Menyalurkan Energi

Menyalurkan Energi
ilustrasi. kompasiana.com

DI TENGAH-TENGAH  kejenuhan membaca buku-buku “berat”, saya membaca komik/manga khas Jepang, “Kungfu Boy” karya Takeshi Maekawa. Komik dengan tokoh utama Chinmi seorang laki-laki yang menaruh perhatian mendalam terhadap kungfu beserta filosofinya.

Dalam komik tersebut dikisahkan berbagai petualangan Chinmi setelah berguru Kungfu di Kuil Dairin. Seperti halnya petulangan ilmu bela diri lainnya, dalam komik tersebut dikisahkan berbagai perdebatan sampai pertarungan kekuatan mempertahankan, membuktikan, dan membela kebenaran yang berujung kepada pemberantasan kejahatan.

Jauh sebelum keluar dari  Kuil Dairin tempatnya belajar Kungfu, Chinmi selalu mendapatkan wejangan moral dan ilmu kependekaran dari sang Guru. Salah satu wejangan yang selalu ia ingat adalah penyaluran dan pemanfaatan energi yang dimiliki dirinya.

Seperti guru-guru ilmu bela diri lainnya, gurunya  selalu memberikan wejangan untuk selalu berusaha menaklukkan dirinya sendiri sebelum menaklukkan orang lain. “Pendekar sejati adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri sebelum mengalahkan orang lain.” Demikian salah satu wejangan dari gurunya.

Dalam kesempatan lainnya, sang Guru memberikan wejangan kepada Chinmi. “Kamu harus bisa menyalurkan energi yang kamu miliki, terutama pada saat kamu marah. Jangan kamu gunakan energimu  untuk melampiaskan amarahmu. Bertindaklah dengan akal dan nuranimu, bukan dengan nafsu amarahmu. Pada saat marah, seseorang seolah-olah mendapatkan energi baru yang cukup besar. Energi yang didapat ketika marah mampu memecahkan berbagai benda yang tak bisa dipecahkan ketika seseorang tidak marah. Seseorang yang marah tiba-tiba memiliki kekuatan untuk memukul orang lain, padahal sebelumnya ia seorang penakut. Kamu akan menjadi orang kuat, jika kamu mampu menyalurkan kekuatan energi marah untuk menolong dan membahagiakan orang lain. Kamu akan menjadi kuat, jika kamu mampu menahan marah, dan memaafkan kesalahan orang lain.” Lanjut sang Guru melanjutkan wejangannya.

Inti dari wejangan sang Guru Chinmi itu adalah, seseorang harus mampu memanfaatkan energi yang dimilikinya untuk berbuat kebaikan.  Setiap benda, apalagi manusia memiliki energi yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai aktifitas. Setiap hari, khususnya manusia selalu melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan, menambah, dan menyalurkan energi yang dimilikinya.

Mengkonsumi makanan dan minuman,  melakukan aktifitas olah raga,  dan aktifitas fisik lainnya merupakan upaya untuk mempertahankan dan menambah energi. Potensi energi yang dimiliki seseorang merupakan sumber kekuatan utama dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Idealnya, seseorang dapat menggunakan berbagai energi yang dimilikinya untuk berbuat kebaikan, bukan untuk melakukan tindakan kejahatan, kejelekan, dan kemaksiatan.  

Jauh sebelum sang Guru Kungfu memberi wejangan kepada Chinmi agar dapat menyalurkan energi marah, al Qur’an dan hadits Rasulullah saw telah lebih dahulu memberikan kriteria seorang “pendekar” yang perkasa. Dalam sebuah hadits disebutkan, seseorang disebut “pendekar” yang kuat bukanlah karena badannya yang kekar,” bertulang besi, berotot baja”, namun seorang “pendekar” yang hebat dan kuat adalah orang yang mampu meredam amarahnya, menyalurkan energi marah menjadi energi pemaaf.

“Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu memenangkan dalam suatu pergulatan, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu meredam amarahnya ketika ia marah” (H. R. Muttafaqun ‘alaih).

Orang yang mampu meredam amarahnya ketika marah merupakan orang yang akan memperoleh ketenangan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu penghuni sorga adalah orang-orang yang mampu meredam amarahnya ketika marah. “Tahanlah amarah marahmu, maka bagimu sorga.” Demikian sabda Rasulullah saw.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Ia meminta nasihat akan amal yang bisa dilakukannya setiap hari. Rasulullah saw menasihatnya, “Jangan  marah.”

Orang tersebut masih belum puas. Kemudian ia meminta lagi nasihat, dan berkali-kali Rasulullah saw menjawab, “Jangan Marah.”

Menahan amarah ketika marah menjadi salah satu indikator kualitas ketakwaan seseorang. Semakin seseorang menjadi pemaaf, maka semakin meningkat kualitas ketakwaannya. Selain pemaaf, tidak mengumbar amarah ketika marah, sikap dermawan pun menjadi indikator kualitas ketakwaan seseorang.

“(Dan orang-orang yang bertakwa itu adalah) mereka yang menafkahkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dan menahan amarahnya, serta memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah adalah Dzat yang mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 134).

Setiap orang memiliki energi yang dapat digunakan untuk mengumbar dan menahan amarahnya. Demikian pula, setiap orang memiliki energi untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, dan ia pun memiliki energi yang dapat mendorongnya untuk bersikap kikir.

Kini pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan menyalurkan semua energi yang kita miliki untuk kebaikan hidup kita dan orang lain ataukah akan kita salurkan untuk bersikap nanar dan berbuat onar?

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...