Mengoptimalkan Waktu

Mengoptimalkan Waktu
Ilustrasi.net

SEORANG anak yang baru menginjak dewasa bertanya kepada ayahnya yang bijak. “Ayah, mungkinkah seseorang mampu tidak berbuat dosa sama sekali sepanjang hidupnya?”

Sang ayah menatap anaknya yang bertanya sangat aneh untuk seukuran umurnya.  Kemudian sang ayah menjawabnya dengan bijak.

“Anakku, seseorang, manusia biasa, tak mungkin dapat hidup terbebas dari perbuatan dosa dan kekeliruan.”

Nampaknya sang anak merasa tak puas dengan jawaban sang ayah. Kemudian ia menyusul lagi dengan pertanyaan,”Bagaimana jika dalam setahun, mungkinkah seseorang dapat hidup tanpa berbuat dosa dan kekeliruan sama sekali?”

”Tak mungkin, anakku. Kita manusia biasa yang bisa berbuat benar, bisa pula berbuat khilaf.” Jawab sang ayah.

Sang anak semakin penasaran dan tak puas dengan jawaban  ayahnya. ”Bagaimana jika dalam sebulan, mungkinkah seseorang dapat hidup tanpa berbuat dosa sama sekali?”

”Tak mungkin, anakku!” Kini jawaban sang ayah pendek dan tegas.

Sang anak mengernyitkan dahinya, kemudian meneruskan lagi pertanyaan berikutnya. Jika seumur hidup, setahun, dan sebulan, seseorang tak mungkin tanpa berbuat dosa, akan mampukah seseorang dalam sehari terbebas dari perbuatan dosa?”

”Nah, yang ini kalau sungguh-sungguh, mungkin bisa nak!” Jawab ayahnya.

Sang anak mulai nampak senang dengan jawaban ayahnya. Kemudian sang anak melanjutkan pertanyaannya kembali, ”Lalu akan mampukah seseorang bisa hidup dalam satu jam tanpa berbuat dosa sama sekali, waktu demi waktu ia perhatikan tanpa berbuat dosa, bisakah ayah?”

Ayahnya tertawa dan menjawab, ”Nah...! Kalau itu, ayah yakin semua orang pasti bisa. Syaratnya memperhatikan waktu demi waktu, detik demi detik, menit demi menit.”

Sang anak kali ini merasa puas dengan jawaban ayahnya. ”Kalau begitu, aku akan memperhatikan waktu demi waktu, menit demi menit, momen demi momen supaya aku dapat belajar tidak berbuat dosa.”

Sungguh berbahagia jika kita dapat hidup seperti yang disebutkan sang anak dalam dialog dengan ayahnya tersebut. Waktu demi waktu, momen demi momen benar-benar diperhatikan untuk berbuat kebaikan dan menghapus dosa-dosa kita. Namun sayang, waktu demi waktu berjalan, tergilas dengan berbagai kesibukan.

Kita sudah jarang memperhatikan apakah perbuatan kita, kata-kata kita tergolong perbuatan dosa atau tidak. Karena kesibukan, kita tak lagi memiliki waktu khusus untuk melakukan muhasabah. Istigfar pun hanya sekedarnya saja.  Jangankan mencucurkan air mata atau dihayati, membacanya saja tergesa-gesa.

Ketika memberikan ulasan terhadap Q. S.al-Ashr, Imam Syafi’i berkata, ”Seandainya  manusia merenungkan kandungan surat ini, cukuplah satu surat ini saja sebagai pedoman hidup.”

Amr bin Ash yang ketika turunnya Q. S.al-Ashr belum masuk Islam dan masih membenci Nabi Muhammad saw, namun hatinya bergetar ketika membaca surat tersebut. Ia mengaku dengan jujur, al-Qur’an mengandung kata-kata yang singkat dengan kandungan makna yang dalam. Amr bin Ash mengomentari Q. S.al-Ashr ini dengan sebutan suratun wajizatun balighatun, surat pendek yang penuh makna dan menggetarkan.

