Meurah Budiman, Anak Nelayan Jadi Kakanwil Kemenkumham Aceh

Meurah Budiman, Anak Nelayan Jadi Kakanwil Kemenkumham Aceh
Drs Meurah Budiman, SH,MH.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

TAK pernah terbayangkan dalam benak sang ayah alm.Teuku Nyak Akob (76) sebagai seorang nelayan tradisional yang kemudian dipercayakan jadi Panglima Laot di Kuala Tuha Nagan Raya, suatu hari nanti, anaknya Drs. Meurah Budiman, SH, MH (52) akan menjadi pejabat teras sebagai Kakanwil Kemenkumham Aceh.

Dulu, selepas SMPN di Padang Panjang, waktu itu masih masuk wilayah Aceh Barat, orang tuanya dan orang-orang di kampung menyarankan Meurah masuk saja Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Meulaboh agar setelah sekolah langsung jadi guru SD.

Namun, jiwanya ‘berontak’ dia tak masuk SPG, tapi memilih melanjutkan pendidikan umum di SMAN 2 Meulaboh di Lapang. Setamat dari sana, Meurah kembali didorong untuk Kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang ujung-ujungnya akan jadi guru juga.

Waktu itu, Meurah pasrah saja dan kuliah di FKIP Unsyiah. Jadi gurupun baginya tak masalah yang penting bisa berbakti kepada daerah untuk membangun dunia pendidikan.

Meurah Budiman.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Namun, menjelang selesai pendidikan sarjana FKIP Unsyiah, Meurah berubah pikiran dan ingin menjadi pegawai penjara. Pada tahun 1990, diapun melamar, alhamdulillah lulus dan langsung bertugas di Lembaga Permasyarakat (LP)  kelas II-B Meulaboh.

Baru dua bulan bekerja di LP, Meurah mendapat panggilan kampus untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kebetulan, tempat KKN-nya di Desa Peunaga dengan LP jaraknya hanya sekitar lima kilometer, sehingga dia bisa bagi waktu – antara tugas sebagai penjaga keamanan di LP dengan mengikuti KKN. Pada tahun 1991, diapun  berhasil meraih sarjana.

Ketika sudah menjadi sarjana, di kalangan senior LP dia sempat di olok-olok dengan berbagai nada kurang enak. “Untuk apa sarjana belum bisa persamaan ke golongan tiga”. Setelah mendapat persamaan, tetap juga di olok-olok. “untuk apa golongan tiga, tapi ngak ada jabatan”

Namun, semua olok-olokkan senior itu dia anggap ‘angin lalu saja’. Sikap ini, malah mendapat sempati banyak dari napi. Ketika itu, Meurah selalu berprinsip bekerja secara maksimal dan amanah.

Pada tahun 1991 itu juga ketika usianya menginjak umur 24 tahun, Meurah mempersunting Zuraidah pegawai Imigrasi Meulaboh yang satu departemen dengannya dan sama-sama dari Nagan Raya.

Meurah Budiman.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Karena dedikasinya baik dan ulet dalam bekerja, setelah tiga tahun enam bulan menjadi pegawai keamanan dan staf adm di LP, Meurah dipromosikan menjadi Kepala Seksi di Kanwil Kemenkumham Aceh.

Ketika mendapat kepercayaan itu, baru seniornya di LP Meulaboh terkejut. Ketika mengikuti ujian dan mengurus kepangkatan di kantor wilayah mereka malu, karena harus melewati kasi yang dipimpin Meurah Budiman. Namun, dia tidak pernah dendam dan selalu membuka pintu maaf bagi siapapun. Ia melayani secara tulus semua kebutuhan pegawainya di dalam dilingkungan kanwil.

Setelah lima tahun lebih menjadi Kasi, pada tahun 2000 Meurah kembali ke Meulaboh menjadi Kepala Lapas di bumi Teuku Umar. Ditengah kesibukannya sebagai seorang pejabat, Meurah tak pernah berhenti untuk menimba ilmu. Dia pun melanjutkan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Muhammadya Aceh dan allamdulillah, alumni SD Langkat ini lulus pada tahun 2005.

Ketika stunami menghantam Aceh tahun 2004, Lapas Meulaboh yang tidak jauh dari laut terkena imbasnya. Namun, 140 napi di dalam lapas selamat, hanya satu yang minta izin pulang ke rumah meninggal dunia. Sedangkan yang lainnya diberi kebebasan oleh Meurah untuk mengungsi ke tempat yang aman diberbagai pelosok Aceh Barat.

