Menjaga Niat & Istikamah dalam Beramal

Menjaga Niat & Istikamah dalam Beramal
Ilustrasi.net

SUDAH beberapa hari Manshur Bin ‘Amar merasa kehilangan sahabat karibnya. Ia yang sudah dianggap sebagai saudaranya tersebut sudah beberapa minggu lamanya tak bersilaturahmi dengannya. Padahal hampir seminggu sekali, ia selalu bertemu dan saling memberi wasiat.

Secara dhahir, sahabatnya tersebut tergolong orang yang rajin beribadah. Karenanya,  ketekunan dalam beribadahnya tak perlu diragukan lagi. Tahajud, istighfar, dan ibadah lainnya selalu ia kerjakan. Sekali membaca istighfar saja, uraian air matanya keluar begitu lama. Ia nampak benar-benar menghayati makna istighfar yang dibacanya.

Karena penasaran, ia pun pergi berkunjung ke rumah sahabatnya tersebut. Sesampainya di rumah sahabatnya, ia kaget sekali ketika anak perempuan sahabatnya tersebut memberitahu, sudah beberapa  minggu ayahnya sakit.

Setelah masuk ke dalam rumah, didapati sahabatnya tersebut tengah berbaring lunglai di tengah rumah. Wajahnya membiru, kedua matanya cekung, dan kedua bibirnya terkunci rapat. Aku merasa heran dan kasihan kepadanya. Sambil menahan air mata yang sulit terbendung, aku berkata, “Saudaraku perbanyaklah membaca ‘la ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Mendengar ucapanku seperti itu, tiba-tiba matanya terbuka dan melirik kepadaku. Kemudian ia memalingkan muka. Ia nampak ketakutan ketika aku menyuruhnya mengucapkan kalimah tauhid tersebut.  Aku sangat  kaget dengan sikap sahabtku tersebut. Sungguh sikap yang lain daripada biasanya.

Aku yakin sahabatku tersebut sudah mendekati ajalnya. Aku berkata lagi, “Wahai sahabatku, jika kamu tidak mau mengucapkan kalimat tauhid, jika kamu meninggal, aku tak akan memandikanmu, tak akan mengkafanimu, dan tak akan menyalatkanmu.”

Ia tersentak kaget mendengar ucapanku yang aku keraskan ke telinganya. Ia membuka matanya, sambil menatap kepadaku. Air matanya berlinang. Pandangan yang penuh ketakutan nampak menyelimuti perasaannya. Tak lama kemudian, dengan terbata-bata ia  berkata, “Wahai sahabatku, ada yang menghalangiku setiap aku akan mengucapkan kalimat tauhid tersebut.”

“Wahai saudaraku, laa haula walaa quwata illa billah. Tak ada ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongannya. Kemana kebiasaan ibadah shalatmu, shaum wajib dan sunatmu, serta kemana kebiasaan berlatih mengucapkan kalimat tauhid yang selalu kau lantunkan selepas shalat tahajud seperti yang sering kau katakan?”

Mendengar kata-kata seperti itu, air mata sahabat Manshur bin ‘Amar semakin deras keluar, membasahi pipinya. Kini bukan lagi suara lirih, namun ia menangis keras sekali. Tangisannya yang keras memecah kesunyian rumahnya yang sangat sederhana.

Kini Manshur bin ‘Amar semakin kaget dengan keadaan sahabatnya tersebut. Gerangan apa yang telah menimpa saudaranya tersebut. Setelah tangisannya mereda, ia berkata,

“Wahai Manshur, sahabat dan saudaraku. Ibadah-ibadah yang aku lakukan sebelum aku terbaring sakit seperti ini bukanlah karena Allah semata. Aku mengerjakannya demi popularitas dan supaya menjadi buah bibir semua orang. Aku gila sanjungan dan pujian. Semangat ibadahku bertambah dan aku perlihatkan kepada semua orang ketika aku mendengar sanjungan dan pujian dari orang-orang yang memperhatikanku. Namun, ketika aku sendirian, aku mengunci pintu kamarku, menutup tirai, dan aku melakukan kemaksiatan secara terang-terangan.”

Mendengar perkataan sahabatnya tersebut, Manshur bin ‘Amar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka sedikitpun dengan perilaku sahabatnya tersebut. Ia segera menyuruh sahabatnya tersebut untuk segera bertaubat sebelum ajal menjemputnya (Muhammad Ali ash Shabuni, Tanwir al Adzhan, Juz I : 269).

Mari kita merenung sejenak. Jangan-jangan perilaku sahabat Manshur bin ‘Amar tersebut adalah kita. Jangan-jangan kita sering melakukan kepura-puraan dalam beribadah. Kita melakukan berbagai keshalehan di depan khalayak, namun sengaja melakukan kesalahan dan berbuat maksiat di belakang khalayak.

Jika benar  ibadah yang kita lakukan seperti sahabat Manshur bin ‘Amar tersebut, marilah kita segera bertaubat sebelum ajal menjemput. Mari kita memperbaiki niat kita dalam beribadah, dan senantiasa memohon kepada Allah agar tetap istikamah beribadah dalam situasi dan kondisi apapun. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...