Inti dari Q. S. al-Ashr ini adalah memberikan tuntunan kepada kita agar mampu mengoptimalkan waktu, digunakan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan. Seoptimal mungkin kita harus berusaha menjauhi perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Berkenaan dengan mengoptimalkan waktu, dalam suhuf  Ibrahim disebutkan, ”Sepantasnya bagi orang-orang yang berakal, selama tidak terkalahkan akalnya, mempunyai empat saat. Satu saat untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, satu saat untuk mengoreksi dirinya, satu saat untuk bertafakur tentang ciptaan Allah swt, dan satu saat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.” (H.R. Ibnu Hibban).

Disadari ataupun tidak, saat untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan hiburan menempati porsi terbesar dalam kehidupan kita. Sementara muhasabah, mengoreksi kesalahan diri sangat sedikit porsinya dalam kehidupan kita. Padahal sebagai manusia biasa yang tak luput dari perbuatan dosa, muhasabah sangat diperlukan untuk memperbaiki diri.

Jangan merasa aman tatkala kita berbuat dosa atau maksiat. Setiap perbuatan dosa yang kita lakukan, pasti akan ada akibatnya. Perbuatan dosa itu ibarat racun yang masuk ke dalam tubuh. Meskipun sedikit, lambat laun akan mempengaruhi  kinerja tubuh.

Sekecil apapun, perbuatan dosa yang kita lakukan akan berpengaruh terhadap jiwa. Perbuatan dosa yang kita lakukan akan mempengaruhi tingkat spiritualitas. Lebih jauhnya lagi akan berpengaruh kepada kehidupan. ”Sesungguhnya seseorang akan terhalang rezekinya karena dosa-dosa yang diperbuatnya.” (H.R. Ibnu Hibban).

Jangan terlena dalam kubangan perbuatan dosa. Ketika kita terjerembab ke dalam lumpur kemaksiatan, kita harus menangis, bertaubat,  takut akan azab dan siksaan-Nya.

Syekh Ibnu ath-Thaillah berkata, ”Hendaknya kalian merasa takut kepada Allah, jika kalian selalu mendapatkan karunia dan pertolongan Allah, sementara kalian tetap berkubang dalam perbuatan maksiat kepada-Nya. Bisa jadi karunia dan pertolongan yang diberikan Allah kepadamu merupakan istidraj (membiarkan kamu bersenang-senang dan terperdaya).” 

Seorang mukmin yang taat akan merasa tak tentram jika dirinya terlena dalam kubangan dosa. Ia akan segera bangkit, taubat, mengucap istighfar memohon ampunan-Nya.

”Sesungguhnya seorang mukmin itu apabila melihat dosa-dosanya seperti seorang yang duduk di bawah lereng gunung. Dia akan merasa takut terkena reruntuhan gunung tersebut. Adapun orang yang durhaka bila melihat dosa-dosanya seperti melihat lalat yang bertengger di hidungnya (dianggap ringan, tak berbahaya).” (H.R. Bukhari).

Seorang ulama sufi mengatakan, umur yang kita miliki itu ibarat lembaran-lembaran ajal yang kita buka setiap saat. Entah berapa lembar lagi jatah waktu kita mendekati ajal. Semua itu rahasia Allah swt semata. Untuk itu, sangatlah arif apabila kita mengoptimalkan umur atau waktu yang kita miliki untuk kebaikan semata.

Tak terasa, kini kita sudah berada di penghujung tahun 2020. Satu bulan lagi ke depan kita akan memasuki tahun baru 2021. Sudah saatnya kita menghitung-hitung amal perbuatan kita selama satu tahun ke belakang. Selayaknya kita melakukan muhasabah atas segala amal perbuatan kita. Sungguh suatu rahasia Allah, apakah kita masih diizinkan-Nya untuk menghirup udara kehidupan pada tahun depan?

”Demi waktu! Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Q.S. 103 : 1-3).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Covid-19 Aceh Timur

Komentar

Loading...