Musik, Lagu dan Moral

Musik, Lagu dan Moral
Ilustrasi musik. Freepik.com

Oleh: Ade Sudaryat

MUSIK dan lagu merupakan salah satu penghias kehidupan manusia di muka bumi. Seperti kata Rhoma Irama, meskipun dunia  terasa berisik, dunia akan sepi kurang asik kalau tak ada lagu dan musik. Tak ada satu belahan negeri pun di muka bumi ini yang tak memiliki musik dan lagu. Lebih dari itu semua, musik dan lagu sangat mempengaruhi budaya seseorang dan suatu bangsa. Kebudayaan yang dimiliki seseorang tak bisa lepas dari musik dan lagu yang biasa dimainkan dan dinyanyikan bangsa tersebut. Bukan budaya saja, bahkan kebijakan politik pun bisa dipengaruh musik dan lagu.

Konfusius (500 – 496 SM), seorang filosof Cina berkeyakinan, musik dan lagu dapat mempengaruhi, jiwa, otak, moral, dan mental seseorang. Musik dapat melunakkan hati yang keras dan memperbaiki temperamen seseorang. Keutamaan atau kepribadian seseorang bisa ditebak dari musik dan lagu yang sedang digandrunginya, bahkan musik dapat dijadikan barometer politik dan psikologi rakyat suatu negara.

“Kalau musik yang muncul dalam suatu masyarakat terdengar muram dan menekan, kami mengetahui bahwa mereka sedang tertekan dan sedih. Jika musiknya terdengar tidak berenergi, sederhana dan panjang, berarti mereka dalam kondisi sedang damai dan bahagia. Jika musik yang muncul terdengar kuat dan bertenaga, kami mengetahui bahwa mereka sedang memiliki semangat. Jika musik yang muncul terdengar murni, bernuansa religius, kami mengetahui kesalehan dan kondisi spiritual mereka sedang meningkat. Jika musik yang  muncul terdengar lembut, gembira, dan mendayu-dayu, kami mengetahui bahwa mereka sedang baik hati dan hidup dengan penuh kasih sayang.Jika musik yang muncul terdengar cabul, merangsang, dan hingar bingar, kami mengetahui bahwa mereka sedang tidak bermoral. Apabila lingkungan rusak, kehidupan binatang dan tanaman akan ikut rusak, dan apabila dunia sedang kacau, ritual dan musik jadi tidak bermoral. Kami juga menemukan musik sedih tanpa henti dan gembira tanpa ketenangan. Melalui musik, para pemimpin berusaha menciptakan harmoni dalam hati manusia, yaitu dengan menemukan kembali sifat manusia dan mencoba mempromosikan musik sebagai cara untuk menyempurnakan budaya manusia. Kalau musik seperti itu muncul dan rakyat  dibimbing  menuju gagasan dan aspirasi yang benar,  kita akan melihat munculnya sebuah negara yang kuat.” Demikian ujar Konfusius.

Pendapat  Konfusius tersebut sangatlah tepat, hampir semua orang terpengaruh alunan musik dan lagu. Para pemain sepak bola menjadi semangat tatkala para supporter memberikan yel-yel motivasi melalui lagu-lagu yang dinyanyikan secara bersama-sama. Perjuangan bangsa kita dalam merebut kemerdekaan, juga tak lepas dari sokongan lagu-lagu yang membangkitkan patriotisme. Siapapun akan merasakan getaran semangat manakala mendengarkan lagu Halo-Halo Bandung atau Maju tak Gentar. Kita akan dapat merasakan keindahan negeri kita manakala mendengar lagu Rayuan Pulau Kelapa. Demikian pula, kita akan tergerak sadar untuk mendekatkan diri dan bersyukur kepada Allah manakala kita mendengar lagu Syukur.

Sudah sekian lamanya, di negara kita selain muncul kebebasan berbicara dan berpendapat di muka umum, juga bebas mengekspresikan pendapat dan kehendak melalui musik dan lagu. Mulai dari musik yang sendu mendayu-dayu, hingar bingar, sampai munculnya lagu-lagu yang liriknya mengkritik pemerintah. Lagu-lagu yang bertema vulgar, perselingkuhan, dan berbau porno lengkap dengan tariannya yang seronok pun bermunculan dengan bebas, padahal lagu-lagu yang berbau porno atau bertema perselingkuhan merupakan lagu-lagu yang tidak “bergizi”, meracuni otak, dan jiwa orang yang mendengarkannya. Parahnya lagi, yang menyukai,  menghafal, melantunkan, dan meniru tarian dari lagu-lagu tersebut adalah anak-anak ingusan yang belum mengerti apa-apa.

Sudah lama pula di negeri kita kehilangan pembatas antara dunia anak-anak, remaja, dan dewasa. Kini, bacaan, tontonan, dan lagu sudah kehilangan batas usia.  Anak-anak begitu bebas membaca buku atau majalah, dan menonton sinetron dengan cerita yang sebenarnya hanya cocok bagi orang dewasa. Demikian pula anak-anak begitu bebas melantunkan  lagu-lagu  orang dewasa yang bertema perselingkuhan dan berbau porno. Otak dan jiwa mereka yang masih suci diracuni dengan kata-kata dan gerakan tarian yang tidak mendidik. Kata tabu bagi anak-anak apabila melantunkan lagu-lagu untuk orang dewasa seperti yang dikatakan orang tua dahulu, kini tak berlaku lagi. Secara budaya,  hilangnya kata tabu yang membatasi dunia anak-anak, remaja, dan orang dewasa dalam mendengarkan dan melantunkan lagu serta dalam melihat suatu tontonan merupakan awal terbukanya pintu dekadensi moral.

Secara psikologis, otak manusia layaknya sebuah komputer. File apa yang kita simpan di dalamnya, maka file itu pula yang akan keluar ketika kita panggil. Selain itu, otak kita memiliki prinsip garbage in garbage out, yang keluar dari otak kita sesuai dengan yang kita masukkan ke dalamnya. Jika yang masuk ke dalam otak kita sesuatu yang kasar dan kotor, maka yang keluar dari otak kita pun akan sama. Demikian pula jika yang masuk ke dalam otak kita sesuatu yang baik, maka yang keluarnya pun akan baik pula.  Satu hal yang perlu dicatat, apapun yang keluar dari otak kita, yang baik maupun yang buruk akan mempengaruhi perilaku dan lingkungan di sekitar kita.

Kita sangat tidak menginginkan moral generasi kita hancur berantakan, sebab hancurnya moral generasi berarti hancurnya negara kita. Jalan keluarnya tiada lain adalah seperti yang dikatakan  Konfusius,  para  pemimpin negeri ini harus berusaha menciptakan harmoni dalam hati manusia,  salah satunya dengan menemukan kembali sifat manusia dan mencoba mempromosikan musik sebagai cara untuk menyempurnakan budaya manusia.

Pemerintah harus mampu memberikan arahan agar para musisi dan pencipta lagu mampu menciptakan musik dan lagu-lagu yang “bergizi” dan mendidik tanpa melupakan unsur hiburannya. Demikian pula para orang tua dan pendidik harus mampu memberikan arahan kepada anak-anaknya dalam memilih dan mendengarkan musik dan lagu. Sudah saatnya kita memilih dan mendengarkan musik dan lagu yang “bergizi”, yakni musik dan lagu yang selain menghibur, juga mendidik dan tidak membunuh norma-norma budaya bangsa dan agama.***

 

Penulis Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

iklan sesama guru mari berbagi

Komentar

Loading...