Menjaga Pola Makan

Menjaga Pola Makan
Ilustrasi, makan secukupnya agar sehat. Ist

Oleh: Ade Sudaryat

DALAM salah satu hipotesisnya,  Karl Mark mengatakan, peperangan yang terjadi di muka bumi ini, penyebab intinya adalah karena memperebutkan makanan. Semua orang pergi pagi,  pulang malam, pada intinya karena ingin memenuhi kebutuhan makanan. Pangkat dan jabatan yang dikejar-kejar, ujung-ujungnya juga ingin memenuhi kebutuhan akan makanan.

Setelah makanan tersedia, banyak orang yang kemaruk terhadap makanan. Mereka mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Ujung-ujungnya bukan sehat yang didapat, tetapi berbagai penyakit semakin mendekat.

Menurut para ahli kesehatan, penyakit-penyakit yang diderita kebanyakan orang pada saat ini, pada dasarnya karena salah pola makan. Dokter  Mohammad Ali Toha Assegaf dalam bukunya “Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi” (2007 : 107) mengatakan, 70% penyakit manusia modern disebabkan kelebihan gizi alias berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.

Sementara itu, Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus” (2015 : 4) menyebutkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan manusia, kini lebih banyak orang meninggal akibat terlalu banyak makan ketimbang orang yang kekurangan makanan. Pada tahun 2010, kelaparan digabung dengan gizi buruk di seluruh dunia menelan korban meninggal sekitar satu juta orang, sedangkan obesitas (kelebihan berat badan) menelan korban meninggal sampai tiga juta orang. Salah satu penyebab obesitas adalah berlebihan mengkonsumsi makanan. Pada tahun 2014, lebih dari 2,1 miliar orang menderita obesitas, dan pada tahun 2030 diperkirakan  setengah dari populasi manusia akan menderita obesitas.

Berkenaan dengan makanan, ajaran Islam sangat menekankan agar kita benar-benar memperhatikan makanan yang kita konsumsi. Selain bergizi, kehalalannya pun mutlak harus mendapatkan perhatian, dan yang paling penting jangan berlebihan dalam mengkonsumsinya. “Silakan kalian makan dan minum, namun kalian jangan berlebihan” (Q. S. Al-A’raf : 31).

Selain itu, Rasulullah saw sering memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan senantiasa memperhatikan kondisi lambung kita. Ia memperingatkan agar kita tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan menghindari makan yang terlalu kenyang, apalagi sampai bersendawa.

Agar makanan yang kita konsumsi menjadi berkah bagi tubuh, ia menganjurkan agar kita terbiasa makan ketika benar-benar sudah lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas,” (H. R. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Muslim).

Kebanyakan ahli kesehatan sepakat, pola makan seperti yang dilakukan Rasulullah saw merupakan pola makan yang baik. Sementara secara spiritual, makan yang sederhana, perut yang tidak kekenyangan akan menjadikan diri seseorang cemerlang pikirannya, dan tidak malas untuk melaksanakan ibadah.

Sayidina Lukman berwasiat kepada anaknya, “Wahai anakku! Jika perutmu terlalu penuh dengan makanan, maka akan matilah daya pikirmu, lenyaplah ilmu dari hatimu, dan anggota badanmu akan malas untuk melaksanakan ibadah.”

Orang Jepang memiliki kearifan lokal yang disebut “hara hachi bu” yang secara garis besarnya bermakna makan setelah lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang, lambung hanya diisi 80% dari kapasitasnya, dan 20% sisanya  untuk bernafas. Dari hasil penelitian terhadap penduduk Okinawa-Jepang yang menerapkan pola makan “hara hachi bu”, terbukti mereka lebih sehat,  lebih bahagia, dan berumur panjang.

Seribu lima ratus tahun lalu, sebelum orang Jepang menerapkan pola makan “hara hachi bu”,  Rasulullah saw telah menganjurkan agar kita hanya mengisi dua pertiga dari kapasitas lambung kita, dan sisanya untuk bernafas. Lebih dari itu, Rasulullah saw menekankan, makan dan minum bagi umatnya harus bernilai ibadah, bukan sekedar memenuhi kebutuhan perut saja.

Ibadah shaum Ramadhan yang baru usai kita laksanakan salah satu hikmahnya adalah belajar mengendalikan sifat kemaruk akan makanan dan minuman dan  mampu menjaga pola makan yang baik. Pola makan yang baik adalah makan secara sederhana, disesuaikan dengan kebutuhan tubuh tanpa melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

“Timbanglah kebutuhan akan makananmu, pasti kalian akan memperoleh berkah dari makanan untuk tubuhmu,” (H. R. Ahmad dan ath-Thabrani).

Jika kita mampu konsisten menjaga pola makan yang baik, kita akan bertemu dengan hikmah ibadah shaum yang lainnya, yakni “Laksanakanlah ibadah shaum, pasti kalian akan sehat,” (H. R. Abu Nu’aim).  Semoga. ***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat

Komentar

Loading...