Setelah aman, sebanyak 127 napi kembali sendiri ke Lapas, kebanyakan dari kalangan GAM. Sedangkan, napi kelas pencuri ringan banyak yang tidak kembali lagi dan sebagian masa tahanannya habis selama rehab-rekon oleh BRR.

“Waktu itu saya bilang gelombang besar, tidak tahu tsunami karena hubungan telepon putus dan siaran tv tidak berfungsi sama sekali. Setelah selamat saya izinkan mereka mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi dan kemudian mereka kembali lagi dengan kesadaran sendiri ke Lapas. Tahanan GAM patuh, semua mereka kembali,”kisah Meurah.

Meurah Budiman bersama keluarga, Zuraidah (kanan), Popon (berdiri kanan) dan Cut Dini Mandasari. Ist

Berprestasi di pantai barat, pada tahun 2005 Meurah dipindahkan menjadi Kalapas Langsa. Selama  disana, Meurahpun melanjutkan pendidikan S2 Magister Hukum Pidana di Universitas Muhammaddiyah Sumatera Utara.

Dari pantai timur,  pada tahun 2007 dimutasikan menjadi Kalapas Lhokseumawe dan setahun kemudian, Meurah menyelesaikan Magister Hukumnya. Dibekas kota petro dollar itu, dia sempat mengabdi hingga tahun 2010.  

Sukses disejumlah Lapas di Aceh, laki-laki kelahiran Kuala Baro, 4 Maret 1968 ini pada tahun 2010 dipindahkan menjadi Kepala Lapas Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri). Disana, dia memangku jabatan dua tahun sampai akhir 2011..

Usai di LP Kepri, prestasi anak pasangan alm Teuku Nyak Akob – alm Cut Ani pada tahun 2012 dipromosi menjadi Kabid Pembinaan Kanwil Kemenkumham Sumut. Dua tahun di Medan, Meurah dikembalikan ke Aceh dalam jabatan yang sama sebagai Kabid Pembinaan Kanwil Kemenkumham Aceh pada tahun 2014.

Pada tahun 2017 Meurah kembali dipromosi untuk menduduki jabatan eselon II B sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Gorontalo.

Ketika di Gorontalo, dia mendapat banyak ucapan selamat dari berbagai pihak. Namun, dia membalas dengan kalimat ‘Innalillahi wainnahi rajiun’. Lalu kerabat dan sejawatnya di Kemenkumham Indonesia heran dan bertanya kenapa Pak Meurah jawab seperti itu. Dia dengan santai mengatakan.

“Jabatan itu amanah dan harus dipertanjungjawabkan. Ini tugas sekaligus beban yang harus dipikul dengan baik,”katanya dalam perjalanan antara Meulaboh – Tapaktuan.

Meurah bersama Popon. Ist

Selama di Gorontalo, Meurah sangat menikmati suasana alam yang alami.  Bila di Aceh dia sering olahraga tennis lapangan dan gowes, di sana malah senang melakukan jalan kaki diantara hamparan sawah yang indah.

Hanya setahun disana, Meurah kembali di tarik ke Aceh dalam jabatan yang sama sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Aceh dan tahun 2020 dipindahkan kembali menjadi Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah.

Di Jateng, Meurah banyak belajar termasuk sering mengunjungi Lapas Nusa Kambangan, Lapas tempat ‘pembuangan’ narapidana kelas kakap. Selama sembilan bulan di sana, dia mengaku terinpirasi ingin juga membuat yang terbaik di Aceh.

Ketika bertugas di sana, semangatnya untuk menuntut ilmu tak pernah berhenti, dia  melanjutkan pendidikan program doktor (S3) di Universitas Islam Sultang Agung Semarang dan targetnya selesai dua tahun mendatang.

Tapi Tuhan memperlihatkan kuasanya, pada  Rabu, 10 Maret 2021 lalu Menteri Hukum dan HAM, Prof  Dr Yasonna H Laoly SH MS melantik Meurah Budiman menjadi Kakanwil Kemenkumham Aceh. Dan hari ini, Selasa, 11 Mei 2021 jabatan yang diemban ayah Teuku Rabiul Mauliadi, pilot Lyon Air kelahiran Blang Patek ini genap dua bulan satu hari.

