Menghidupkan Spirit Ibadah

Menghidupkan Spirit Ibadah
ilustrasi/iStockphoto/Zeferli)

SELAIN mengucapkan dua kalimah syahadat, ibadah-ibadah pokok yang terdapat dalam rukun Islam dibatasi waktu. Secara formal, kita tak bisa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut di luar batas waktu yang telah ditentukan, kecuali jika ada alasan syar’i atau hukum yang membolehkannya.

Ibadah shalat wajib hanya syah dilakukan tepat pada waktunya, kecuali dalam keadaan darurat seperti ketika di perjalanan. Pelaksanaannya boleh digabungkan (shalat jamak) atau jumlah rakaatnya diringkas (shalat qashar).

Pelaksanaan ibadah shaum wajib hanya ada pada bulan Ramadhan. Shaum ini wajib ini hanya boleh dilaksanakan di luar Ramadhan bagi orang yang melaksanakan qadha.

Demikian pula dengan ibadah zakat dan ibadah haji. Ibadah zakat fitrah hanya boleh dilakukan pada saat menjelang Idul Fithri, dikeluarkan sebelum melaksanakan shalat sunat Idul Fithri. Menunaikan zakat lainnya pun tetap dibatasi waktu, yakni haul. Harta benda yang akan kita keluarkan zakatnya harus sudah mencapai perhitungan satu tahun, dan memenuhi nishab atau kewajiban mengeluarkan zakat.

Sementara ibadah haji hanya boleh dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, dan puncak ibadahnya  hanya satu hari, yakni tanggal 9 Dzulhijjah yang kita kenal dengan hari wukuf di ‘Arafah. Berdasarkan hadits-hadits Nabi saw, tidak sah ibadah haji seseorang yang tidak wukuf di Arafah.

Selain dalam ibadah-ibadah wajib tersebut, beberapa ibadah sunat pun dibatasi dengan waktu.

Penyembelihan hewan qurban tak bisa dilakukan sembarang waktu. Waktunya dibatasi dari tanggal 9 – 13 Dzulhijjah. Demikian pula dengan shalat tahajud, shalat dhuha, dan beberapa ibadah sunat lainnya terikat dengan ketentuan syarat dan waktunya.

Berdasarkan formalitas waktunya,  pelaksanaan ibadah-ibadah dalam Islam sangat sempit, hanya ibadah shaum Ramadhan saja yang terlama waktu pelaksanaannya. Namun demikian, esensi terpenting dari ibadah-ibadah dalam Islam adalah mengambil saripatinya, nilai-nilai spiritualnya.

Ibadah apapun yang kita laksanakan, baik yang hukumnya wajib maupun sunat harus menjadi pewarna kehidupan. Kita harus cerdas menyerap nilai-nilai spiritualya yang  kemudian kita pergunakan  sebagai ruh dalam memperbaiki kualitas diri dan kemanusiaan dalam berbagai  aspek kehidupan.

Ibadah shalat yang kita laksanakan harus menjadikan diri kita semakin disiplin, semakin menyadari akan kelemahan diri, kemudian tergerak untuk melakukan penyerahan diri kita kepada Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa sebagaimana selalu diikrarkan pada  awal shalat. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku, aku serahkan semuanya kepada-Mu, Tuhan Pemelihara alam raya.”

Salah satu spirit dari ibadah shalat adalah penyerahan total jiwa raga kita kepada Allah. Apapun yang kita usahakan, keberhasilan,  dan kegagalannya tak akan terlepas dari garis-garis kehidupan yang telah Allah tentukan. Kita tak memiliki kekuasaan sedikitpun untuk melawan segala ketentuan hidup yang sudah ada dalam catatan kekuasaan-Nya. Karena kelemahan yang kita miliki, Allah memerintahkan kepada kita untuk memohon pertolongan-Nya melalui pelaksanaan ibadah shalat.

Menjaga lisan, hanya mengeluarkan kata-kata yang baik dan sesuai ketentuan merupakan spirit selanjutnya dari ibadah shalat. Spirit ini harus dipraktikan dalam hidup keseharian. Kehidupan kita akan damai dan nyaman jika kita mampun menjaga lisan dan menggunakannya hanya untuk berbicara dengan cara yang baik dan mengandung kebaikan yang tidak melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Seperti halnya dengan ibadah shalat, esensi dari  ibadah shaum yang kita laksanakan adalah kemampuan kita dalam  mengendalikan hawa nafsu. Menahan lapar dan dahaga ketika melaksanakan ibadah shaum merupakan perbuatan berat, namun demikian,  mengendalikan  hati, mengendalikan hawa nafsu,   dan panca indra ketika melaksanakan ibadah shaum merupakan perbuatan yang lebih berat.

