Menikmati Hidangan Maharaja

Menikmati Hidangan Maharaja
Ilustrasi/Getty Images/iStockphoto/Tabitazn

HANYA orang-orang pilihan dan mendapat undangan yang bisa masuk ke komplek  istana kerajaan. Mereka bisa bertemu dengan raja, menikmati keindahan istana,  dan mencicipi menu hidangan  mewah yang terdapat di kediaman sang raja.

Kebahagiaan akan terpancar di wajah orang-orang yang diundang ke istana kerajaan. Dengan rasa bangga, mereka akan menceritakan pengalamannya selama berada di istana kerajaan. Ia merasa bahagia karena menjadi orang terpilih dan terhormat dari sekian banyak rakyat yang dipimpin sang raja.

Ketika memasuki istana kerajaan, kita harus tunduk terhadap segala aturan yang telah ditetapkan penguasa istana. Jika kita tidak mentaatinya, jangan harap kita akan memperoleh kenyamanan ketika memasukinya. Kita akan diawasi, diberi peringatan keras, bahkan  bisa jadi  petugas istana mengusir kita dari komplek istana.

Seperti itulah analogi  ibadah shaum Ramadhan yang mulai kita laksanakan  pada hari ini. Bulan suci ini merupakan undangan khusus dari Allah bagi hamba-hamba-Nya  yang terpilih, yakni al mukminun alias orang-orang yang beriman. 

Suatu fakta yang tak terbantahkan, belum semua orang yang mengaku muslim mampu melaksanakan ibadah shaum meskipun mereka sehat wal afiat. Hal ini menunjukkan keimanan, keyakinan, dan kepasrahan mereka belum mencapai  “prestasi terbaik”  yang  layak menikmati hidangan dari Sang Maharaja dan merasakan kebahagiaan ketika menikmati hidangan yang “disuguhkan”  Sang Maharaja.  Bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan dengan baik, mereka akan memperoleh dua hidangan  kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika ifthar (buka shaum), dan kebahagiaan ketika kelak di alam keabadian bertemu dengan Sang Maharaja, Allah Swt.

Mulai saat ini sampai satu bulan ke depan,  kita  akan  berada di “istana” milik Sang Maharaja. Dengan penuh keyakinan, kita harus tunduk kepada ketentuan yang telah ditetapkan Sang  Maharaja, Allah swt. Karenanya, bagi kita yang sudah mampu melaksanakan ibadah shaum, sudah menjadi kewajiban untuk memanfaatkan undangan  ini sebaik mungkin. Keimanan harus benar-benar  terpatri kuat di dalam hati seraya tetap ikhlas, hati-hati dalam berucap dan berperilaku, berupaya keras menjauhi segala hal yang dapat merusak nilai-nilai kebaikan ibadah shaum.

Keikhlasan, kehati-hatian, kewaspadaan dalam bertingkah dan berucap inilah yang disebut ihtisab. Dengan kata lain, ihtisab adalah berupaya meraih akhlak terbaik selama melaksanakan ibadah shaum. Ihtisab sendiri merupakan syarat kedua setelah beriman  agar ibadah shaum kita dapat dipakai “membeli” ampunan Allah. Jika ihtisab hilang dari ibadah shaum, maka sia-sialah ibadah shaum kita. Hanya lapar dan dahaga saja yang kita raih.

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu melaksanakan ibadah shaum Ramadhan dan menganjurkan kepadamu qiyamu Ramadhan. Barangsiapa melaksanakan ibadah shaum Ramadhan dengan didasari keimanan dan ihtisab, maka dia akan (terbebas) dari dosa-dosanya laksana hari ketika ia dilahirkan” (H. R. an-Nasa’i).

Tentang hidangan dari Maharaja ini, Jalaluddin Rumi, seorang ulama sufi, menorehkan penanya dalam sebuah sya’ir  nan indah.

sebuah meja hidangan akan diturunkan dari langit
ke dalam tenda shaummu
meja hidangan makan Nabi Isa .

berharaplah memperolehnya,
karena meja hidangan ini,
jauh lebih baik
dari sekedar sup kaldu sayuran

Menurut Rumi, hidangan orang yang makan sahur dan berbuka shaum laksana hidangan dari langit yang diberikan Allah kepada Nabi Isa a.s. dan para pengikutnya . Sebuah hidangan yang penuh berkah dan pahala bagi orang yang menyantapnya.

Kelelahan, rasa lapar dan dahaga di siang hari tidaklah akan menjadi sia-sia bagi orang-orang yang  melaksanakan shaum. Semuanya merupakan perbuatan yang akan diganti dengan kebahagiaan, rida, dan ampunan Allah. Kelembutan hati, keinginan untuk berbagi, berwawasan luas, rajin beribadah, dan kemampuan menundukkan hawa nafsu merupakan sebagian hikmah yang akan diperoleh orang-orang yang mampu menahan lapar, dahaga, dan mampu mengendalikan hawa nafsu. 

Tentang perut kosong nan lapar  selama melaksanakan shaum, Rumi menggoreskannya dalam sebuah sya’ir.

ketika kau  shaum menahan lapar,
sifat-sifat baik mengerumunimu
bagai para sahabat yang ingin membantu.

ada rahasia tersimpan dalam perut kosong.
kita ini laksana  alat musik petik,
tak lebih dan tak kurang.
jika kotak suaranya penuh, musik pun hilang. 

bakarlah  habis segala  yang mengisi kepala dan perut
dengan menahan lapar, maka
setiap saat irama baru akan muncul
dari api kelaparan yang nyala berkobar. 

Sebaliknya, perut yang penuh sesak dengan makanan dan minuman, selain tidak baik bagi kesehatan, juga akan menghilangkan hikmah atau kebijakan dari jiwa, dan menjadi sarang yang  nyaman bagi tempat tinggal iblis.

Ketika makan dan minum memenuhi dirimu, iblis akan duduk di singgasana tempat jiwamu semestinya duduk, bagai sebuah berhala buruk dari logam yang duduk di atas Ka’bah. Demikian ungkap Jalaluddin Rumi.

Berbahagialah, pada saat ini kita menjadi orang-orang terpilih yang  masih diberi kesempatan menikmati hidangan yang disuguhkan Sang Maharaja. Kita harus bersyukur kepada-Nya. Salah satu wujud dari  bersyukur adalah menggunakan setiap kesempatan yang  Ia berikan kepada kita dipakai untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Memperbaiki niat, akhlak, dan mengimplementasikan nilai-nilai ibadah ritual dalam kehidupan sosial.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...