Lalu apa saja keinginan dan tantangan yang harus dipikul selama memimpin Kemenkumham Aceh. Jawabannya banyak. Terutama membangun SDM dengan memberi pendidikan wajib bagai semua staf dan pimpinan, lalu membenahi lapas yang overkapasitas. 

Kini, ada lapas yang sudah menampung napi melebihi hingga 400 persen dari yang semestinya.

Lapas yang over itu di antaranya Bireuen, Lhoksukon, Kutacane, Pidie, Lhokseumawe, Takengon dan sejumlah lapas lain. Seperti di Bireuen Lapas yang seharusnya hanya ditempati 65 napi, kini malah disesaki hingga 470 orang. Bila dikalkulasi khusus Lapas Bireuen persentase overkapasitas melebihi 700 persen. Ini luar biasa!

Mungkin, bisa kita bayangkan. Kamar yang seharusnya untuk enam atau tujuh orang, selama ini disesaki sampai 20 orang. 

“Ya agak sesak. Malah ada diantara napi yang tidur dengan membuat ayunan diatas, sehingga lebih nyaman dan nyenyak tidur karena tidak berhimpitan,”kata Meurah.

Meurah Budiman.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass 

Meski dalam keadaan ‘darurat’ suasana dalam Lapas di Aceh relatif aman, karena semua napi di Aceh tidak ada istilah ada geng-geng.  

Untuk mengantisipasi keadaan  itu pihak lapas memilih jalan alternatif dengan menginapkan sebagian napi ke aula umum dan mushalla. 

Ke depan, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengurai tumpukkan napi, pihaknya segera akan mendistribusikan napi over kapasitas ke lapas-lapas yang kurang narapidana. Seperti Lapas Lambaro Banda Aceh, Meulaboh, Sinabang, Blang Pidie. 

Namun, untuk Lapas Blang Pidie masih kurang pegawainya, sehingga menjadi alternatif terakhir bila memang sangat dibutuhkan.

Sedangkan langkah kedua, pada tahun 2022 mendatang akan dibangun lapas baru di sejumlah daerah, seperti di Kutacane, Nagan Raya, Sinabang. Malah, Meurah merencanakan di pulau Simeulue akan dibangun lapas khusus sekelas Nusa Kambangan yang didalamnya ada kamar khusus untuk satu orang,  tiga dan lima orang serta dilengkapi cctv dalam kamar dan disemua sudut dengan dijaga keamanan maksimum.

“Sipir saja tidak dibenarkan bertatap muka langsung dengan napi,”

Pasti banyak orang akan bertanya untuk apa, ada Lapas Nusa Kambangan kedua di Indonesia. Bagi Kemenkumham program ini sangat penting, karena Aceh sekarang sudah banyak narapidana kelas kakap. Dengan lahir lapas keamanan maksimum, napi di Aceh tidak perlu lagi dilakukan pergeseran ke pulau Jawa dan sangat menghemat biaya.

Sampai  hari ini, sudah 4.020 napi yang menghuni seluruh Lapas di Aceh dan terbanyak narapidana narkotika. Napi narkoba sangat merepotkan pihaknya, karena tidak hanya mempengaruhi warga biasa, tapi juga menggerus petugas Lapas, sehingga ikut mereka, menjadi penghubung bahkan terkadang juga menjadi pemakai.

Untuk memutuskan jaringan dengan pegawai Lapas, pihaknya akan mengambil sanksi tegas. Mulai dari pembinaan dengan dilakukan pergeseran tempat kerja, pencopotan jabatan hingga pemecatan.

“Soal kasus narkotika terlibat pegawai Lapas, kita tidak toleran. Langsung ditindak bahkan sanksi berat dipecat,”katanya.

Diakui Meurah, persoalan Lapas di Aceh tidak bisa serta merta bisa terurai dengan cepat, butuh waktu. Karena antara pegawai dengan jumlah napi yang diurus sangat tidak sebanding. Seharusnya setiap satu sipir hanya mengawasi delapan napi.

Namun, yang terjadi di Aceh 400 napidana hanya dikawal oleh 4 atau 5 sipir. Kondisi ini sangat merepotkan dan terkadang berbagai kemungkinan bisa terjadi.

“Kondisi ini memang sangat-sangat tak sebanding,”ungkapnya.  

