Menutup Pintu Kejahatan

Menutup Pintu Kejahatan
Ilustrasi.net

SEHEBAT apapun usaha yang kita lakukan, kita tak akan dapat melenyapkan semua tindak kejahatan di muka bumi ini. Seperti halnya dengan kebaikan, selama manusia ada dan beraktivitas, kejahatan akan selalu ada. Syetan sebagai musuh utama manusia akan selalu membisikkan, mendorong, dan membantu membuka jalan bagi orang - orang yang berkehendak melakukan tindak kejahatan.

Dari masa ke masa, tindak kejahatan terus meningkat seiring dengan meningkatnya mobilitas manusia, perkembangan politik,  dan pekembangan ekonomi. Rasanya tak ada masa yang sepi dari tindak kejahatan, tak ada wilayah yang kosong dari tindak kriminalitas. Malahan, seiring dengan kemajuan, tindak kejahatan pun menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Perkembangan internet yang begitu pesat ditunjang dengan kemudahan memperoleh alat-alat komunikasi dengan harga murah, kini hampir semua kegiatan dilakukan secara online, termasuk berbagai tindak kejahatan. Sudah banyak orang-orang menjadi korban tindak kejahatan oline. Hampir setiap hari ada saja orang yang tertipu via online, mulai dari jual barang palsu, penipuan transaksi perbankan, dan tindak kejahatan lainnya.

Dahulu, kesulitan ekonomi dan kemiskinan menjadi penyebab seseorang melakukan tindak kejahatan. Namun, kini penyebab tersebut  bukan menjadi penyebab utama. Banyak para pelaku kejahatan yang termasuk golongan orang yang mapan dari segi penghasilan dan kehidupannya. Para koruptor bukanlah orang miskin yang kesulitan memenuhi makanan sehari-hari, sudah dapat dipastikan para pelaku korupsi adalah orang-orang berilmu, berpengaruh, dan berpenghasilan tinggi. Demikian pula tindak kejahatan lainnya.

Sementara itu, adanya petugas keamanan belum bisa seratus persen menjamin diri kita terbebas dari tindak kejahatan. Malahan, tak sedikit para pelaku tindak kejahatan tersebut adalah oknum dari orang-orang yang berlabel sebagai petugas keamanan atau security. Mereka yang seharusnya menjaga keamanan orang-orang yang ada di hadapannya, malah sebaliknya. Orang-orang yang ada di hadapan para oknum petugas keamanan tersebut menjadi sasaran perlakuan semena-mena.

Di keluarga dan di dunia pendidikan pun tak jauh berbeda. Seorang anak yang seharusnya mendapatkan rasa aman dan perlindungan penuh dari orang tuanya, malah sebaliknya. Banyak anak yang menjadi sasaran tindak kejahatan yang dilakukan para orang tua atau anggota keluarga lainnya. Demikian pula dalam dunia pendidikan, tak sedikit para peserta didik yang mendapatkan tindakan kejahatan atau tindakan tidak senonoh dari oknum guru yang seharusnya memberikan rasa aman kepada peserta didik. 

Singkatnya, kejahatan dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dapat menimpa semua kalangan. Petugas keamanan, sekolah, keluarga, bahkan negara sekalipun tak dapat menjamin siapapun benar-benar terbebas dari tindak kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap diri seseorang. Satu hal yang bisa dilakukan adalah meminimalisir intensitas tindak kejahatan.

Seperti diketahui, rumus umum kejahatan adalah adanya unsur niat dan kesempatan. Jika dari dua unsur ini salah satunya tidak ada, maka kejahatan tak akan terjadi. Namun yang paling penting adalah tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan suatu tindak kejahatan. Oleh karena itu, kewajiban semua orang adalah melakukan upaya untuk memutus mata rantai penyebab timbulnya tindak kejahatan.

Konsep amar ma’ruf nahyi munkar yang digaungkan ajaran Islam sebenarnya merupakan upaya untuk memutus mata rantai atau mengurangi ikatan mata rantai kejahatan. Islam mewajibkan setiap orang untuk menutup pintu-pintu yang dapat mengantarkan seseorang berbuat kejahatan.

Islam melarang wanita melakukan tabarruj yakni menampakkan kecantikan, lekuk tubuh, dan perhiasan,  tiada lain agar tidak memberi kesempatan kepada siapapun untuk berbuat jahat kepadanya. Demikian pula, Rasulullah saw menganjurkan memadamkan api, sekarang identik dengan listrik yang tidak dipakai penerangan, menutup rapat pintu dan jendela pada malam hari, mengikat unta agar tidak berkeliaran, tujuannya tiada lain agar memutus tindak kejahatan.

Pengharaman judi dan mabuk, tujuan utamanya untuk memutus mata rantai kejahatan, sebab secara sosiologis, kedua perbuatan ini selalu menjadi pembuka awal bagi kebanyakan orang untuk melakukan berbagai tindak kejahatan. Kewajiban menutup rapat aurat bertujuan agar tidak mengundang lawan jenis untuk berbuat asusila.  Sementara hukuman berat terhadap tindak pencurian dan pembunuhan tujuannya tiada lain untuk memberi efek jera kepada siapapun yang berniat melakukan tindak pencurian dan pembunuhan.

Dalam khazanah ushul fiqih, perbuatan menutup pintu kejahatan atau menghilangkan media yang dapat mengantarkan seseorang melakukan kejahatan disebut saddudz dzariah. Sebagian ulama ahli hukum Islam meyebutkan, saddudz dzariah, menutup pintu kejahatan atau perbuatan dosa merupakan tujuan utama dari hukum Islam. 

Seperti sudah disebutkan pada awal tulisan, kejahatan akan tetap ada selama manusia ada di muka bumi. Kita hanya bisa mengupayakan mengurangi intensitas tindak kejahatan, yakni dengan menutup semua pintu dan media yang dapat mendorong niat dan memberi kesempatan kepada seseorang untuk berbuat kejahatan, termasuk tidak terlalu mengumbar identitas diri yang bersifat privasi di media sosial.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...