Untuk sekedar menahan lapar dan dahaga, jangankan orang dewasa, anak kecil pun mampu melaksanakannya. Dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari banyak orang yang lulus melewatinya. Namun, tidak semua orang yang melaksanakan ibadah shaum dapat lulus dan lolos dari jeratan hawa nafsu yang ada pada jiwanya.

Lebih berat lagi, esensi ibadah shaum harus tetap menjadi spirit dalam menunaikkan  amanah kehidupan kita di dunia ini. Kita harus mampu menahan diri dari perbuatan yang akan menodai diri,  menodai nilai-nilai ketuhanan,  dan menodai nilai-nilai luhur kemanusiaan. Spirit kedekatan kita kepada Allah dan spirit kedermawanan kita harus tetap ada seperti ketika kita tengah melaksanakan ibadah shaum Ramadhan. 

Namun, jika disadari secara jujur, pada umumnya kita belum mampu menghidupkan spirit ibadah shaum dalam kehidupan kita. Spirit ibadah shaum Ramadhan menjadi “produk keshalehan edisi terbatas”, shaleh limited edition.  Sehingga pantaslah jika Rasulullah saw mengatkan, banyak orang yang melaksanakan ibadah shaum, namun tak ada nilai apapun dari ibadah shaumnya tersebut, selain lapar dan dahaga saja. Tapak-tapak ibadah shaum tak nampak dalam kehidupan kesehariannya.

Demikian pula dengan ibadah zakat. Esensinya bukan hanya terletak pada ukuran waktu dan kuantitas barang atau uang zakat yang dikeluarkannya. Namun esensi terpentingnya adalah kesadaran diri kita dalam memenuhi seruan dan perintah Allah untuk menolong sesama makhluk Allah, terutama sesama manusia.

Esensi utama dari zakat adalah kesediaan diri kita untuk dapat hidup saling menolong, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Orang-orang  yang benar-benar memahami nilai-nilai esensi dari zakat, ia tak akan menunggu waktu formal dalam mengeluarkan sebagian hartanya untuk dipakai membantu meringankan beban kehidupan orang lain.

Sementara esensi utama dari ibadah haji yang kita  lakukan adalah puncak dari kesadaran diri kita dalam menjalani kehidupan kita. Setinggi apapun kekuasaan yang kita miliki, sebanyak apapun harta yang kita kuasai, sehebat dan seindah apapun bentuk tubuh yang kita miliki, pada akhirnya semuanya tak akan bernilai-nilai apa-apa. Kita akan kembali kepada Allah dengan hanya membawa beberapa lembar kain kapan sebagai pembalut tubuh  yang seiring waktu akan membusuk mengiringi hancur leburnya  tubuh  kita di dalam kubur.

Satu hal yang berharga dari kehidupan yang kita jalani selama di dunia adalah spirit kehidupan itu sendiri. Spirit kehidupan itu tiada lain adalah ibadah yang spiritnya kita implementasikan dalam kehidupan nyata.

Akhlak yang baik, nilai-nilai kemanusiaan yang kita tebar, perbuatan baik yang kita berikan kepada semua orang, harta yang kita berikan untuk kepentingan agama dan kemanusiaan, serta berbagai perbuatan shaleh lainnya, menjadi teman setia yang akan menjadi pembela ketika kita menghadapi persidangan di hadapan Allah. Semua perbuatan baik kita akan menjadi saksi yang meringankan di hadapan pengadilan Allah swt sampai Ia menjatuhkan vonis  kepada kita sebagai orang yang baik, selamat, dan menjadi penghuni sorga-Nya.

Oleh karena itu, disamping kita melaksanakan ibadah-ibadah yang secara formalistik dibatasi ruang dan waktu, kita pun harus berupaya keras mengimplementasikan semua spirit dari ibadah yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.  Tentu saja kita harus berupaya keras untuk  mewujudkannya seraya tidak lupa memohon petunjuk dan pertolongan-Nya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. ***

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...