Mengukur Kapasitas Gerakan Barat Selatan Aceh

Mengukur Kapasitas Gerakan Barat Selatan Aceh
Fitriadilanta

Pantang pulang sebelum padam, Sekali layar berkembang, surut kita berpantang. Itulah slogan-slogan perjuangan yang dilontarkan dalam menyemangati sebuah gerakan, biasanya dampak dari slogan itu meningkatkan komitmen perjuangan.

Sekedar ‘melawan lupa’ tentang sejarah pergerakan di Aceh, Almarhum Tgk Hasan Tiro merupakan sosok pahlawan berarti bagi Aceh, dimana beliau merupakan pejuang yang berani meninggalkan kepastian di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hasan Tiro umumkan dirinya sebagai Duta Aceh bukan Duta Indonesia.

Jika kita lihat dari fasilitas  diberikan Negara di masa itu, mungkin tidak lagi mengambil resiko. Namun, bagi patriotisme yang didasari moral meyakini betul bahwa rezeki sudah Allah SWT lukiskan untuknya dan tidak akan meninggal dunia sebelum rezeki terakhir dimakannya. Itulah, jiwa pejuang patut dikenang seperti pahlawan Aceh lainnya dimasa lalu.

Semangat perjuangan terus mengalir ke generasi hari ini, namun banyak sekali yang terkontaminasi dengan degredasi moral. Mau berjuang serius, tapi bisa dihentikan di tengah jalan oleh mereka yang punya kekuasaan dan kekayaan. Mudah dicuci otaknya, sehingga sering bentrok sesama dalam melawan Neoliberalisme

Itulah salah satu sejarah yang terukir indah di kepala saya, selama mengamati pergerakan barat selatan Aceh. Banyak disuarakan, namun sangat sedikit tercapai tujuannya dan tidak jarang bentrok komunikasi sesama insan pergerakan yang terhimpun dalam wadah atau persatuan, akibat membela penguasa karena menjaga perasaan alias hutang budi kaedahnya

Tuntutan masyarakat barat selatan seperti angin topan, terkadang seperti banjir bandang dan sesekali datang bisa menghanyutkan rumah warga, bukan seperti ombak di lautan, aktif dan tidak pernah berhenti mengejar pantai. Konsisten dan tidak dapat dihentikan dengan kenduri laot yang sering di buat nelayan, bahkan pada saatnya volume membesar mampu mengikis pantai hingga mengejutkan sejumlah orang.

Sedih memang. Gerakan barat selatan Aceh puluhan tahun direspon secara pelan, beda dengan suara saudara kita di timur utara dan tengah tenggara, mereka tidak merusak barisan, kepentingan masyarakat lemah dijadikan modal pergerakan dan tidak ribut sesama karena kedekatan dengan penguasa serta tidak saling serang akibat beda haluan. Tapi, kepentingan umum dipahat bersama wajib disuarakan siapapun penguasanya.

Dasar itulah, komitmen perjuangan mereka, sehingga memiliki kekuatan lebih dari kita. Mereka memiliki perguruan tinggi sampai ke Langsa, mereka juga punya angkutan umum berkelas internasional karena jalan begitu lebar dan mereka punya kota kecamatan sebanding dengan ibukota kabupaten kita, mereka juga punya pelabuhan exspor impor, punya rel kereta api, punya waduk petani, punya SDM handal dan punya pemberontak yang konsisten, punya tim loby ulung, jalan tol bebas hambatan dan kini secara perlahan mulai menguasai perusahaan dan pemerintahan barat selatan Aceh.

Lalu apa keberhasilan masyarakat barat selatan Aceh? Kita meninggal saja masih sangat tradisional yakni di terkam buaya, di injak gajah, hanyut ke laut akibat banjir dan sejumlah tragedi lainnya yang sangat miris. Banyak SDM dikuasai orang, diberi jabatan. Namun bekerja harus sesuai arahan, bila membangkang biasanya usia jabatan singkat. Itulah yang sangat ditakuti kaum Borjuis, maka selalu tunduk dan patuh menjadi tradisi sejumlah intelektual barat selatan Aceh selama ini.

Dasar catatan itulah, akhirnya  tuntutan  Pemekaran Propinsi Aceh Barat Selatan (ABAS) yang akhirnya ketua pergerakan H.Tjut Agam memilih di lantik  menjadi Ketua Majelis Adat Aceh ( MAA) Aceh Barat, karena tidak sanggup melawan arus godaan. Banyak panitia pemekaran tidak bersuara, lain lagi dengan tuntutan barisan muda terkait  pembangunan Terowongan Gunung Geurutee,  kemudian muncul tuntutan pemekaran kabupaten/kota, disusul dengan trend kekinian tuntutan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sementara kota Lhoksemawe telah ditetapkan sebagai KEK, meski dalam pengembangannya masih terkendala dan belum jalan sebagaimana diharapkan. Sebenarnya, mudah saja meyakinkannya Plt Gubernur karena sejumlah tokoh sentral barat selatan berada di barisan Nova. 

Lalu apa kendala? Prediksi kita mereka hanya mendengar apa selera tuan, jangan terlalu kencang nanti bisa dicabut kunci ditengah jalan hingga berakibat dijauhi orang. Maka, walaupun itu diakui sangat dibutuhkan barat selatan Aceh, tapi demi nyaman jabatan. Solusinya ya diam.

Jika kita perhatikan komentar Plt.Gubernur Nova Iriansyah diberbagai media, baik tuntutan pembangunan terowongan Geurute maupun Kawasan Ekonomi di barat selatan Aceh, apalagi angin pemekaran, sepertinya tidak ada satu orangpun yang disegani jangankan dibilang ditakuti.

Berkali-kali diwawancarai wartawan, namun jawabannya Gureutee tetap tidak diprioritaskan, padahal  keinginan pembangunannya bertahun-tahun telah disuarakan. Meski longsor-longsor kecil sering terjadi dalam waktu berdekatan, orang meninggal akibat jatuh ke jurang, tabrakan rentan terjadi karena sempitnya elakan di sepanjang jalan Gunung Gureutee. Namun, peristiwa itu bagai angin lalu dan tidak menjadi perhatian pimpinan negeri ini.

Sebagai pemuda barat selatan Aceh, saya mengharapkan kepada seluruh warga, memohon kepada ulama, eks kombantan, Forkab maupun tokoh intelektual asal barat selatan Aceh, rapatkan barisan demi kepentingan bersama. Jangan pesimis dengan hasil perjuangan, Gubernur Aceh bisa menyampaikan ke pemerintah pusat jika arus tuntutan mengalir deras. Semua boleh kita minta, jangan kita ukur uang negaranya.

Sekadar kita tahu, sampai hari ini barat selatan Aceh terus tertinggal dalam berbagai hal. Pelabuhan jadi tempat jualan eskrim, jalan mulai rusak, sejumlah jembatan terancam putus. Dekat dengan Nova Iriansyah bukan berarti tak boleh ‘bicara’, jangan sampai masa jabatan habis baru terbuka mata dan menyesal sepanjang hidup.

Oooh..wilayahku tercinta, lahirkan tokoh-tokoh yang kuat dan punya komitmen untuk membangun negeri bagi masa depan anak cucunya.

Fitriadilanta, Ketua Umum Forum Komunitas Muda Barat Selatan Aceh (Forum KMBSA).

Komentar

Loading...