Untuk mengantisipasi kekurangan tenaga, pihak lapas menggunakan tenaga warga binaan untuk membantu berbagai kegiatan rutin sehari-hari. Baik bidang kebersihan, urusan mushalla, dapur dan lain-lain. Itu pun tidak diberi kebebasan mutlak, mereka tetap diawasi sehingga tidak bergerak bebas diluar kendali.

Kini diusianya ke-52 tahun, meski memikul tugas berat, sehari-hari Meurah tetap tampak enjoy. Ketika cakradunia.co menyambangi kediaman pribadinya di Jalan Sawah, Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh dua hari lalu. Dia sedang sibuk memilah dan membersihkan buku-buku yang sudah lama tak terurus.

Ketika diajak dialog, Meurah sangat santai malah sesekali berguyon sambil tertawa lepas saat bercerita hal-hal kecil yang unik yang dialaminya selama bergelut dengan napi.

Sejak dilantik, Meurah memilih tinggal di rumah pribadinya yang dibangun tahun 2007 dan rampung pada tahun 2010 lalu. Suasana rumah itu tak ada yang berubah tetap seperti biasa, tidak ada satpam, tidak ada protokuler semua pintu terbuka.

Teuku Rabiul Mauliadi alias Popon pilot Lyon Air. Ist

Ditengah kesibukannya, Meurah bersyukur dua anaknya sudah bekerja. Anak pertama Teuku Rabiul Mauliadi atau lebih akrab dipanggil Popon sudah menjadi pilot pesawat Lyon Air pada tahun 2017.

“Popon tak mau jadi PNS, sempat kuliah di Teknik Informatik di Jawa. Namun, setahun di sana malah dia ingin jadi pilot. Karena keinginannya kuat, ya kami dorong agar cita-citanya terwujud. Alhamdulillah tahun 2017 sudah bekerja di Lyon Air dan kini sudah hampir mencapai 3.000 jam terbang,”urainya senang.

Sedangkan anak ke-2 yang bernama Cut Dini Mandasari mengikuti jejaknya menjadi ASN dengan ikut ujian dan lulus murni dengan sistem Seleksi Computer Assisted Test (CAT) ketika Meurah bertugas di Gorontalo. Kini, Cut Dini bertugas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Banda Aceh.

Ketika disinggung apa keinginannya masa purna tugas tahun 2029 nanti?  Meurah Ingin membangun Nagan Raya. Motivasi itu, muncul setelah dia melihat begitu ‘carut-marut’nya kondisi manajemen organisasi pemerintah. Setiap kepemimpinan baru selalu memboyong orang-orang kesukaannya, meski itu bukan orang yang tepat memangku jabatan tersebut.

Sangat beda jenjang karir di Kemenkumham, bagi yang berprestasi karirnya terus naik tanpa harus diurus ke sana-sini. Kecuali pejabat itu bermasalah atau konditenya buruk, pasti tidak pernah akan mendapat jabatan.

Buktinya, Meurah sendiri hingga mencapai jabatan eselon II A sebagai Kakanwil Kemenkumham Aceh tanpa diurus dan main sogok-sogokkan atau like and dislike.

“Beda kali bang, kalau di pemda siapa yang dekat dan disukai dia jadi pejabat. Malah ada guru SD jadi Kadis Perikanan di pemkab. Di Kemenkumham tidak ada main sogok. Jadi semua karena penilaian pimpinan. Saya tak pernah sogok hingga jadi Kakanwil,”katanya tegas.

Maka, kalau pun diajak mencalonkan diri jadi Bupati Nagan Raya setelah pensiun, Meurah mau asal tidak main sogok alias memberikan uang kepada pemilih.

“Boleh saya maju jadi bupati untuk membangun Nagan Raya. Tapi, hanya satu syarat saya tidak bayar masyarakat untuk beli suara,”tutup Meurah.

Apakah mungkin, tanpa fulus keinginan Meurah Budiman bisa terwujud. Karena, kita sama-sama tahu bahwa setiap mendulang suara selama ini di Nagan Raya, di Aceh bahkan Indonesia selalu dengan uang.

Semoga impian Meurah delapan tahun kedepan bisa disahutin oleh rakyat Nagan Raya tanpa pamrih agar perubahan yang ingin diwujudkan anak nelayan Kuala Tuha ini, bisa tercapai demi masa depan anak dan cucu rakyat Nagan Raya. Bravo Meurah!

Helmi Hass

    

Komentar

Loading...