta dikatakan konservatisme, apalagi langsung menuding dan berasumsi memicu ujaran kebencian. Indonesia tidak akan rusak karena perbedaan agama, justru Indonesia berdiri karena perbedaan agama yang saling menghargai dan saling menghormati.

UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 harus ditegakkan akan tetapi tidak serta merta mengdiskriminasi hak - hak warga negara yang merdeka sebagaiamana yang dijamin dalam UUD 1954. Jika saja usulan tes uji kemapuan baca Qur'an dianggap sebagai sebuah pemikiran melanggar UU ITE atau dinilai sebuah ide yang dapat memicu ujaran kebencian. Maka, hal tersebut adalah sebuah penilaian salah dan telah mengabaikan nilai UUD 1945 yang menjamin warga negara bebas menyampaikan pendapat dengan santun, beretika, dan berestetika

Pandangan Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD yang menilai usulan IDA tersebut konservatisme bergama sangatlah tidak memiliki dasar.

“Pikiran Mahfud itu, bukan sebuah pandangan yang dihasilkan dari sebuah analisis dan kajian, akan tetapi tidak lebih daripada sebuah pandangan asumsi yang selalui dihantui pemikiran mencurigai,”tutup Sekretaris Partai Damai Aceh yang juga caleg DPRA dari dapil 10. []

Komentar

Loading...